
Setelah menghilangkan kutukan di kota ini aku bersama pelayanku dipanggil ke aula tengah katedral, keempat Arch Priest terlihat sangat bersyukur bahwa serangan ini berakhir tanpa ada korban jiwa.
Sebagai rasa terima kasih mereka memberikanku banyak uang namun aku dengan percaya diri menolaknya dan ingin mengganti hadiah tersebut dengan patung yang ada di belakang mereka.
Keempatnya sangat terkejut, mereka bergantian berbicara bahwa patung itu sangat berbahaya dimana telah menelan banyak korban penggunanya, kendati demikian aku jelas tak mundur, saat aku menyentuh patung itu status menuku tiba-tiba muncul sementara patungnya sendiri menghilang.
[Extra Skill diperoleh-->Penghakiman---> membunuh semua musuh yang bersalah, jika pengguna tidak bisa menahan emosinya efek akan berbalik]
Kurasa skill seperti ini menarik.
***
Pulau Langit Kediaman Malaikat.
Situasi sekarang.
Setelah membantai para iblis yang mencoba menyerang para malaikat, aku Haru Kazuya telah beristirahat di pemandian luas yang nyaman.
Baru datang aku sudah dilibatkan dengan hal merepotkan tapi syukurlah semuanya telah selesai, tinggal menunggu raja Iblis menyerang lalu menyelesaikan ini selamanya.
Setelah selesai, di luar kamar mandi Gabriela telah membawakan pakaian ganti untukku, itu berupa pakaian serba hitam yang ditutup dengan mantel sepanjang lutut serta sarung tangan untuk menutupi kedua tanganku.
"Aku seperti orang jahat," teriakku.
"Ini cocok untuk tuan, hanya orang yang tidak berperikemanusiaan saja yang mampu membunuh iblis sekali tebasan."
"Lalu pakaianku yang lama."
"Sudah dibakar."
__ADS_1
Aku menjatuhkan bahuku lemas lalu berjalan mengikuti Gabriela di depan untuk makan malam bersama dengan kedua malaikat tinggi lainnya.
Hidangan yang enak telah tersaji di atas meja yang hampir seluruhnya adalah bahan makanan atas.
"Kalian memiliki lobster juga."
"Makanlah sebanyak yang kau suka," kata Ferida mempersilahkan.
Aku jelas tidak melewatkan hal seperti ini.
"Tuan tolong pelan-pelan saja."
Gabriela yang duduk di sebelahku dengan ringan mengelap mulutku dengan sapu tangan.
"Jika dilihat sekilas kalian malah mirip pasangan suami istri," atas pernyataan Nal aku hanya tersenyum ragu dan kembali makan.
Sampai dia melanjutkan.
"Awalnya aku juga takut tapi setelah kupikirkan aku ingin melindungi semuanya dan menyelamatkan dunia ini," aku berkata itu dengan sikap keren.
"Bukannya tuan terpaksa."
Aku segera menutup mulut Gabriela, dia mungkin tahu dari Selly dan Sella.
Ferida dan Nal hanya memiringkan kepala mereka. kebingungan.
Hingga raja iblis tiba pagi berikutnya aku berjalan-jalan bersama Gabriela di kota, berbeda dengan kedua pelayanku yang membuat masalah, Gabriel hanya mengikutiku dari belakang untuk mengawasiku, aku sangat kagum dengannya.
Dia adalah seorang malaikat tinggi tapi dia masih mau menjadi pelayanku, kebanyakan orang yang kami lewati tak kurang membicarakannya tapi dia tidak menggubrisnya seolah membiarkan hal itu berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Kau yakin akan berdiri di belakangku saja?"
"Ini adalah pertahanan diri."
"Apaan itu?"
"Tuan ini mesum dan aku takut kalau dilecehkan di depan umum."
"Percayalah sedikit pada majikanmu."
"Aku mendengar bahwa tuan menggepre dada seseorang di kota suci."
"Itu keadaan yang sulit dikendalikan," balasku asal-asalan hingga Gabriela memicingkan mata melirikku seperti seekor serangga busuk.
"Entah kenapa, aku minta maaf," kataku lemas.
Aku berhenti tepat di depan warung penjual makanan siap saji, bentuknya seperti hamburger kecuali tanpa daging dan hanya dipenuhi sayuran.
"Tolong dua."
"Okay."
Aku memberikan salah satunya pada Gabriela.
"Untukku?"
"Tentu saja, ayo pergi."
"Um."
__ADS_1
Seberapa menakutkan wanita, mereka selalu memiliki sisi lembut yang tersembunyi.