
Pagi berikutnya aku dibawa terbang oleh Rin menuju tempat yang dikatakan Fate, dari atas sini aku bisa melihat tempat bagi para orang mati yang pernah aku masuki.
Sebagai orang hidup kami dilarang memasukinya, bahkan berkatku penanda telah ditempel di sekelilingnya.
Rin bertanya ke arahku saat kami berdua melewati beberapa gunung.
"Tuan, aku pernah melihat pertandingan bela diri... orang itu di awal sangat kuat namun saat melawan orang lemah dia malah kerepotan dan kalah? Apa itu hanya kebetulan?"
"Itu memang wajar, kemenangan tidak hanya ditentukan seberapa mereka memiliki kekuatan, terkadang faktor strategi, keberuntungan serta situasi lain bisa mempengaruhi."
Aku diam sejenak lalu melanjutkan.
"Terkadang di beberapa situasi, aku juga kesulitan saat melawan orang lemah di bawahku."
"Jadi begitu."
Beberapa saat kemudian pulau yang dimaksud tampak terlihat dari kejauhan. Pulau itu terpisah dari daratan dan berada tengah laut yang memancarkan warna biru berkilauan.
"Aku akan menambah kecepatan."
Kami melesat menembus awan hingga akhirnya mendarat di tempat yang kuminta pada Rin.
Itu adalah pemakaman yang dipenuhi berbagai batu nisan.
"Ini..."
Sebuah suara terdengar dari arah belakangku.
"Ada yang bisa kubantu untuk kalian?"
Kami berdua berbalik dan menemukan seorang wanita berdiri di sana, ia memiliki rambut pirang panjang serta tubuh langsing yang mampu memikat siapapun yang melihatnya.
Wajahnya juga sangat cantik seperti sebuah boneka hidup.
Awalnya kupikir Amnestha orang yang paling mesum yang kutemui namun sekarang julukan itu akan lebih cocok kuberikan padanya.
__ADS_1
Jelas dia tidak memakai apapun kecuali rambut pirangnya yang melingkar yang menutupi bagian tubuh pentingnya.
Mata yang berwarna merah itu juga sangat memikat, walau ras vampir penampilannya sama sekali tidak terlihat menakutkan.
"Kami ingin bertemu Katharina Hellson, apa kami bisa menemuinya?" jawabku demikian.
"Apa kalian punya urusan dengannya? Soalnya di sampingmu juga vampir kan?"
"Benar sekali, namaku Kazuya dan ini pelayanku Rin... kami datang kemari ingin berbicara dengannya untuk menawari bantuan?"
"Bantuan? Kebetulan aku sendiri orang bernama Katharina Hellson, silahkan ikut aku... kita bisa berbicara di tempat yang lebih baik."
Aku dan Rin menerobos semak-semak selagi mengikutinya dari belakang.
"Ngomong-ngomong Katharina, kenapa kau telanjang?"
"Apa ini aneh?"
"Sudah jelas kan."
Kini aku semakin curiga, mungkin saja seluruh rekannya juga sama.
Aku tiba di sebuah perkampungan kecil yang dihuni sekitar 15 orang terdiri dari berbagai umur.
Rasanya lega saat tahu bahwa mereka ternyata masih mengenakan pakaiannya, aku pernah mendengar bahwa orang suci atau orang kuat sekelas Sage juga tidak mengenakan pakaian.
Mungkin hal ini juga serupa dengan yang ditujukan Katharina.
Kami dipersilahkan masuk ke dalam kediamannya yang terbuat dari anyaman bambu serta dedaunan kering.
"Aku akan membuatkan teh, jadi tolong tunggu sebentar."
Mengesampingkan penampilannya, tempat ini terasa nyaman, karena pintunya sendiri hanya tertutup kain angin bisa masuk ke dalam jadi walau ada di tengah laut udara panas masih bisa teratasi dengan baik.
Katharina muncul dengan teh yang dia hidangkan ke dekat kami.
__ADS_1
Aku menyeruputnya sedikit sebagai tatakrama lalu mulai menjelaskan.
"Sebenarnya aku ingin meminta kalian semua untuk ikut denganku, aku bisa memberikan rumah untuk semuanya yang jauh lebih baik."
Ekpresi Katharina tampak terkejut kendati demikian, dia tidak langsung mempercayainya dan kembali bertanya ke arahku.
"Kami ini vampir, apa mungkin kau mau membantu kami?'
Rin yang menjawabnya.
"Tuanku tidak berbohong, dia sungguh-sungguh ingin membantu kalian, aku sempat berfikir bahwa hanya aku saja vampir yang masih hidup, tapi syukurlah kalian masih bisa bertahan sampai sekarang."
"Jumlah kami awalnya sangat banyak hingga hanya sebanyak inilah yang masih hidup."
"Soal kuburan itu?" potongku demikian.
"Kami membunuh diri kami sendiri agar persediaan makanan kami cukup untuk semuanya."
Ini sangat menyedihkan.
Aku berdiri dan berkata.
"Ikutlah denganku, aku akan melindungi kalian bahkan jika itu nyawa sebagai taruhan."
Katharina tersenyum sinis.
"Melindungi, memangnya kau ini sangat kuat, jika demikian kalahkan aku baru aku mempercayainya."
"Biar aku saja yang menggantikan tuan."
"Tak apa Rin, aku saja.."
"Tapi?"
Semenjak aku melawan Alexius kekuatanku jelas telah menurun pesat, sekarang mungkin aku hanya bisa bergantung pada skill mata jahatku, akan tetapi itu pasti bukan hal mudah untuk menghadapi seorang leluhur vampir sekelas Katharina.
__ADS_1