Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 28 : Putri Dari Kerajaan Ini


__ADS_3

Dipandu oleh Elona aku telah tiba di sebuah gubuk di dalam hutan, gubuk itu terlihat sudah lama ditinggalkan. Paling tidak itulah yang mereka rencanakan.


Elona mengetuk dinding kayu itu di beberapa tempat dan kemudian lantai terbuka menampilkan tangga menuju bawah tanah dimana terdapat sebuah lorong juga yang terhubung dengan ruangan kecil jauh di depannya.


Saat Elona membukanya sosok putri terlihat sedang duduk santai, beberapa wanita berpakaian hitam juga turut melayaninya.


"Hormatku pada tuan putri Felisa."


"Siapa kau?" tanyanya.


"Namaku Elona sayalah yang meminta anak buah saya untuk menangkap Anda."


"Jadi kau pemimpinnya... kudengar kau berada di pihakku."


"Sejujurnya semua ini direncanakan orang ini."


Sekarang keduanya melirik ke arahku.


"Bisakah kau mengatakannya lebih baik lagi, sekarang aku merasa dianggap seorang penjahat."


Elona hanya menjulurkan lidahnya padaku.


"Namaku Haru Kazuya, kau bisa memanggilku Kazuya saja, aku juga salah satu pahlawan yang dikirim oleh Dewi Ristal."


"Pahlawan?"


"Jangan salah paham, kami antar pahlawan tidak berteman atau memiliki hubungan apapun, kami dikirim oleh Dewi berbeda."


Felisa mengangguk kecil sementara Elona malah terkejut.


"Kenapa aku baru tahu soal itu?"


"Aku berencana menutupinya tapi karena sudah seperti ini kurasa tak apa mengatakannya."

__ADS_1


"Sepertinya begitu."


"Lalu apa yang kalian berdua inginkan?"


"Aku sudah mendengar keseluruhan apa yang terjadi, kurasa aku akan membantumu mengembalikan kerajaanmu."


"Boleh aku tahu apa keuntungan yang kau terima dari melakukan ini?"


Aku mengangkat bahuku ringan lalu berkata.


"Sebenarnya aku memutuskan tinggal di sini dan membuat desa, akan lebih baik kalau kita memiliki anggota kerajaan yang memberikan perlakuan baik pada rakyatnya dibanding orang itu yang pandai meniduri wanita."


"Maksudmu pahlawan Heis?"


"Benar, kau membencinya."


"Aku membencinya, aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri.. kerajaan yang suci kini telah ternoda olehnya."


"Karena itulah kami berdua akan membantu."


"Tolong ajari aku bertarung?"


"Kau seorang putri, tidak seharusnya menggunakan pedang."


"Aku sudah membulatkan tekadku untuk bertarung di garis depan."


Aku mengalihkan pandangan ke arah Elona.


"Bagaimana sekarang?"


"Bagaimana apanya? Kau pemimpinnya di sini."


"Kukira kau ingin memberikan masukan."

__ADS_1


"Yah, aku hanya akan setuju saja denganmu meskipun masuk ke dalam neraka sekalipun."


Kesetiaan yang mengerikan.


"Dibanding ke neraka aku lebih suka masuk surga," balasku lemas lalu melanjutkan.


"Apa boleh buat kau bisa ikut dengan kami, Elona mengelola bar. Kau bisa berkerja di sana sebagai penyamaran selagi berlatih bertarung dengannya."


"Aku tidak keberatan, bagaimana denganmu?"


"Akan kulakukan, aku akan merebut kembali kerajaanku... berikan aku pisau," atas pernyataan Felisa, Elona mengangguk ke arah anak buahnya yang lalu memberikan pisau miliknya.


Felisa berdiri dan tanpa ragu memotong rambutnya pirangnya menjadi sebahu.


"Dengan ini aku bersumpah akan menghabisinya dengan tanganku."


Dia benar-benar seorang putri yang keras kepala, aku tidak menyalahkannya lagipula si pahlawan tak berguna itu telah merusak kerajaan yang selama ini dibangun oleh keluarga Felisa.


Elona dan Felisa pergi ke bar sementara aku pergi ke daratan tinggi yang akan kujadikan tempat tinggalku, kulihat puluhan pria berotot serta kekar secara bersama-sama sedang membangun dua Masion, sementara di depan mereka pelayanku mengawasi dengan cambuk di tangan mereka.


"Lebih cepat lagi, apa kau mau di cambuk hah," teriak Selly.


"Kyaaa, maafkan aku, tolong cambuk lagi."


"Diam."


Sella pun melakukan hal sama.


"Jika kalian merusak barang tuanku akan kugantung."


"Baik, tolong cambuk kami lagi nona."


"Berisik."

__ADS_1


Aku sepertinya telah salah datang kemari.


__ADS_2