Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 149 : Toko Bunga Untuk Elf Bernama Teresa


__ADS_3

Malam harinya setelah para bangsawan selesai dengan pesta mereka sekarang giliran kami untuk menikmati lobster emas, sebagai ucapan terima kasih kami semua bisa makan secara gratis di sini.


Minerva yang telah kembali juga turut ambil di pesta ini bersama yang lainnya.


Aku duduk di meja kesukaanku selagi meminum tehku, aku sudah terlalu banyak makan lobster hari ini.


Minerva juga duduk di sampingku dengan dua katana menggantung di pinggangnya, aku mengatakan soal kemunculan iblis yang menyerangku hingga dia menghela nafas panjang.


"Jadi orang itu menggunakan cara licik, aku akan membunuhnya dengan tanganku."


"Lalu pedang itu?"


"Ini pedang yang pernah dipakai leluhurku, dengan ini aku akan berhasil."


"Kalian berdua terlalu bersemangat, makalah ini," Elona menaruh apel segar di depan kami berdua.


"Terima kasih."


"Apapun untuk pelangganku."


Aku melirik ke arah para istriku dan mereka saling mengobrol satu sama lain dan sesekali tertawa bersama.


"Mereka sangat akrab, apa yang dua itu calon istrimu juga?"


"Rusina dan Marina hanya tinggal di masionku saja, aku membeli masion dari Rusina dan Marina berkerja di tempatku."


"Begitukah, walau sudah dibeli dia lebih suka tinggal bersamamu."


Aku mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana dengan tempat ini? Akan segera kau rubah menjadi lebih luas."


"Kurasa tidak."


"Apa uangnya masih belum cukup?"


"Malah lebih, aku memutuskan untuk membeli tempat lain di sisi kota yang lebih besar agar bisa langsung dipakai... untuk tempat ini kurasa akan kujual?"


"Benarkah, bisa aku membelinya darimu."


"Aku tidak keberatan, tapi untuk apa?"


"Kupikir aku akan membuat toko bunga."

__ADS_1


"Toko bunga kah? Aku tidak menyangka kau akan membuat seperti itu."


"Bukan untukku tapi untuk Elf yang kukenal."


"Elf?"


Minerva dan Elona memiringkan kepalanya menatapku.


"Selingkuhan?"


"Bukan," potongku ke arah keduanya.


Saat aku pergi dari hutan permen Teresa pernah mengatakan ingin bisa pergi dari hutan miliknya dan hidup sebagai orang biasa di salah satu kota.


Banyak kenangan buruk jika ia kembali ke negaranya karena itu aku akan membawanya kemari untuk tinggal di sini, apa yang disukainya adalah bunga karena itu ide bagus untuk membiarkannya membuka toko seperti itu.


Bersama para istiku keesokan harinya aku mulai menyusun seluruh ruangan dengan pot-pot bunga.


Riel berkata ke arahku.


"Lebih baik suamiku pergi ke sana dulu, biar kami yang menyelesaikannya."


"Kalian yakin?"


Aku kemudian muncul di hutan permen atau tepatnya di sebuah rumah yang terbuat dari kue dan permen, saat aku membuka pintunya sosok Teresa duduk di sana dengan cangkir tehnya.


"Sebelum masuk tolong ketuk pintunya dulu."


"Aku ingin melakukannya tapi biskuit tidak menghasilkan suara yang bisa di dengar olehmu."


"Memang benar."


Aku duduk di kursi depannya yang terbuat dari karamel.


"Aku datang kemari untuk menjemputmu."


"Menjemputku?"


"Aku ingin kau tinggal di kota manusia, di sana kau bisa hidup seperti kebanyakan orang lain."


"Tapi aku Elf."


"Succubus juga tinggal di kota itu, aku sudah menyediakan toko yang bisa kamu tinggali."

__ADS_1


"Aku tidak bisa menerima pemberianmu."


"Aku tidak memberimu, melainkan kau harus membayarnya dengan cicilan sesuai harganya, jangan khawatir jika kau tidak memiliki uang kau bisa membayar cicilannya saat memiliki uang, bukannya kau ingin memiliki toko bunga."


"Kau membuatku agar tidak bisa menolak."


"Aku ini suka memaksa."


Teresa tersenyum kecil.


Aku tidak mengatakan bahwa kami sudah membuat toko bunga untuknya, bagi Terasa hidup bersama banyak orang sangatlah sulit karena itu jika ada satu atau dua orang yang mengenalnya dia akan baik-baik saja.


Setelah menunggunya beres-beres aku menggunakan sihir teleportasi bersamanya, saat pintu toko dibuka para istriku dengan senang menyambut kami berdua.


"Selamat datang, namamu Teresa kah."


"Benar. Heh... ada ratu Elf juga."


"Dia istriku."


"Begitu."


Air mata menetes dari pipi Teresa.


"Terima kasih banyak."


"Ah dia menangis," kata Selly lalu disusul Sella.


"Apa kami menyusunnya tidak bagus."


"Bukan begitu, aku sangat senang."


"Kalian semua cepat bereskan semuanya," teriakku memotong.


"Laksanakan."


"Kau benar-benar orang pemaksa Dewa Kegelapan."


"Panggil saja Kazuya mulai hari ini."


Teresa menatapku lalu memiringkan kepalanya dengan senyuman di wajahnya.


"Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2