
Di kota yang seluruhnya dihuni oleh para malaikat, dua orang berjalan di jalanan utama selagi berbelanja.
Keduanya adalah Ferida dan Nal yang merupakan malaikat tertinggi yang memimpin semuanya.
Ferida berkata.
"Apa Gabriela benar-benar tidak akan kembali ke sini?"
"Dia sudah nyaman hidup di dunia manusia, kita tidak bisa berbuat banyak, yang bisa kita lakukan hanya terus menjaga kedamaian kedua belah pihak."
"Sepertinya begitu."
Ketika mereka melanjutkan perjalanan, jauh di depan mereka sebuah ledakan menggema ke udara, bersamaan dentuman yang keras bagaikan sebuah meriam, asap menyembul ke langit dan dari dalam sana sepuluh ekor raksasa menyeruak menghancurkan setiap bangunan sekelilingnya, satu kaki menginjak satu bangunan sedangkan kepalanya condong ke arah kedua malaikat tinggi.
"Kucing Raksasa. Apa yang terjadi?"
"Kita diserang, cepat amankan seluruh penduduk ke dunia manusia."
"Aku mengerti."
Ferida bergegas ke pusat informasi saat sirene mulai terdengar, sementara itu Nal menggunakan sayapnya melesat menghampiri kucing raksasa bersama beberapa prajurit.
Tak hanya kucing para iblis besar pun bermunculan di setiap kota untuk memakan para malaikat.
"Sial.. semuanya menyebar."
"Baik."
Nal menciptakan tombak besar di tangannya untuk mengincar mata musuh di depannya, sebelum ujung tombak mengenainya seseorang telah menangkapnya dengan mudah.
"Lawanmu adalah aku."
Hanya sekali pukulan Nal diterbangkan jatuh menghantam tanah menciptakan deretan ledakan berurutan. Pria yang memukulnya melayang turun ke bawah.
Dia adalah pria dengan rambut acak-acakan, mantel putih serta pakaian putih pula, hanya sarung tangan yang membungkus kedua lengannya saja yang berwarna hitam.
Nal bangkit dari reruntuhan tanpa mempedulikan darah yang mengucur dari keningnya.
__ADS_1
"Siapa kau?"
"Namaku Horizon, satu dari ketujuh komandan pasukan raja dunia bawah."
"Dunia bawah?"
Nal mengepalkan tangannya melihat keadaan kota yang telah rusak, padahal beberapa menit sebelumnya kota ini terlihat damai.
"Aku tidak akan memaafkan kalian."
Dia kembali menerjang ke depan dengan tombaknya yang diperkuat petir, sementara itu Horizon telah siap dengan kuda-kudanya. Dia mengalirkan seluruh tubuhnya dengan kekuatan hingga mampu menerbangkan kerikil di sekelilingnya.
Saat tinju dan ujung tombak berbenturan sebuah badai petir tercipta seolah merobek langit. Keduanya tertahan satu sama lain tanpa sepatah katapun.
Di saat tubuh Horizon menciptakan asap dia membuka tinjunya untuk menarik ujung tombak sekaligus dengan Nal sendiri ke depan, tepat di momen tersebut tangan lain menghantam wajah Nal membuatnya terpental ke belakang menembus tujuh rumah sekaligus.
BRAK...BRAK...BRAK... DUAR!!
Setengah wajah Nal hancur sementara tangannya sudah tidak bisa digerakkan kembali.
"Apa hanya sebatas ini kekuatan malaikat tinggi, tunjukan yang lebih menarik."
"Maaf Ferida, kurasa aku akan pergi duluan... kau jangan sampai mati."
Nal menciptakan aliran petir di tubuhnya lalu melesat maju, pergerakannya sangat cepat hingga tubuhnya sendiri tak terlihat, Horizon yang mewaspadai hal itu terus mengalihkan pandangannya ke kiri ke kanan, meski begitu Nal sudah muncul di belakangnya untuk menangkap pergerakannya.
"Mustahil?"
"Kau ikut denganku."
"TIIDAAKKKK!!!"
Dari atas langit sebuah petir raksasa dijatuhkan menghantam keduanya, bersamaan hal itu ledakan raksasa berdiameter 50 tercipta menelan seluruh area sekelilingnya, merubahnya menjadi sebuah kawah api.
Ferida yang sebelumnya berlari terdiam selagi melihat ledakan tersebut.
"Nal," suaranya dipenuhi kesedihan kendati demikian tidak ada waktu untuk bersedih dan ia kembali berlari.
__ADS_1
Dibandingkan terbang, dengan berlari musuh tidak akan bisa menemukan lokasi mereka.
"Semuanya ikuti aku," atas teriakannya penduduk mulai mengikutinya dari belakang lalu dia meminta seluruh penduduk masuk ke dalam lubang bawah tanah yang diperuntukkan sebagai pembuangan air."
"Hati-hati, pelan-pelan saja."
Beberapa penjaga mengelilinginya hingga salah satunya bertanya.
"Nona Ferida, di mana tuan Nal?"
"Dia sudah mati, cepat bantu mengamankan semua orang."
"Ba-baik."
Sedangkan dari kawah tersebut sebuah tangan keluar dari tanah hingga seluruh sosoknya muncul seutuhnya.
"Hampir saja, kukira aku akan mati," dia adalah Horizon.
Orang yang dari tadi bersembunyi di dekatnya tertawa, dia wanita bertubuh tinggi dengan gaun pemakaman, rambutnya ikal berantakan.
"Sayang sekali kau tidak mati Horizon."
"Melfia, sejak kapan kau di sana?"
"Sejak awal, kurasa senang melihat teman sendiri mati... jika begitu, aku bisa merubahmu menjadi undead."
"Dasar Necromancer, kita harus segera menghancurkan tempat ini kau juga bekerjalah."
"Padahal bukannya berlebih bahwa kita semua menyerang tempat ini secara bersamaan, satu orang sudah cukup."
"Dasar bodoh, jika kita tidak cepat menghancurkan dunia ini, maka raja dunia bawah akan segera datang dan menghukum kita semua."
"Benar juga."
Melfia mengulurkan tangannya lalu sekitar 100 pasukan tengkorak muncul di bawah kendalinya.
"Bunuh semua orang yang kalian temui."
__ADS_1
Pasukan tengkorak mulai menyebar.