
Kami berdua memutuskan menaiki perahu angsa dan mulai menyisir area waduk ini, tak kusangka bahkan di dunia ini ada benda seperti ini juga.
Kami mulai mengayuh pedalnya hingga perahu kami berjalan maju sedikit lebih jauh dari kota, Dewi Ristal mengambil sebuah kotak yang dia bawa dari kota, tentu di dalamnya banyak makanan manis yang dia beli dengan uangku.
"Aku tidak akan memberikannya padamu."
"Sejujurnya itu uangku."
"Uangmu adalah uangku dan uangku adalah uangku."
Dia tipe istri yang menakutkan.
Aku mendesah pelan selagi menatap pemandangan yang luar biasa ini, hampir seluruh arena ini diselimuti pepohonan jadi apa yang disebut polusi udara sama sekali tidak ada.
Tiba-tiba Dewi Ristal menyodorkan satu kue ke arahku.
"Kurasa satu tidak masalah."
Tingkah lakunya seperti gadis SMA yang malu-malu. Aku senang bisa melihat sisi seperti ini darinya.
Aku mengambil kue itu dengan memasukannya langsung dengan mulutku, hingga Dewi Ristal memerah seolah terkena demam parah, dia beberapa kali melihatku dan kotak manisannya berulang kali.
Apa itu artinya dia ingin disuapi juga?
Aku melakukannya hingga wajahnya terlihat senang, aku ingin menyentuh dadanya namun tanganku tiba-tiba sangat berat seolah dibungkus oleh beton.
"Kau tidak bisa melakukannya tanpa izinku," bahkan ketika berkata itu dia sangat imut.
__ADS_1
Setelah seharian bersenang-senang, aku dan Rusina pulang sebentar ke kediamanku di masion di kerajaan Weisvia.
Para istiku tampak duduk di meja yang sama dan terlihat Dewi Ariel di antara mereka juga, aku sudah memberitahu identitasnya bahkan tentang Dewi Ristal juga.
"Kenapa kalian telihat kelelahan?" mendengar perkataanku mereka semua melompat ke arahku, delapan istri terlalu berat untuk kutangani dan aku jatuh ke lantai.
Selly berkata ke arahku.
"Sungguh menyebalkan tuan Kazuya menghabiskan banyaknya waktu dengan gadis rubah ini."
"Maafkan aku untuk menyela tapi aku sudah bukan gadis lagi, tuan Kazuya telah, telah.."
"Oi, aku tidak melakukan itu."
Pada akhirnya semua istriku menyeretku ke kamar.
Rusina melambaikan tangannya selagi tertawa puas.
"Selamat bersenang-senang."
Orang ini sangat berbahaya.
Pagi berikutnya aku sudah tidak keluar dari kamarku, baru keesokan harinya aku kembali ke kerajaan demi human.
Rusina tidak ikut dan memilih untuk bersenang-senang di masion, sebagai gantinya aku pergi dengan Selly dan Sella.
Aku merasa tidak enak berada terlalu lama di sini terlebih tiga pelayanku kini sedang bertugas di kerajaan Artharissa.
__ADS_1
Kami pindah dalam sekejap dimana Selly dan Sella terus melekat di lenganku, di jalan itu aku berpapasan dengan Guarda yang telah membawa kantong belanjaan.
"Tuan Kazuya sedang berjalan-jalan?"
"Kebetulan sekali kita bertemu, aku baru tiba di sini."
"Begitukah, dalam peperangan kemari berkat Anda semuanya kembali selamat.. aku merasa sangat terhormat telah bertarung dengan Anda, di pertarungan selanjutnya aku akan berjuang."
Dia malah menangis.
"Ngomong-ngomong?"
"Ah ini kedua istriku, yang ini Sella dan ini Selly."
"Salam kenal, terima kasih sudah menjaga suami kami dengan baik," keduanya mengatakannya di waktu bersamaan.
Ini cukup mengejutkan ketika mereka bisa bersikap seperti ini.
"Kalian terlihat sangat mirip, aku benar-benar sulit membedakan kalian berdua haha... ah benar, apa kalian mau mampir untuk makan malam, istiku dan anakku pasti sangat gembira jika kalian mau datang."
"Apa kami tidak merepotkan?" balasku demikian.
"Mana mungkin, bahkan mereka berdua ingin bertemu denganmu sejak lama."
Kami dengan senang menerima tawarannya, walau wajahnya menakutkan aku kini tahu Guarda sangat lembut dan penyayang terhadap istri dan putrinya yang masih kecil.
Selama makan malam kami semua bersenang-senang dengan obrolan ringan dan saling bergurau satu sama lain, mereka benar-benar keluarga yang harmonis.
__ADS_1