
Bersama pemilik penginapan aku memeriksa pisau yang menjadi barang bukti satu-satunya di dapur, seperti yang di duga pisau ini diambil dari sini.
Itu bisa terlihat bahwa dalam satu set pisau dapur, salah satunya tidak berada di sana, yang menjadi pertanyaan siapa yang mengambilnya untuk membunuh wanita itu? keempat orang lain sedang berada di kamar mereka dan hanya pemilik penginapan ini yang berada di dekat korban.
Sebenarnya aku tidak bisa melakukan hal seperti ini.
Kendati demikian aku harus menyelidikinya.
Pertama aku bertanya pada si tuan kacamata, aku sudah mengatakan pada semuanya hingga sebelum pelakunya ditemukan mereka tidak boleh tidur.
"Ketika kejadian kau dimana?"
"Sudah kukatakan aku berada di ruangan ini."
"Apa yang kau lakukan? Bisa saja kau menggunakan sihir yang bisa menggerakkan senjata lalu menusuk wanita itu."
"Aku ini bukan pengguna sihir, sebelum mendengarkan teriakan aku sibuk menulis cerita."
"Kau penulis?"
"Benar, lihat ini."
Si pria kacamata memberikanku naskah yang ditulisnya, dan aku menyukai isinya.
Si pemilik penginapan mengintip lalu dia berbalik seolah pura-pura tidak melihatnya.
"Semuanya hanya dipenuhi hal tidak senonoh," yang dikatakannya memang benar.
Aku kembali bertanya.
"Kudengar sebelumnya kau mengenal si korban?"
"Aku hanya tahu saja, aku sudah menginap di sini hampir beberapa bulan jadi tidak aneh jika aku sering melihatnya dan berbicara sebentar padanya."
"Bagaimana orangnya?'
"Hmm dia orang yang ramah, tak terlalu banyak bicara, aku berfikir apa mungkin ini ulah hantu laut?"
"Jika benar ini ulah hantu laut, dia tidak akan menggunakan pisau untuk membunuh korbannya."
"Memang benar."
"Tapi mungkin saja dia bisa melakukannya," balasku bercanda hingga wajahnya memucat.
Aku menutup pintu ruangan kemudian beralih ke pintu selanjutnya. Yang merupakan kamar si tuan plontos, aku bertanya hal sama yang kukatakan pada si tuan kacamata.
"Sihir, aku ini tidak bisa menggunakan sihir, aku tadinya hanya ingin berlibur di tempat ini tapi malah hal ini yang terjadi."
"Boleh aku menggeledah kamarmu."
"Silahkan saja."
Aku melakukan apa yang kukatakan dan benar-benar tidak menemukan apapun di dalam sana, kecuali satu set majalah dewasa.
"Lihat pemilik toko, bukannya ini boing-boing?"
"Apa yang kau katakan dengan boing-boing, jangan menunjukannya padaku," atas perkataannya aku meletakkan majalah itu lalu undur diri ke kamar berikutnya yang menjadi kamar tuan bermata jahat.
"Hah, aku ini tidak punya alasan untuk membunuh wanita itu."
__ADS_1
Paling tidak dia berbicara jujur.
"Selama tinggal di sini, apa saja yang kau lakukan?"
"Soal itu aku tidak bisa mengatakannya."
"Bukannya kau sering mengintip wanita mandi, entah di penginapan ini atau di penginapan lain."
"Mana mungkin aku melakukannya."
"Tapi orang-orang membicarakanmu, kau adalah orang mesum yang mengincar anak-anak juga."
Dia mendecapkan lidahnya lalu mengalihkan pandangan ke arah samping.
"Aku salah telah datang kemari."
Tidak ada penyangkalan, dengan kata lain orang ini harusnya ditangkap sejak lama.
"Kau orang yang paling mencurigakan, mungkin saja wanita itu memergokimu lalu kau menusuknya."
"Sudah kubilang bukan aku, aku berada di ruanganku pada saat itu."
"Untuk sekarang aku percaya."
"Aku mengintip semua wanita sebagai referensi dari majalah yang kubuat, aku bisa menawari mereka kontrak."
"Kau memiliki industri gelap."
Atas pernyataan itu si pemilik penginapan buru-buru menutupi dadanya.
"Mari pergi."
Ruangannya tampak dipenuhi bunga dan itu cukup mengganggu fungsi sesungguhnya dari penginapan ini.
"Kau mengenal korban?"
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengan manusia, aku lebih suka tanaman."
"Mungkin karena tidak tertarik, kau membenci orang yang dekat denganmu dan menusuknya."
"Aku tidak dekat dengannya, aku hanya pernah berbicara dengannya, tidak lebih."
"Mencurigakan."
"Jangan bilang kau menuduhku pelakunya."
"Dengan sifatmu, mungkin saja. Untuk sekarang kalian semua berkumpulah di luar."
Aku meminta semua terduga lainnya juga ikut melakukannya.
Aku berkata pada mereka semua.
"Sepertinya dari kita semua jelas tidak ada pelakunya, jika diasumsikan ini benar-benar ulah hantu laut."
"Kau pasti bercanda?"
"Jika begitu bagaimana kalau kalian semua pelakunya dan aku akan melaporkan ini pada penjaga."
Semua orang terdiam.
__ADS_1
Sebelum aku melanjutkan, Amnestha dan Gabriela muncul dengan wajah ketakutan.
"Tuan, wanita yang ditusuk itu tidak ada."
"Bukannya aku sudah bilang untuk menjaganya."
"Kami sudah melakukannya, bahkan kami selalu berdiri di pintu kamarnya."
"Aku juga."
Semua orang memucat.
"Jika begini, korban selanjutnya mungkin salah satu dari kita."
"Aku akan pergi dari tempat ini selamanya, aku tidak sudi berada di tempat yang menakutkan ini," kata pria bermata jahat.
"Aku juga, aku tidak akan kembali ke kota ini."
Semua orang pun mengatakan hal sama hingga keesokan paginya mereka benar-benar keluar dari penginapan ini, Rin yang terbang mengawasinya memastikan hal itu dengan baik.
Selagi meminum teh si pemilik penginapan membungkuk ke arahku selagi mengucapkan terima kasih, hingga tak lama kemudian wanita yang dikatakan ditusuk oleh hantu laut muncul lalu duduk di sampingnya.
"Berbaring di lantai itu tidak nyaman," katanya cemberut.
Dari awal hantu laut dan wanita ini hanyalah sebuah kebohongan saja, dia tidak mati ditusuk melainkan hanya akting saja.
Sebelum aku mandi si pemilik penginapan meminta bantuan padaku, katanya keempat penyewa kamarnya selalu meresahkan penyewa lainnya yang datang kemari hingga mereka tidak pernah tinggal di sini lebih dari sehari sementara keempat itu, telah tinggal berbulan-bulan dan terkadang meresahkan penduduk kota ini juga.
Para penduduk maupun pemilik penginapan pernah mencoba mengusir mereka namun mereka tidak pernah menurut, karena itulah cerita hantu laut dibuat.
Si pemilik penginapan melanjutkan.
"Mereka pasti tidak akan datang lagi kemari lagi dan aku sudah menerima banyak uang dari mereka."
"Kau yakin, mungkin saja tempat di sini akan sepi? Rumor buruk selalu menyebar lebih cepat."
"Tak masalah, dari awal penginapan di kota ini bukan bertujuan untuk mendapatkan untung besar melainkan untuk membantu para pelancong dan wisatawan menikmati keindahan kota di pesisir laut."
"Itu kenapa harganya tidak terlalu mahal, lalu bagaimana dengan wanita di sebelahmu?"
"Sebagai perjanjian karena sudah membantuku, aku menjanjikannya tinggal di sini dan menjadi karyawanku."
"Aku memutuskan untuk tinggal di sini."
"Begitu, Kalau begitu aku juga harus pergi sekarang."
Aku bersama pelayanku diantar sampai ke luar penginapan.
Keduanya kembali membungkuk.
"Sekali lagi terima kasih banyak."
"Itu bukan hal berat bagiku, jaga diri kalian."
Kami berjalan pergi.
Dari kejauhan aku menatap penginapan itu kembali dan kulihat beberapa pengunjung telah masuk ke dalamnya.
"Apa hal seperti itu, tidak akan terjadi lagi?" tanya Amnestha.
__ADS_1
"Soal itu jangan khawatir, kurasa para penduduk di sini telah menulis beberapa peraturan untuk mencegahnya," kataku demikian.