
"Kalian berdua anggota dewan penyihir?"
"Tepat sekali, namaku Slayer dan ini saudaraku Mike.. kami datang untuk membunuhmu."
Aku tersenyum kecil.
"Bukannya aku mengecewakan kalian, hanya saja aku memiliki pernyataan bahwa dewan penyihir harus dibubarkan."
"Kami hanya harus mengambilnya, mudah kan."
Slayer yang sudah tadi menempatkan pisaunya mendorong bilahnya mendekat, tepat saat dia menyayatkan pisau itu patah menjadi dua bagian.
Orang ini mencoba membunuhku.
"Pisaunya?"
Slayer maupun Mike terkejut sementara aku memakan kroket itu tanpa memperdulikan keduanya.
"Tolong tambah lagi."
"Baik."
"Kau bisa sempat-sempatnya mengabaikan kami berdua."
Kedua orang ini cukup menggangu jadi aku mencengkeram wajah keduanya lalu melemparnya sejauh yang bisa kulakukan ke luar kedai.
__ADS_1
Tubuh mereka terpelanting ke sana kemari selagi menghantam beberapa rumah sebelum akhirnya tertahan di salah satu bangunan dengan lubang besar di punggung mereka.
"Aku akan kembali."
Kroket hanya perlu waktu lima menit dalam penyajiannya karena itu, aku ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, Slayer maupun Mike kini telah diselubungi oleh cahaya berkelap-kelip.
Keduanya jelas menggunakan sihir dewa yang mereka kuasai sehingga penampilan keduanya berubah.
"Aku akan menghajarmu dengan sungguh-sungguh."
"Aku juga."
"Majulah, akan kutunjukan seperti apa lawan yang sedang kalian hadapi."
Kami bertiga melesat di waktu bersamaan selagi memberikan pukulan masing-masing, sihir dewa adalah sihir yang memberikan efek pendukung terhadap penggunaannya, itu mirip seperti kemampuan Mamisa hanya saja dalam kasusnya dia bisa membuat semua orang di sekitarnya menjadi kuat sementara sihir dewa hanya untuk dirinya sendiri.
"Thunder Blast."
Keduanya menembakan sihir yang sama berupa kilatan petir yang mengeluarkan suara memekakkan telinga, bukannya menghindarinya aku meraihnya dengan tanganku lalu menghisapnya.
"Mustahil... dia bisa menyerap kekuatan kita."
Pertama Slayer aku menendang perutnya dengan cepat yang mana membuat ledakan udara saat tubuhnya terlempar menabrak dua bangunan di belakangnya, sementara Mike aku memukulnya di perut hingga dia pun bernasib yang sama.
Pukulan itu sudah cukup membuat mereka tak sadarkan diri serta kembali ke bentuk sedia kala.
__ADS_1
Sepertinya itu sudah cukup, aku kembali ke kedai lalu menikmati kroket tambahan yang kupesan, setelah selesai aku meletakkan uang pembayaran untuk semua keributan yang terjadi sebelum akhirnya pergi ke bangunan bernama Terossa yang mana menjadi bangunan pusat dari dewan penyihir.
Saat kedatanganku seluruh penjaga sudah bersiap selagi mengepungku dari segala arah, yang bisa kulakukan hanyalah melawan mereka sekaligus.
Aku melesat maju, selagi menyerap seluruh sihir mereka aku menjatuhkan mereka dengan pukulan dan tendangan sesekali juga menggunakan sihir tingkat dasar yang hanya cukup membuat mereka tumbang.
"Gwaaaah."
"Orang ini monster."
Aku melemparkan salah satu orang untuk membuat beberapa orang di belakangku terjatuh, hal itu terus kuulangi secara terus menerus hingga saat kusadari semuanya telah kalah.
Beberapa orang memutuskan melarikan diri meninggalkan rekan-rekan mereka yang tak berdaya, bersamaan itu, seorang pria muncul hingga tanpa kusadari dia memukul wajahku dengan keras membuatku terhempas ke kebelakang, di saat yang sama seorang wanita di belakangnya merapal sihir lalu sesuatu dijatuhkan padaku dari atas.
Itu adalah sebuah cahaya yang menelanku dalam ledakan besar untuk membentuk kawah berdiameter 50 meter, seluruh pakaianku hancur kecuali bagian celananya.
Dia tidak ragu untuk menghancurkan bangunannya.
Seorang yang memukulku terlihat seperti naga dan seorang yang menembakkan sihir terlihat seperti penyihir dengan sayap di punggungnya layaknya seorang malaikat yang membawa tongkat.
"Aku Salmon, akan menghancurkanmu."
"Majulah, aku akan mendukungmu dari belakang."
"Aah, Manas."
__ADS_1
Mereka anggota dewan penyihir yang dikatakan paling kuat.