Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 97 : Sisi Gelap


__ADS_3

Di ruangan hitam itu aku berdiri selagi menatap seseorang di depanku, dia memiliki tinggi sama sepertiku, berambut sama serta berpenampilan sama pula, yang membedakan hanyalah topeng di wajahnya yang menyerupai monster bermata tiga serta gigi yang berjeruji.


"Yo, lama tak jumpa diriku yang lain," katanya selagi melepaskan topeng tersebut, tentu yang dibaliknya adalah diriku sendiri.


"Sudah kuduga, saat aku mendapatkan ingatanku maka kau kembali."


"Padahal aku adalah dirimu tapi kenapa kau membenciku... di pertarungan melawan pahlawan kau kalah karena tidak menggunakan kekuatanku bukan? Kau terlalu bergantung dengan cincin itu, kau bilang ingin mati dengan damai, apa-apaan itu?"


Diriku yang lain tertawa sementara aku menjawabnya dengan serius.


"Kau adalah kegelapan hatiku, aku tidak memerlukan kau dipertarungkan itu."


"Dasar bodoh, kau bukanlah Haru Kazuya kau adalah Beaufort Reymond, Dewa Kegelapan yang memberikan bencana kepada seluruh dunia... Lihat, bahkan pahlawan yang telah membunuh kita melakukan apa yang dulu kita lakukan."


"Aku tidak peduli dengannya, aku adalah aku dan dia adalah dia, aku hanya menyakini diriku yang sekarang."


"Bodoh, apa yang kau lihat dari Dewi itu, kita ini hanya menari di atas telapak tangannya... dia sama sekali tidak menyukaimu dia hanya memaafkanmu untuk mencapai tujuannya sendiri."


"Meski begitu aku tidak keberatan, sebelumnya kita selalu sendirian bukan? Setelah bertemu Rin, Amnestha dan Gabriela aku akhirnya tahu rasa kesendirian itu sangat menyakitkan... karena itu, aku ingin menciptakan dunia yang damai dimana tidak ada siapapun yang kehilangan seseorang karena sebuah perang."


"Jika itu pilihanmu, maka matilah di sini... Aku sendiri yang akan menggantikanmu sekarang Haru Kazuya."


"Aku yang akan memutuskannya sendiri."


Diriku yang lain mengenakan topeng kembali di wajahnya dan dalam sekejap sebuah pedang jatuh dari langit hitam.

__ADS_1


Itu adalah pedang Grandbell yang sudah tidak kugunakan lagi, jika di dalam game itu sekelas dengan Exalibur ataupun Durandal.


"Ini adalah pertarungan akhir jadi bertarunglah sungguh-sungguh Haru Kazuya."


"Aku tahu."


Sebuah pedang yang sama tercipta di tanganku yang mana saling berbenturan dengannya menghasilkan kilatan cahaya bagaikan sebuah kilauan yang keluar dari sebuah kamera.


Prang... Prang.. Trang.


"Dewi itu, setelah ini akan kubunuh dia."


"Aku jelas tidak akan membiarkannya, kau tahu dadanya sangat empuk."


Kami berdua terus menyerang satu sama lain, entah berapa lama kami melakukan ini yang jelas rasanya seperti berlalu seharian penuh, bagaimanapun aku dan dia adalah satu, jelas kekuatan kami seimbang.


Ketika pertarungan mencapai puncaknya pedang kami menembus satu sama lain hingga tak bisa bergerak.


"Masa lalu hanya akan menjadi masa lalu, kita mungkin telah menghancurkan banyak negara kendati demikian kita selalu merasa tidak puas," kataku demikian.


"Kita masih belum menghancurkan dunia ini jadi kita memang belum puas," teriak diriku yang memakai topeng.


Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali lalu berkata.


"Dari awal kita hanya membenci dunia ini, kita selalu berharap bahwa dunia ini segera hancur tapi sekarang aku memiliki keinginan yang jauh lebih berbeda dari yang kita inginkan di masa lalu."

__ADS_1


"Jangan bercanda? Di saat orang lain memiliki kehidupan bahagia, kita malah harus menerima rasa sakit ini... Dunia ini diciptakan dengan ketidakadilan, kenapa semua orang memiliki peran mereka yang menyenangkan sementara kita tidak, kita harus menghancurkan dunia ini.. itulah peran yang kita pilih, kau juga pasti tahu Haru Kazuya? Orang tua kita membuang kita ke panti asuhan karena tidak menginginkan kita, para suster ketakutan saat melihat wajah kita dan orang-orang selalu melempari kita dengan batu, apa kau tahu rasanya? Itu karena kita berbeda, ini semua salah dunia ini, alangkah lebih baik jika semuanya hancur saja."


Aku melepaskan pedangku untuk memeluk sosok diriku yang lain, yang dia katakan adalah sebuah kebenaran, ketika kecil aku terlahir sangat menakutkankan dengan senyuman mirip iblis, banyak orang yang selalu mengejek serta mencibirku hingga aku memilih jalan yang salah. Aku tidak menyalahkan diriku yang dulu karena itu adalah keputusanku sendiri akan tapi.. Ketika kau bisa merubahnya kenapa tidak memilih jalan yang lain.


Jalan dimana semua orang bisa tersenyum bahagia.


Apa yang bisa kukatakan untukku di masa lalu hanyalah.


"Kau sudah berjuang keras, mulai sekarang serahkan semuanya padaku."


Topeng yang dikenakannya jatuh ke bawah menampilkan sosok diriku yang menangis.


"Ini curang."


Perlahan tubuhnya berubah jadi butiran cahaya lalu menghilang seutuhnya.


"Selamat tinggal diriku di masa lalu," kataku ringan sampai kurasakan sesuatu yang lembut menekan seluruh wajahku.


Saat aku bangun Rusina yang tidur di sebelahku terus mendorong kepalaku untuk berada di pelukannya.


Aku berusaha melarikan diri tapi dia begitu kuat.


"Kau ingin menyusu padaku bukan? Silahkan lakukan."


Tahu seperti ini seharusnya aku tidak mengajaknya datang ke ibukota Artana bersamaku.

__ADS_1


__ADS_2