
Beberapa hari setelah aku kembali ke desa, aku duduk di kursiku sementara ke sepuluh Siren berjajar di depanku dengan pakaian formal seperti rok ketat putih, kemeja putih, dasi berwarna biru serta jas yang memiliki warna serupa.
Apa yang bisa kugambarkan dari mereka adalah pegawai kantoran biasanya. Di dada mereka tertera nama yang sudah kuberikan pada mereka.
Dari kiri.
Vina.
Vini.
Vania.
Valta.
Valla.
Vriata.
Vallaha.
Valna.
Valda dan juga Valisa.
Aku menyamakan alfabetnya dan memberikan tugas mereka secara terpisah, kebanyakan tentang pemasukan serta pengeluaran dari perdagangan desa. Aku juga meminta menyalin beberapa berkas penting seperti perjanjian dengan desa lain maupun negara lain, tak lupa pengiriman dari keenam desa juga secara rutin.
"Kami mengerti... semuanya mari berjuang."
"Hooooh."
"Aku sangat bersemangat."
Kesepuluh Siren membungkukan badannya sebelum pergi lalu digantikan sosok istri Ronald yang menghadap ke arahku.
Dia sedang membuat proyek akademi yang akan dibuat di pusat desa.
"Silahkan tuan, ini adalah rancangan yang saya buat setelah berkunjung ke semua akademi di negara lain."
__ADS_1
"Ini bagus, aku suka... kapan kita mulai membangun."
"Secepatnya."
"Baiklah, tapi aku punya permintaan, untuk air mancurnya tolong jangan gunakan patungku."
"Padahal ini ikon penting dari akademi ini.. lalu apa yang sebaiknya aku letakkan? Kita sudah punya patung keempat Dewi jadi membuatnya lagi jelas bukan ide bagus."
Aku diam sejenak untuk memikirkannya.
"Bagaimana kalau kita letakkan patung naga saja, kita bisa menggunakannya juga sebagai logo akademi."
"Kurasa itu akan bagus, kalau begitu aku akan segera membangunnya."
"Kuserahkan semuanya padamu."
Aku hanya melihat kepergian Lolia dari tempatku duduk sebelum bersandar pada kursi di belakangku.
Tak lama kemudian kucing Dorothy masuk dari jendela lalu melompat ke pangkuanku.
"Ada apa Dorothy?"
"Aku ingin menghabiskan waktuku di ruangan ini saja, minta Katharina untuk membawamu berjalan-jalan."
"Meong."
"Apa maksudmu tidak ingin berjalan-jalan dengan betina lain?"
"Meong."
Aku memangku Dorothy di depanku, walau penampilannya imut dia sebenarnya seekor kucing bencana yang kerap melakukan kerusakan. Karena kami sudah membangun permainan untuknya dia sudah berhenti untuk menghancurkan sesuatu.
"Apa boleh buat. Mari jalan-jalan sebentar."
"Meong."
Kucing ini memang selalu bersemangat, setiap sebulan sekali para peri selalu mengadakan pertunjukan teater, kurasa kita akan mengintip latihan mereka.
__ADS_1
Di depan panggung yang megah para pemain sedang berdialog sesuai peran yang mereka ambil. Tingkerbel tampak mengarahkan orang-orang dengan semangat.
"Tuan Kazuya."
"Bulan ini kalian mau mengambil cerita seperti apa?" tanyaku.
"Pahlawan sangat sering kita bawakan, kurasa kami ingin mencoba tentang percintaan."
"Begitu."
Tingkerbel mengembungkan pipinya.
"Tuan kadang tidak datang untuk menonton."
Aku hanya tersenyum masam lalu membalas.
"Terkadang ada urusan yang mendadak hingga aku harus pergi keluar desa. Aku minta maaf."
"Aku hanya bercanda, tapi ngomong-ngomong Mamisa sangat berbakat, tak hanya pandai bernyanyi dia juga pandai berakting."
"Sebenarnya dia sudah lama berlatih hingga menjadi idol ternama."
"Aku bisa melihatnya."
Aku mengalihkan pandangan ke arah Mamisa yang beradu akting dengan Iris, entah kenapa keduanya terlihat sedikit mesra. Aku memutuskan bertanya kepada Tingkerbel.
"Cerita seperti apa yang kau ambil?"
"Ah ini dia."
Tingkerbel menunjuk sebuah novel romantis yang belakangan ini sangat terkenal, tentang hubungan romantis antara gadis dan gadis di sekolah khusus wanita.
Tanpa aku katakan semua orang pasti tahu siapa yang membuat cerita ini.
Benar.
Dia Asteropedia Platinum, yang belakangan ini menghiasi majalah mingguan yang dibuat oleh perusahaanku. Tak hanya desa, aku juga membuat perubahan di sana sini termasuk dalam industri hiburan maupun daur ulang.
__ADS_1
Untuk industri hiburan sendiri aku serahkan ke desa elf, kurasa aku akan melihatnya ke sana sebelum pergi ke desa lainnya.