
Aku menciptakan pedang di tanganku lalu melesat ke arah Dolla yang hanya duduk saja, dia menjatuhkan dirinya ke bawah, mendaratkan kakinya hingga menciptakan deretan tanah mengerucut menerjang ke arahku.
Aku terdorong ke atas langit sebelum akhirnya dijatuhkan dengan bunyi dentuman keras.
Dolla memainkan bonekanya setelah tubuhnya kembali sedia kala, entah itu boneka atau dirinya keduanya memang sama-sama mengerikan.
Aku meluncur ke arahnya selagi mengarahkan bilah pedangku, Dolla menangkapnya dengan tangan kosong kemudian mematahkannya.
"Berhentilah bermain-main, tunjukan kekuatanmu sesungguhnya."
Aku mundur dan menciptakan ratusan pedang es yang melesat tertuju padanya, dengan sihir angin Dolla melindungi dirinya hingga pedang yang kukirim hanya menancap di tempat jauh darinya.
Dalam hitungan detik dia sudah berada di depanku mencengkeram wajahku dengan tangannya kemudian melemparkanku untuk menabrak dinding dengan ledakan besar.
Ia mengulurkan tangannya menciptakan pedang raksasa yang langsung meluncur ke arahku, aku menahannya dengan satu tangan hingga pedang itu hancur berkeping-keping.
Ketika aku kelelahan, Dolla menyeringai.
"Masih banyak waktu untuk menghabisimu terlebih aku lebih suka membunuhmu saat lemah nanti, kurasa sudah waktunya aku undur diri dan menyerahkan semuanya pada orang itu."
"Tunggu sebentar."
Dia tahu bahwa aku berencana untuk menyelamatkan Dewi Nimpa.
Tepat saat Dolla menghilang sosok naga besi terbang di langit lalu mendaratkan kakinya tepat di depan. Dia membuka mulutnya untuk menyerap seluruh energi di sekitarnya demi menjadikannya bola raksasa sebelum ditembakan ke arahku.
Sebelum itu menghantamku seorang lebih dulu membelahnya menjadi dua bagian hingga hanya meledak di sisi kami berdua.
Dia adalah Momoko, kalung di lehernya telah dilepaskan.
"Yo Kazuya... lawan di sini lebih mengasyikkan, biar aku saja yang melawannya."
__ADS_1
Kepribadiannya benar-benar berubah, teriakku dalam hati.
Naga besi berlari ke arah kami berdua selagi mendorong wajahnya, dengan satu tangan Momoko menahan kepalanya menciptakan retakan di bawah kakinya.
"Menyebalkan sekali, aku sedang berbicara di sini."
Dia mengayunkan pedang di tangan lainnya memotong besi-besi itu menjadi dua bagian, naga yang sebelumnya kuat kini hanya berubah menjadi sebuah rongsokan.
"Haha."
Di saat Momoko tertawa aku menciptakan kalung besi lalu memasangkannya di lehernya hingga dia terduduk di bawah.
"Tuan Kazuya."
"Kerja bagus."
"Eh?"
Sebelum makin parah syukurlah aku segera mengikatnya.
Seiring Dolla yang menghilang para mayat hidup di desa ini telah menghilang juga, tiang-tiang yang sebelumnya dia ciptakan kembali ke dalam tanah.
Tidak ada orang yang meninggal, meski begitu aku harus mengembalikan keadaan kota ini sedia kala.
Aku duduk di kursi di alun-alun desa selagi mendesah pelan, salju berjatuhan dari langit dan sesekali menempel di wajahku.
Aku ingin sekali menyelesaikan semua ini dengan cepat sayangnya hal itu sulit dilakukan.
Sementara itu di tempat lain, Len dan Falena membunuh beberapa mayat hidup yang tiba-tiba saja muncul di akademi, bersama murid lainnya mereka berhasil menghancurkannya sampai situasi kembali sedia kala.
"Apa yang terjadi?" ketika semua orang bertanya hal sama, Koko muncul di depan mereka dan berkata.
__ADS_1
"Ancaman sudah dihilangkan, kalian semua bisa kembali belajar."
Semua orang menarik nafas lega kemudian berbalik untuk masuk ke dalam bangunan.
"Ayo Falena."
"Tunggu Len."
Keyla mendekat ke arah Koko.
"Apa barusan merupakan sebuah serangan?"
"Benar, sepertinya orang yang melakukannya mengincar Kazuya."
"Jadi begitu."
"Aku tidak tahu akan ada serangan lainnya atau tidak, tapi aku tidak bisa mengajar sampai situasinya tenang."
"Aku mengerti, aku yang akan mengambil alih kelasmu."
"Kepala sekolah sendiri? Apa tak apa?"
"Begini-begini, aku juga bisa mengajar loh."
"Kalau begitu tolong yah."
Koko yang duduk di atas Momo kembali pergi.
Dalam hati Keyla bergumam.
"Walau dia masih kecil, sikapnya malah terlihat melebihi orang dewasa."
__ADS_1