
Selepas berburu aku menyerahkan semuanya pada mereka untuk diolah, sementara aku duduk bersandar di kursi panjang.
Semua orang memang terlihat sangat sibuk meski begitu mereka terlihat menikmatinya.
"Kerja bagus tuan Beaufort Reymond."
"Panggil saja Kazuya."
Yang duduk di sebelahku adalah Orihime yang sedang mampir ke desaku, seperti biasanya dia mengenakan kimono yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
"Kudengar kau ingin membiarkan ras iblis untuk bisa datang kemari juga?"
"Aah, ada sebuah wilayah yang di kelola oleh raja iblis Queen yang terisolasi dari dunia luar... aku hanya memberikan mereka kesempatan untuk bisa mendapatkan kehidupannya."
"Apa dengan begitu era peperangan akan berakhir di mana semua orang bisa tersenyum bersama."
"Entahlah... tapi kurasa hal ini jauh lebih baik," kataku selagi melirik awan yang bergerak tertiup angin lalu melanjutkan.
"Terkadang manusia bisa lebih buas dari binatang buas dan terkadang pula ras iblis lebih baik dari manusia... suatu hari aku pernah mengunjungi sebuah kota kecil di mana para ras iblis dan manusia saling hidup berdampingan."
"Ka-kau pasti akan menceritakan sesuatu yang mengerikan bukan?"
Aku hanya tersenyum masam.
__ADS_1
"Suatu hari hubungan itu berakhir karena ada pihak ketiga yang membenci ras iblis dan mulai mengadu domba keduanya."
"Aku tidak mau dengar, aku tidak mau dengar."
"... dan di sana ada seorang wanita dari ras iblis yang setiap harinya dengan ramah memberikan bunga pada orang lain tanpa imbalan, apa kau tahu apa yang terjadi dengannya?"
"Jangan katakan."
"Dia dibunuh tepat di depan mataku, saat itu aku masih kecil dan tidak bisa melakukan apapun, yang bisa kulakukan hanya diam menyaksikan bagaimana dia mati... aku sempat melihat dia bergumam sesuatu meski pelan aku masih bisa mendengarnya jelas 'Suatu hari akan ada dimana hubungan manusia dan ras iblis jadi jauh lebih baik."
Setelah itu kedua belah pihak mulai berperang dan akhirnya memunculkan sosok raja iblis.
"Sebenarnya apa yang kau lalui selama hidupmu?" Orihime hanya bisa mengutarakan hal itu dengan keterkejutannya.
"Hentikan."
Orihime yang tidak kuat mendengarnya memelukku dengan erat, dia menempatkan wajahku di dadanya.
"Orihime?"
"Jangan bicara lagi, kau sudah berjuang selama ini. Syukurlah kau masih hidup."
"Yah, aku juga tidak berniat untuk mengakhiri hidupku sendiri."
__ADS_1
"Tidak pernah."
Orihime melepaskanku lalu memperbaiki postur duduknya.
"Di dalam hidup tidak ada pilihan menyerah seperti pada sebuah game, entah sesulit atau semengerikan apapun kehidupan, manusia harus terus berjuang hidup dan melihat bagaimana akhir yang mereka raih di masa depan."
"Aku tidak mengerti dengan istilah game."
"Lupakan saja apa yang barusan kukatakan, yang jelas aku ingin menebus apa saja yang tidak bisa kulakukan di masa lalu... entah itu membuat desa demi orang lain, menyelematkan seorang anak agar tidak kehilangan orang tuanya ataupun memberikan kehidupan yang lebih baik bagi ras iblis, itulah yang kuinginkan sekarang."
Orihime membalasku dengan senyuman.
"Sepertinya kau memang sudah melakukannya, sepertinya semua orang di sini terlihat bahagia, tuan Kazuya juga sudah memberikan kami rumah yang nyaman hingga menghentikan konflik yang terjadi, aku benar-benar menaruh hormat padamu."
"Jika kau menaruh hormat padaku, kenapa kau menempatkan kakimu di wajahku?"
"Di tempatku, inilah yang wajar."
"Kau mengerjaiku," teriakku.
"Aku akan membantu mereka, dadah."
Dia melarikan diri.
__ADS_1
Tanpa sadar aku juga tersenyum melihat kepergiannya.