
Berbeda dengan pulau langit yang ditinggali ras Harpy ataupun para Malaikat, semua pulau yang akan kami kunjungi benar-benar dihuni oleh manusia.
Bisa dibilang mereka disebut manusia langit.
Tempat pertama yang kami tuju bernama benteng Antartika tempatnya sendiri seperti sebuah pulau di mana di pinggirannya dihiasi tembok tinggi.
Bellatrix berkata.
"Tuan Kazuya, sepertinya ada sesuatu di sana?"
"Sesuatu?" Aku mengalihkan pandangan ke arah sama yang ditunjukkan oleh Bellatrix, di sana memang seperti apa yang kukatakan hanya saja ada seekor burung raksasa yang sedang mengamuk di pinggir tembok bagian dalam.
Burung itu memiliki wujud seperti ayam raksasa dengan ekor ular serta kepala bertanduk layaknya seekor domba.
Aku memukul telapak tanganku selagi berkata.
"Makhluk itu saudara Aries."
Aries adalahl roh gadis yang menyerupai domba kurasa dia juga memiliki kerabat seperti ini.
"Kau ini?"
Aries muncul dari mendali lalu mencekikku.
"Seenaknya saja, apa aku terlihat seperti ayam?"
"Kau bisa keluar sendiri?" tanyaku terkejut.
"Aries memiliki kemampuan khusus dibanding roh lainnya," balas Rima sementara aku berusaha payah untuk melepaskan diri
Dorothy yang menyukai Aries melompat kepadanya.
__ADS_1
"Kyaaa... jangan menjilati dadaku."
Aries lalu menghilang sementara Dorothy melirikku dengan mata menangis.
"Kau tidak boleh lakukan itu," kataku demikian.
"Anu, bukan waktunya untuk bercanda, bagaimana sekarang?" potong Bellatrix.
Kalian terbang saja ke tengah kota aku akan atasi sendiri. Beberapa orang terlihat seperti penjaga pun tampak kewalahan, mereka menggunakan sepatu yang memiliki sayap di sisinya untuk terbang.
Cukup mencolok bagiku.
Bertepatan saat Bellatrix melewati tembok, aku melompat ke atas benteng dengan kedua pedang di tanganku lalu berlari ke kiri dan melompat di atas kepala burung tersebut.
Dengan sekali tebasan memutar aku memenggal kepala burung itu hingga tumbang menghancurkan bangunan di bawahnya sebelum berdiri di atas rumah.
Kedua pedang di tanganku hancur berserakan, burung ini jelas sangat keras bahkan cara mengalahkannya sendiri harus menggunakan pedang khusus yang dimiliki penjaga ini.
Salah satu pria berpenampilan kesatria mendaratkan kakinya di depanku, ia memiliki rambut biru panjang yang menutupi kedua bahunya.
Pandangannya terkesan orang yang narsis.
"Terima kasih banyak, kami sangat kesulitan saat melawannya barusan."
"Aku hanya kebetulan datang kemari, jadi makhluk apa itu?"
"Kami juga belum tahu, sebulan terakhir mereka bermunculan dan menyerang wilayah kekaisaran Harnes... ngomong-ngomong namaku Frigel Alsepar komandan yang menjaga benteng ini, salam kenal," dengan pose aneh lalu melanjutkan dengan pertanyaan.
"Namamu?"
Ia mengatakannya selagi mengibaskan rambutnya membuat debu bercahaya berterbangan di sekelilingnya.
__ADS_1
"Kazuya."
"Kazuya kalau berkenan silahkan mampir ke markas kami, kami akan memberikan hadiah untuk semua jasamu ini."
"Mungkin lain kali, aku masih banyak keperluan," kataku tersenyum masam lalu melompat ke rumah di depanku.
"Tunggu, bagaimana hadiahnya."
"Tidak butuh."
Frigel menatapku dengan pandangan berkaca-kaca selagi meletakan tangannya di keningnya.
"Apa? Tak kusangka di dunia yang kejam ini ada orang yang melakukan hal luar biasa seperti ini tanpa pamrih."
Seorang wanita berambut biru yang lain muncul di belakangnya dengan tatapan bermasalah.
Walau disebut wanita penampilannya terlihat seperti pria dengan rambut pendek serta celana panjang.
"Kakak ini, tolong jangan berlebihan.. kau membuatnya takut."
"Adikku yang tersayang Kelly, aku tidak membuatnya takut, dia.."
"Tolong hentikan kebiasaan burukmu."
"Inilah keindahan oh.."
"Aku benar-benar ingin memukulmu sekarang, jadi bagaimana dengan monster ini?"
"Dia seekor burung jadi kita olah saja jadi makanan dan berikan semuanya kepada penduduk."
Sang adik hanya menghela nafas panjang sebelum mengatakan.
__ADS_1
"Laksanakan."