
Valesta telah menghabiskan lima mangkuk porsi untuk orang dewasa dan sepertinya dia tidak akan berhenti sebelum menghabiskan lima lagi.
"Aku terlalu banyak menghabiskan energi sihirku, aku perlu mengisinya lagi."
"Pesanlah sebanyak yang kau mau, aku akan bayar semuanya," kataku selagi memicingkan mata sampai seorang muncul menyapa Valesta.
Dia memiliki rambut ungu sebahu yang mana bagian poninya menutupi mata kirinya, ia juga mengenakan topi bundar dan jas sepanjang lutut yang mampu membuatnya terlihat berkarisma.
Aku mengerenyitkan mata saat menatap wajahnya.
Dia model kipas angin yang kulihat sebelumnya saat datang kemari.
"Valesta, kau ada di sini?"
"Mamisa kah, lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?"
"Seperti biasa jadwalku sangat sibuk... kulihat kau sudah menghabiskan banyak mangkuk makanan, berarti kau baik-baik saja, lalu siapa dia?"
Aku tidak yakin ada orang yang cukup normal yang bisa dekat dengan Valesta.
"Orang ini hanya budak, jangan dipikirkan."
"Budak jidatmu... panggil saja namaku Kazuya."
"Eh begitukah, kau buronan yang sedang di cari itu."
Seharusnya aku menggunakan nama samaranku.
"Aku tidak suka hal merepotkan jadi aku tidak akan melaporkanmu atau sebagainya, boleh aku duduk."
"Tentu, silahkan."
"Pantatku terus saja difoto oleh fansku yang nakal, kurasa aku sedikit sakit di sini."
__ADS_1
Sesuai yang diduga dari model majalah dewasa mereka sangat totalitas, bahkan masih sempat menggoda.
"Jadi pekerjaan Idol itu seperti apa?"
"Serius, kau tidak tahu?"
"Maaf saja kalau aku tidak tahu... aku hanya ingin membandingkan apa idol yang kuingat sama dengan di sini."
"Aku menggeluti dua profesi, pertama model Gravure dan satu lagi penyanyi, tapi kebanyakan aku bekerja sebagai penyanyi."
Aku sama sekali tidak menanyakan soal itu, aku menjatuhkan pipiku menyentuh meja selagi mendengarkan banyak penjelasan dari Mamisa sebelum akhirnya dia meletakkan sebuah kota kecil berukuran 10 cm di atas meja.
"Apa itu?"
"Ini namanya Lutube... dengan ini para Idol bisa merekam lagu mereka dan disiarkan ke pengguna Lutube lainnya."
Jelas ini keren, ini lebih praktis dari sihir Gabriela, tak hanya suara aku juga bisa melihat rekaman dari penampilan Mamisa di sana berbentuk sebuah hologram.
Bukannya ini sama dengan dunia yang pernah aku tinggali waktu itu, mereka menyebutnya televisi atau sebagainya.
"Apa kau tahu orang bernama Garius?"
"Aku sempat mendengar nama itu saat di pulau malaikat, kalau tidak salah dia yang menciptakan pesawat udara."
"Benar, tapi tak hanya itu... dia juga menciptakan hal seperti ini dan banyak hal lagi lainnya."
"Begitukah."
Dia jelas orang yang jenius.
Jika aku membeli barang seperti ini untuk disebar luaskan di kerajaan Weisvia apa akan laku? Kurasa aku bisa menciptakan yang lebih baik dari itu.
Mamisa berdiri dengan terkejut.
__ADS_1
"Ah, aku sudah telat... sekarang jadwalku untuk menyanyi di pinggiran pantai, kalian datanglah jika selesai... aku akan bernyanyi dengan pakaian renang sexy."
"Aku akan melihatnya."
"Badanmu bagus jadi sayang untuk dilewatkan."
Valesta melirik ke arahku dengan tatapan ikan mati.
"Kau bisa mengatakan hal seperti itu dengan santainya."
"Itu pujian."
"Hanya orang aneh yang menganggapnya."
Rasanya aneh disebut aneh oleh orang aneh.
"Jadi setelah ini, apa aku akan dibebaskan?"
"Tidak, aku akan menyeretmu untuk ikut menghancurkan dewan penyihir... sejujurnya fotomu juga sudah dipajang."
Aku menunjukan selembar poster bergambar wajahnya.
"Kenapa bisa terjadi? Aku sama sekali tidak membantumu."
"Sebenarnya aku mengirim surat ancaman ke dewan penyihir dan mengatasnamakan dirimu sebagai tangan kanan... sekarang mau tak mau kau harus mengikutiku."
"Kau memang licik."
"Menang tetaplah menang, bahkan di saat seseorang terpuruk apapun bisa dilakukan hanya demi bertahan hidup."
"Tapi kau tidak terpuruk?"
"Dari awal aku sudah licik, mau terpuruk atau tidak, aku tetap licik."
__ADS_1
"Kurasa itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan."