Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 186 : Seorang Vampir


__ADS_3

Aku dan Gabriela duduk di atas batu selagi menatap Amnestha yang dengan senang bernyanyi, setiap nyanyiannya menumbuhkan seluruh pepohonan yang sebelumnya mengering bahkan tanah yang gersang kini dipenuhi rerumputan indah.


Gabriela berkata ke arahku.


"Nyanyiannya memang bagus, tetap saja dia orang mesum."


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan, setelah selesai kami kembali ke kota melalui jalanan yang berbeda, di tengah-tengah perjalanan itu aku menemukan beberapa mayat yang tergeletak begitu saja.


Gabriela memeriksa tubuh mereka hingga menemukan persamaan bahwa mereka digigit sesuatu di bagian leher. Amnestha yang memutuskan melayaniku berdeham sekali lalu melanjutkan.


"Sudah jelas ini perbuatan seorang vampir," Gabriela juga mengangguk menegaskan.


"Vampir ini membunuh dengan membabi buta, aku yakin desa di depan sana sudah hancur."


Untuk membuktikan hal itu kami bergegas berjalan sedikit cepat, apa yang dikatakan Gabriela memanglah benar beberapa mayat tergeletak begitu saja dan kulihat diantara semuanya seorang wanita berdiri di tengahnya.


Ia memiliki mata merah ruby dengan potongan rambut hitam panjang, di antata jari-jarinya tampak darah mengucur ke tanah.


"Kudengar vampir sudah punah, mungkin dia datang untuk membalas dendam pada desa ini," tambah Amnestha.


Wanita itu menatap ke arah kami bertiga penuh permusuhan, entah itu Gabriela ataupun Amnestha, keduanya langsung terpancing untuk menerjang ke arah wanita tersebut.


Gabriela melompat setelah menciptakan pedang cahaya di tangannya, dengan satu tendangan dia dilempar menembus lima rumah penduduk.


Amnestha melilit vampir itu dengan sulurnya sayangnya dia juga dilempar ke udara.


"Aaaaaaaa."


Yang bisa aku lihat wanita itu terlihat kesakitan.

__ADS_1


Aku berjalan pelan mendekatinya, dia berlari dengan cakar di tangannya menembus dadaku tanpa melukai organ dalamnya.


"Ke-kenapa kau tidak menyerangku."


"Kurasa aku tidak memiliki hal untuk melukaimu, sama sepertimu aku juga memiliki dendam."


"Semua vampir telah musnah, paling tidak aku juga harus mati."


"Dibanding mati bagaimana jika kau ikut denganku, aku pasti membutuhkanmu."


Wanita itu terduduk lemas lalu aku mengulurkan tanganku padanya.


"Namamu?"


"Rin Elisten."


"Ampun, tuan merekrut wanita mengerikan ini dengan mudahnya," kata Gabriela bangkit.


"Mau aku bunuh kau."


"Tidak, tidak."


Kami juga memperkenalkan diri sebelum akhirnya kembali ke guild, kami tidak mendapatkan uang dari pekerjaan Amnestha karena itu mulai besok kami akan kembali bekerja.


Para pelayan menaruh setiap pesanan kami di atas meja, semuanya merupakan olahan daging serta minuman bir dan sebagainya, untukku sendiri hanya susu hangat.


Aku bertanya pada Rin yang sudah selesai makan setelah lima suapan.


"Kau sudah selesai?"

__ADS_1


"Untuk makanan seperti manusia aku hanya bisa memakannya sedikit."


"Begitu."


"Apa kau yakin ingin merekrutku di dalam anggota partymu? Sekarang mungkin pihak gereja mulai mencariku bahkan jika seorang pahlawan diperintahkan untuk membunuhku itu sudah tidak aneh lagi."


"Aku tidak suka pahlawan, jika aku harus bertarung dengannya itu tidak masalah, hanya saja sebelum itu aku harus bertambah kuat dulu."


"Sebenarnya kau siapa?"


"Hanya orang desa biasanya, mulai sekarang kau dilarang membunuh secara sembarangan kecuali aku yang memerintahkannya."


"Jika kau mengatakan itu apa boleh buat."


"Aku baru tahu vampir juga bisa tersipu malu," ucap Gabriela memotong.


"Berisik malaikat, fokuslah pada makananmu."


Amnestha tertawa.


"Kalian bisa bersaing satu sama lain, tapi tuan Beaufort hanya akan memilihku nanti malam."


"Aku tidak akan membiarkannya, walau aku lebih menyukai wanita aku ingin mencobanya dengan pria."


"A-aku yang berhak, karena yang pertama bergabung."


Orang-orang ini paling mudah mendebatkan sesuatu yang tidak penting dan itu cukup menarik banyak orang terlebih khususnya seorang bertudung yang keluar dari sini.


Dia mungkin mata-mata dari pahlawan atau gereja yang memuja empat dewi yang mengelola dunia ini.

__ADS_1


Sebaiknya aku diam-diam mengikutinya.


__ADS_2