Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 333 : Dalang Dari Pembunuhan Di Akademi


__ADS_3

Sekembalinya aku ke Akademi, Almaira, Esna dan Thenta mengerumuniku. Mereka mengeluh tentangku yang bolos kelas dan tidak mengajak mereka pergi.


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan sebelum akhirnya mengajak mereka untuk latihan bersama, dalam waktu dekat mereka harus melawan perwakilan lima orang dari kelas bangsawan karena itu, aku harus bertanggung jawab karena telah melibatkan mereka.


Tentu untuk Almaira aku melarangnya ikut berpartisipasi, keluarga bangsawan merupakan dukungan terbesar bagi kerajaan karenanya akan merugikan jika mereka menjadi musuhnya.


Kami mengunjungi sebuah kolam air yang berasal dari air terjun paling tinggi di dalam hutan, aku meminta mereka untuk membekukan airnya.


"Mustahil, mustahil, untuk melakukannya."


"Aku juga berfikiran sama."


Setelah menunjukannya mereka semua terkejut, sihirku bisa membekukannya dengan baik tapi di sini bukan itu poin pentingnya melainkan.


Aku sedang mengajarkan mereka sihir tingkat atas di mana menggabungkan sihir dasar secara berlapis.


Ketiganya menatapku berbinar dan aku mengeluarkan sekeranjang buah kecil berwarna hijau di depan ketiganya.


"Jika kalian kehabisan mana, makanlah buah ini untuk mengisinya kembali, tentu rasanya sangat asam.. setelah terbiasa kalian bisa menghisap mana dari luar tanpa harus memakan buah ini."


"Kami mengerti."

__ADS_1


Di saat ketiganya berlatih aku berbaring di bawah pohon selagi mengawasi, mereka telah berjuang keras bahkan walau berteriak 'asam' mereka masih melakukannya hingga petang.


Hal ini kami lakukan secara terus menerus hingga dalam tiga hari mereka bisa melakukannya, jika harus dikatakan.. mereka telah menjadi mage kelas atas.


"Kami berhasil."


"Kerja bagus, sekarang lanjut ke tahap berikutnya."


"Masih ada lagi ternyata."


Sekarang waktunya berlatih pedang.


Ketiganya mengambil pedang kayu lalu menyerangku bersama-sama, kekuatannya masih lemah dan perlu 3 hari untuk melatih mereka.


Satu hari istirahat dan di hari berikutnya pertandingan diadakan, di dalam area pelatihan, para penonton yang terdiri dari siswa rakyat jelata maupun bangsawan berkumpul.


Para guru juga datang bersama Minerva.


Pertandingan ini menjadi awal dari perubahan yang harus disaksikan semua orang.


Lima orang melawan dua orang dimulai, seperti yang kuduga lima orang itu menyerang dengan membagi peran, satu orang menggunakan sihir pelindung untuk melindungi lainnya, dua orang melakukan sihir serangan sementara dua lagi berlari dengan pedang.

__ADS_1


Esna mengarahkan tangannya menciptakan dinding es dengan ketebalan luar biasa, semua penonton dibuat takjub apalagi dengan lingkaran sihir berlapis.


"Bukannya itu sihir dasar."


" Itu termasuk sihir legendaris yang hilang, aku tidak pernah berfikir ada seseorang yang bisa menggunakannya."


Semua orang menatap ke arahku, bagaimanapun semua orang tahu bahwa aku melatih keduanya termasuk Almaira.


Mereka semua saling menyerang dan bertahan satu sama lain. Esna berhasil menerobos pertahanan lalu memukul dua penyerang hingga tak bisa bergerak, kemudian sisanya dengan ayunan pedang Thenta.


Dalam sekejap mata mereka memenangkan pertarungan namun ancaman sesungguhnya di mulai dari sekarang. Salah satu murid dari kelas bangsawan yang bertarung bangkit dengan kegelapan menyelimuti dirinya, tangannya berubah menjadi tangan iblis dan dari mulut itu menebakan bola hitam.


Aku dan Minerva bergerak untuk melindungi Esna dan Thenta.


"Cukup sampai di sini, akhirnya kau menunjukkan wajah aslimu... kaulah yang menyerang para murid dan kesatria bukan?" ucap Minerva.


"Aku akan menghancurkan siswa rakyat jelata, mereka semua tidak pantas bersama bangsawan atas."


Tubuh iblisnya mulai menyebar hingga berubah seutuhnya.


"Kalian semua pergi dari sini, serahkan semua pada kami berdua," kataku yang mendapatkan anggukan keduanya.

__ADS_1


Semua penonton mulai keluar dengan bantuan para kesatria.


__ADS_2