
Bersama kedua pelayanku kami pergi ke pelabuhan untuk menyewa kapal, naga biru tinggal di sebuah pulau besar di tengah laut dimana tidak ada siapapun yang bisa mengganggunya.
Aku mendayung perahu itu untuk menepi ke tepian, adapun untuk pelayanku mereka hanya berteriak semangat dengan keranjang makanan yang dibawanya.
Selagi aku bertarung dengan naga mereka akan berpiknik.
"Berjuanglah tuan, kami akan bersantai di sini sampai tuan selesai."
"Benar, aku dan Selly akan berusaha menyisakan sedikit makanan untuk tuan nanti."
"Kalian pasti akan menghabiskannya, aku yakin itu."
"Mana ada, kami ini pelayan terbaik yang tuan miliki," tambah Selly dan Sella mengangguk mengiyakan.
Apanya yang terbaik coba?
Aku memilih mengabaikan mereka lalu berjalan pergi ke bagian tengah pulau dimana terdapat sebuah gunung merapi di sana, lebih tepatnya gunung ini dijadikan tempat sebagai naga itu melingkarkan tubuhnya.
Jika diperhatikan bentuknya menyerupai ular laut hanya saja tubuhnya biru dan besar.
"Halo naga."
Aku berteriak padanya hingga ia mendorong wajahnya mendekat ke arahku.
"Manusia, apa yang kau inginkan?" suaranya menggema di udara.
"Aku ingin meminta sisikmu, apa boleh? Di guild harganya lumayan tinggi, aku bisa kaya karenanya."
Naga itu tertawa lalu mendengus ke arahku.
__ADS_1
"Jangan bodoh, aku tidak akan memberikan sisikku padamu semudah itu, jika mau kau harus mengalahkanku dalam sebuah pertarungan sama seperti para manusia lainnya."
Karena sulit jadi sisik naga ini sangat langka.
"Baiklah, mari bertarung... target sebesarmu pasti dapat mudah diserang," kataku memprovokasi tapi naga itu hanya tertawa.
"Kalau begitu aku lebih baik merubah bentukku," bersamaan perkataannya, naga itu mulai mengecil, perlahan sosoknya berubah menjadi menyerupai manusia walaupun bagian telinganya berbetuk sirip naga.
Ia mengenakan gaun berwarna biru.
Ia memiliki rambut panjang sepinggul dengan mata biru mirip sebuah warna laut.
"Namaku Nermia, mari bertarung."
Tanpa basa basi wanita berambut biru itu melesat maju, ia menghilang dan muncul tepat di belakangku selagi mengayunkan kakinya di udara, tentu aku hanya menundukkan kepalaku dan membiarkan kakinya lewat begitu saja.
"Kau ini tidak bisa menunggu aku dulu siap."
"Sudah lama sekali aku tidak bertarung, jelas itu sedikit membuatku bersemangat.
Sepasang lingkaran sihir muncul di kedua tangannya, dengan sedikit rapalan dia menyemburkan air yang meluncur dengan kecepatan tinggi.
Sebelum mengenaiku sebuah dinding tanah menahannya.
"Aku masih belum selesai," Nermia berlari memutariku, tentu saja aku membuat dinding tanah juga hingga aku seperti berada di sebuah kotak sebelum akhirnya dinding itu lenyap kembali ke dalam tanah.
Nermia tampak menarik nafasnya karena kelelahan, sementara aku menarik sebuah busur terbuat dari api.
Ini adalah Skill serangan pertama yang kudapatkan setelah mendapat skill aneh itu.
__ADS_1
"Fire Archer."
Api melesat ke arah Nermia, dia membuat gelembung air untuk melindungi dirinya meski begitu tubuhnya terhempas ke belakang sebelum membentur batang pohon besar.
Sebelum dia bangkit aku sudah berdiri di depannya selagi mengarahkan tanganku.
"Wah, aku kalah.. lakukan apapun yang kau mau?"
Aku menjitak kepalanya hingga dia memegangi kepalanya selagi mengerang kesakitan.
"Sakit."
"Aku hanya butuh sisikmu, cepat serahkan."
Dia melepas pakaiannya.
"Silahkan ambil sendiri."
Di lihat darimanapun itu hanya tubuh manusia pada umumnya tepatnya tubuh dari seorang gadis yang sehat, dia pasti sedang mempermainkanku.
"Mungkin aku harus membedah tubuhmu dulu."
"Jangan lakukan itu."
Nermia menunjuk ke arah gua di bawah gunung.
"Ada beberapa sisik di sana yang sudah terlepas, kau bisa mengambilnya."
Harusnya dia mengatakan itu dari awal.
__ADS_1