
Golem itu mengirim tinjunya ke arah Viore dan aku yang menahannya dengan sebelah tanganku dengan mudah.
Aku bisa saja melawannya sendirian akan tetapi mungkin akan terlihat sangat mencolok karena itu, aku akan pura-pura sedikit lemah.
Aku terdorong oleh pukulan tersebut hingga terlempar menabrak dinding penonton.
"Biar aku atasi."
Viore bergerak ke samping dia mengambil mendali lalu menembaknya dengan senjata hingga muncul sosok roh ular raksasa.
"Snike rubuhkan golem itu?"
"Baik tuan putri."
Ular dengan cepat melilit kedua kakinya hingga hancur berkeping-keping, di saat yang sama Viore mendorong satu kaki ke wajah golem selagi menyeringai dengan pistol yang diarahkannya.
"Semoga dosamu terampuni."
Door.
Dalam sekejap golem tersebut melebur menjadi debu, dia sebenarnya tak perlu memanjatkan doa lagipula yang baru dia kalahkan hanya boneka tak jiwa yang dikendalikan oleh mermaid dari kejauhan.
Aku bisa melihat itu.
Walau tampak kesal Mermaid sepertinya berusaha menutupinya dan beralih ke pertarungan ke dua melawan naga terbuat dari bebatuan.
Bentuknya berbeda namun tetap saja ini golem.
Aku mengambil peran sebagai orang teraniaya, tubuhku dibanting ke sama kemari kemudian diinjak, saat perhatiannya teralihkan, dengan cepat Viore meluncur di bawah perutnya dengan beberapa tembakan yang ditunjukkan ke arah golem tersebut hingga tumbang lalu hancur.
"Kau tak apa?"
__ADS_1
"Tidak masalah."
"Lukamu kembali sembuh."
"Ini hanya satu dari kemampuanku," kataku bangga.
Mermaid melayang ke depan kami untuk mengumumkan pertandingan selanjutnya, dia tersenyum lalu berkata.
"Pertandingan ketiga, kalian harus bertarung satu sama lain dan siapapun yang menang bisa memilih roh yang dia inginkan."
"Tunggu sebentar, bukannya dari awal kami bertarung bersama," kataku.
"Ini hanya bagian kejutan dari pertandingan, bagaimana sekarang?"
Viore sudah siap dengan pistolnya.
"Maaf Redo, aku harus mengalahkanmu... aku akan memanjatkan doa agar dosamu terampuni."
"Jangan terburu-buru, apa kau menyadarinya?"
"Semua aturan yang barusan, semuanya dibuat oleh Mermaid secara mendadak."
"Eh?"
Viore melirik ke arah Mermaid yang memalingkan wajahnya.
"Dia bilang bahwa dirinya ditugaskan pemiliknya untuk menguji siapapun yang ingin mendapatkan roh tapi menurutku tidak ada pemiliknya dari awal, dia sendiri yang membuat tempat ini serta peraturannya.. sudah jelas dia sedang mempermainkan kita sebagai hiburan."
"Apa itu benar?"
"Kau pintar juga, itu memang benar... semua hal di sini aku sendiri yang menentukannya, tiga pertarungan atau hal lainnya sejauh ini aku telah membuat sekitar 1.000 orang gagal."
__ADS_1
"Kau pasti bercanda, aku barusan mengalahkan mereka dengan mudah."
Mermaid mengarahkan tatapannya padaku.
"Sejak tadi dia melemahkannya, walau terlihat teraniaya sebenarnya dia terus menghisap energi sihir yang kutanamkan di kedua golem tersebut hingga kau bisa mengalahkannya dengan mudah."
"Sudah ketahuan yah... jadi bagaimana sekarang? Kami menginginkan mendali itu untuk diri kami sendiri dan kami tidak ingin bertarung satu sama lain Pisces."
"Apa yang kau katakan dia itu..." suara Viore langsung terhenti.
"Aku benci sekali orang yang selalu mampu memahami segala hal, benar aku roh bintang Pisces."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku bisa merasakan energi sihir dari seseorang ataupun roh.. aku merasa tingkatan miliknya sesuai dengan Aries."
"Sebenarnya kau ini siapa?" balas Viore tersenyum masam sementara Pisces mendorong wajahnya ke depan wajahku.
"Kau mengenal Pisces?"
"Berbeda denganmu, dia itu masih mau melayani tuannya."
"Berarti dia mendapat tuan yang baik."
"Jadi bagaimana sekarang?"
Pisces mundur ke belakang.
"Semua roh bintang selain aku dan Aries memang memilih tinggal di dunia roh, tapi aku tidak berniat melayani seseorang lagi... aku hanya membuat ini untuk bersenang-senang, karena kalian berdua menginginkan masing-masing roh yang kutawarkan maka aku akan mengabulkannya dengan satu syarat, kalian berdua harus melawanku secara bersamaan tentu aku melarang kau menggunakan sihir selain kekuatan fisikmu sendiri."
Roh ini memang cerdik.
__ADS_1
Karena tahu dia tidak bisa mengalahkanku maka peraturannya dia rubah.
Aku mengangguk sebagai jawaban.