
Setelah mengintrogasi keempat buronan ini, kami mendapatkan informasi bahwa orang bernama Skargo akan menyerang benteng Antartika.
Tanpa melemahkan penjagaan ibukota, hanya aku saja yang pergi ke sana. Di sana aku bertemu dua orang saudara yang memimpin pasukan dia adalah Frigel dan satu lagi Kelly.
"Senangnya orang sekuatmu, akan membantu kami juga," ucap Frigel mengibaskan rambutnya sementara adiknya tersenyum kecil lalu mengulurkan tangannya.
"Mohon kerja samanya."
"Sama-sama."
Aku menerima jabat tangan tersebut.
Berbeda dengan kakaknya, dia orang yang bersikap normal. Tepat saat kami kembali ke pos pemeriksaan, seekor burung domba jatuh di atas kota, di sana dia menyemburkan api yang membakar sekelilingnya.
"Hari ini, aku akan menghabisimu, serang."
"Hoi."
Aku hanya menatap orang-orang yang terbang dengan sepatu mereka dari atas tembok tinggi.
Sekarang waktunya untuk melawan musuh sebenarnya.
Skargo muncul di depanku dengan topeng di wajahnya, hal yang jelas darinya rambutnya berwarna perak.
"Kau yang akan melawanku... aku juga akan membunuhmu."
Skargo menciptakan pipa besi di tangannya yang dia lemparkan dengan cepat, aku menangkapnya dengan tanganku sebelum membuangnya ke samping.
__ADS_1
"Sebenarnya dari mana kau mendapatkan topeng itu?"
"Topeng ini aku dapatkan di sebuah kota di daratan sana, kudengar ada tujuh dari mereka."
"Tujuh?"
Dia melanjutkan.
"Topeng ini dibuat dari monster yang sangat kuat, karena itulah aku mengumpulkan semuanya. Sayangnya satu lagi tidak bisa aku temukan di manapun."
Aku tahu alasannya.
Lima topeng lainnya muncul di sekeliling Skargo dan kemudian menempel di tubuhnya.
Tepat saat dia memunculkan pipa besi yang lain, aku juga menciptakan pedang kemudian saling membenturkan satu sama lain hingga memercikan api ke udara.
"Benar sekali, aku adalah seorang Dewa sepantasnya kalian semua memujaku."
Kami saling menjaga jarak kemudian membenturkan senjata kembali dengan bunyi memekakkan telinga.
Kuayunkan pedang sejajar untuk memenggal kepalanya dan ia menahannya dengan baik.
"Hanya segini kekuatanmu, aku ini Dewa berlututlah padaku."
Skargo menendangku dari samping mengirimku jatuh dari tembok. Di momen kejatuhanku, aku memutar tubuhku untuk menginjakan kedua kakiku di tanah kemudian meluncur kembali ke arah Skargo.
"Fire Bolt."
__ADS_1
Salah satu topeng terbang untuk menahan seranganku sebelum kembali menempel, sepertinya aku memang harus menghancurkannya lebih dulu.
Aku kembali mendarat di atas tembok saling berhadapan dengan Skargo, orang ini jelas tidak bisa aku biarkan seenaknya.. Kedamaian yang selalu kujaga di sana, tidak akan kubiarkan dia menciptakan perang lagi.
Setiap topeng miliknya bersinar, saat aku sadari seluruh langit di kota ini telah berubah menjadi lautan mata raksasa.
Dari mata itu menembakan seluruh elemen, seperti api, petir dan lainnya.
Skargo melebarkan tangannya selagi berteriak.
"Lihatlah, inilah kekuatan Dewa... seluruh orang di kota ini akan mati."
Dewa apa yang hanya memberikan kematian saja. Jika demikian maka aku juga akan menggunakan itu.
"Area Field.... Zona Penghakiman."
Bersamaan itu rantai-rantai menyeruak dari dalam tanah lalu menembus seluruh mata yang berada di atas langit, bersamaan itu.
Sebuah rahang besi menangkap seluruh tubuh Skargo hingga menghancurkan temboknya.
Dia menahan rahang itu, untuk tidak menembus tubuhnya.
"Apa-apaan ini, aku seorang Dewa... bagaimana bisa?"
"Kau hanya orang bodoh yang menganggap dirimu lebih kuat dari orang lain, tidak lebih dan kurang."
"Aaaaaaaargh."
__ADS_1
Rahang itu menutup lalu menghancurkan seluruh tubuhnya sebelum menariknya ke dalam tanah.