
Arthur duduk bersandar di dinding selagi mendengarkan penjelasan Mion di depannya yang terbaring di tempat tidur.
Ia memutuskan untuk memanggilnya seperti itu walaupun sebenarnya umurnya lebih tua dua tahun darinya.
Setelah mendengarkan, dia mengerti satu hal tentang kota di dalam benteng ini, yang mirip seperti sebuah katak di dalam sumur. Mereka hidup di sini tanpa mengenal dunia luar seolah ketakutan telah mengunci mereka dalam tempurung.
Para penduduk merasa tidak keberatan, akan tetapi Mion memiliki pemikirannya sendiri... setiap dia bertemu para pedagang dia selalu menanyakan bagaimana keadaan di luar seperti apa rasanya saat angin berhembus menerpa wajahmu, atau bagaimana aroma dari laut itu, hingga akhirnya keinginan untuk melihatnya sendiri muncul di benaknya.
Arthur berkata.
"Jika kau ingin pergi, pergi saja.. kau bisa ikut dengan kami, kurasa Paula akan senang jika kau menjadi temannya dan sama-sama memajukan guild petualang di desa."
"Tapi itu akan terasa sulit."
"Jangan khawatir, aku memiliki rencana."
"Tapi.."
"Tidurlah, dan serahkan sisanya padaku."
"Terima kasih banyak, hari sudah malam, bagaimana kalau tidur denganku di sini malam ini... rasanya sangat kesepian saat tidak siapapun di sampingku untuk membelaiku, aku masih perawan."
Arthur tersenyum lembut lalu berkata.
"Aku akan tidur di sofa saja, selamat malam."
"Selamat malam."
Selagi membaringkan dirinya di sofa, Arthur melirik ke arah langit-langit ruangan dengan pandangan jauh sampai sosok Clara muncul dari belakang sofa dengan jahil.
"Menolak tawaran tidur dari seorang wanita itu, tidak sopan loh."
"Berisik, dari awal kau sudah tahu kan? Dan merencanakan semua ini."
__ADS_1
"Benar sekali."
Clara naik ke atas sofa hingga dia menindih Arthur di atasnya.
"Aku diam-diam menanyakan soal Mion ke pedagang lain, jadi apa yang akan kau lakukan untuk membantunya? Dia sangat cantik dan baik, sungguh menyedihkan jika ia mendapatkan takdir di tempat seperti ini."
Nada Clara terdengar sengaja dibuat-buat seolah dia memang sudah tahu jawabannya.
Arthur hanya mendesah pelan sampai akhirnya Clara memosisikan dirinya duduk di atas perut.
"Katakan pada yang lainnya kita akan sedikit lama di sini, aku akan mengurus sesuatu besok."
"Baiklah, apapun itu tolong libatkan aku... kalau begitu aku pergi."
Clara keluar dari jendela untuk melompat ke bawah selagi menyilangkan tangannya, Arthur hanya memperhatikan punggungnya hingga sosoknya hilang sepenuhnya.
Keesokan paginya Arthur telah menyiapkan beberapa makanan untuk dinikmati mereka berdua, semuanya hanyalah makanan sederhana yang mudah dibuat meski begitu Mion sangat menikmatinya.
"Enak sekali, Arthur sangat pandai memasak."
"Begitu."
"Setelah makan pastikan untuk pergi bekerja."
"Baik."
Sebelum Arthur membuka pintu, Mion memanggilnya.
"Soal kemarin, bagaimana mengatakannya?"
"Jangan khawatir, aku sudah melupakannya saat kau berusaha mengajakku berhubungan intim."
"Kau mengingatnya."
__ADS_1
Arthur buru-buru keluar saat Mion mengejarnya.
"Dasar," kata Mion tersenyum lebar.
Itu adalah markas khusus bagi penjaga kota di mana kepalanya bernama Ladolfo dengan senang menaruh cangkir teh untuk Arthur yang duduk di sofa.
"Silahkan tuan Arthur."
"Panggil saja Arthur."
"Aku tidak mungkin bisa memanggil seseorang yang telah menyelamatkan kota ini seperti itu, kami sangat berterima kasih."
Arthur hanya menyeruput tehnya lalu memulai percakapan.
"Aku dengar di kota ini ada larangan di mana penduduknya tidak boleh meninggalkan tempat ini."
"Benar sekali, di masa lalu tembok ini sudah dibuat sebelum ada aktivitas monster berlebihan terjadi.. penduduk kota inilah yang membuat peraturannya, apa tuan tahu soal wabah yang terjadi di kerajaan ini?"
"Aku sempat membacanya," balas Arthur ringan.
"Dulu beberapa orang terkena penyakit aneh dimana kulit mereka terkelupas, pihak kerajaan tidak ingin ambil pusing soal itu lalu membangun sebuah kota untuk mengurung mereka dengan tembok tinggi yang kita kenal sekarang sebagai Tembok Besar Ivielda, hal itu hampir mengirim seluruh penduduk kerajaan karena dulu kerajaan belum seluas ini."
Ladolfo diam sejenak untuk meminum tehnya lalu melanjutkan.
"Namun secara ajaib orang-orang mulai sembuh karena pada dasarnya itu hanyalah penyakit biasa, raja memutuskan untuk membawa kembali penduduknya ke kerajaan, namun sayangnya semua orang menolaknya dan mengatakan ingin tetap tinggal di sini sebagai bentuk protes karena mereka diabaikan, akibat itu, kerajaan dulu hancur lalu digantikan dengan kerajaan yang baru yang lebih peduli pada rakyatnya, meski begitu semua orang di sini sudah terlanjur menyukai kotanya dan mengatakan bahwa selamanya akan terus berada di sini dan menciptakan larangan bagi siapapun penduduk yang menetap di sini untuk keluar dari tempat ini... aku juga ditugaskan untuk menjaga larangan tersebut agar terjaga baik."
"Jadi begitu, tapi aku ingin meminta pengecualian untuk satu orang."
Ladolfo tersenyum seolah akan mendapatkan tawaran yang bagus.
Ladolfo merupakan penjaga dari pihak luar karena itu dia tidak terlibat langsung dengan peraturan di tempat ini.
"Aku akan menghabisi seluruh monster yang menyerang kota ini sebelumnya, ditukar dengan kebebasan satu orang."
__ADS_1
"Sudah kuduga Tuan memang orang yang menarik."