
Diriku yang lain menjelaskan.
"Wanita yang berada di dalam kristal ini adalah seorang Dewi, lebih tepatnya Dewi kami bernama Nimpa."
Dia seorang Dewi, damage yang kuterima begitu mengejutkan.
"Dahulu beliau adalah Dewi yang paling lemah di alam Dewi, ia tidak memiliki dunia yang dikelolanya sehingga para Dewi dan Dewa mengejeknya dan menertawainya, pada akhirnya Dewi kami hanya menjadi pesuruh, suatu hari beliau memutuskan untuk membuat dunianya sendiri dengan mencopy dunia ini sehingga menjadi dua buah namun sayangnya hal itu ketahuan dan ia dikurung dalam kristal ini, tentu kehidupan di sana dan di sini jelas berbeda.. mungkin hanya kebetulan aku dan dirimu adalah orang yang memegang kunci."
"Kunci apa maksudmu?
Diriku yang lain menyeringai lalu sebuah gerbang raksasa jatuh dari langit di mana di bagian tengahnya terdapat sebuah jam raksasa, sementara itu kristal yang mengurung Dewi Nimpa menghilang dalam sekejap.
Aku juga terkadang menyeringai seperti itu saat melihat dada wanita, mari abaikan tentang diriku dulu.
"Saat aku mengirim naga kehancuran ke alam Dewi, aku diam-diam memanfaatkannya untuk mengambil kristal maupun gerbang yang ada di belakangku, sayangnya hanya kau saja yang bisa membuka gerbangnya dengan sistemmu.
Ada lubang kunci di tengah jam tersebut yang mana sepertinya memang benar hanya aku saja yang membuat kuncinya, pertama aku menggunakan skill penilai.
__ADS_1
[Gerbang Neraka]
Tidak ada informasi yang kuterima selain namanya.
"Jangan repot-repot, aku telah menghalangi siapapun untuk mengetahuinya.... aku tidak terlalu terburu-buru jadi jangan khawatir, jika kau mati maka aku akan mengambil sistem milikmu seperti yang kulakukan pada pahlawan yang kau kalahkan."
"Kau mengambil skill mereka?"
"Tepat sekali."
Tepat saat gerbang di belakangnya menghilang, seekor naga terbuat dari besi muncul dari langit lalu mendarat di tanah, diriku yang lain melompat untuk berdiri di punggungnya selagi memasukan tangannya di dalam saku celananya.
Sudah kubilang musuh selalu memiliki hal keren dipihaknya.
"Aku hanya ingin bicara saja denganmu saat ini, lebih baik tunggu saja masalah yang akan kubuat nantinya."
"Apa kau takut? Lawan aku sekarang," aku menyela hingga dia tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Membunuhmu hal yang mudah untukku, aku lebih suka menunjukkan sesuatu yang mengerikan dari kematian yaitu keputusasaan, kau yang selalu ingin membuat kedamaian di dunia ini hanya akan berakhir sia-sia... hanya satu kedamaian di dunia ini adalah dengan menghancurkan segalanya, dan membuka gerbang neraka."
Aku benar-benar tak tahu apa yang ada di dalam gerbang itu, mungkin saja hal yang sama yang ada di dalam kotak Pandora.
"Untuk pembuktian akan kuperlihatkan sesuatu yang menarik."
Naga itu terbang di atas kota sementara diriku yang lain berkata.
"Area Field... Zona Kehancuran."
Bertapatan saat itu seluruh kota telah hancur dengan kobaran api yang membumbung tinggi, orang-orang hangus terbakar dan anak-anak tampak menangis saat keluarga mereka tertimpa bangunan.
Salmon maupun Manas tak bisa mengatakan apapun kecuali diam membeku.
Lawan mereka sudah lebih dari manusia, dia sudah berada di tingkat Dewa sepertiku. Sosok mereka menghilang di dalam awan sementara aku mengarahkan tanganku ke langit untuk memperbaiki seluruh kota termasuk menghidupkan orang-orang yang mati.
Ini semua diluar pemahamanku, setelah semuanya tenang aku akan menanyakan hal ini pada Dewi yang kukenal.
__ADS_1