Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 364 : Pilihan Dari Semua Orang


__ADS_3

Aku dan Valesta berlari beriringan.


"Fire Bolt, Fire Bolt, Fire Bolt."


"Sesekali gunakan jurus yang keren."


"Jika kulakukan kota ini akan hancur."


"Sebenarnya seberapa besar kekuatanmu?"


Aku melompat untuk mengirim tendangan samping, dengan baik Laura menghindarinya dengan menarik setengah tubuhnya ke belakang lalu menendangku ke samping sebagai serangan balasan.


Sementara aku dihempaskan. Valesta memindahkan dua pedang ke tangannya lalu menebas tubuh Laura dari atas, kendati demikian pedangnya yang hancur hingga menerima pukulan.


Aku menembakan bola api lagi, seperti sebelumnya bola itu juga dipantulkan ke segala arah sehingga ledakan hanya terjadi di luar areanya.


Bahkan setelah menerima kekuatan Mamisa, kami kesulitan melawannya.


Laura memukul perut Valesta hingga dia memuntahkan darah sebelum meluncur sejajar dengan tanah, aku pun memiliki nasib yang sama.


"Sihir dan senjata akan dipantulkan dan ditahan oleh tubuhnya, kita hanya bisa bertarung dengan tangan kosong."


"Itu merepotkan tapi apa boleh buat."


Giliran Laura yang mengirim serangan, aku menangkap sebelah kakinya lalu menendang kaki lain supaya Kehilangan keseimbangannya, saat dia terjatuh Valesta melompat ke atasnya dengan sebuah pukulan.


Sayangnya Valesta dibuat terbang olehnya bertepatan Laura yang bangkit kembali, di saat itu aku meninju tubuhnya tanpa menghasilkan damage apapun.


Sebagai serangan balasan, dia mencengkeram wajahku lalu menghantamkannya ke tanah, hingga aku memuntahkan darah.


"Terima ini."


Bisa kulihat di bawah langit itu Valesta sudah siap dengan dua meriam, aku menggunakan sihir teleportasi hingga muncul di sampingnya sebelum meriam itu ditembakan.


"Full Buster."

__ADS_1


BOOOOOMMMMMMM!!! DUAAAARRRR!!!


Lingkaran ledakan meratakan seluruh area kota bersama Laura di dalamnya, kami berdua turun ke arah kawah raksasa yang telah tercipta di sana, sementara Laura terbaring dengan wujud manusianya.


Berkat Mamisa kekuatan Valesta naik 10 kali lipat.


"Aku kalah, bunuh aku."


"Kurasa aku tidak perlu membunuhmu, selagi kau berhenti melakukan ekpresimen berbahaya," kataku membalas.


"Kalian berdua baik-baik saja."


Mamisa meluncur di lubang untuk bisa bersama dengan kami, dia berusaha memelukku dan aku mendorongnya menjauh.


"Jangan malu-malu."


"Pergilah."


"Aku tidak ingin melakukannya."


Laura tertawa.


"Membunuh siapa maksudmu? Hornes baik-baik saja di sana."


Kami mengalihkan pandangan ke atas dimana dia berdiri tanpa luka sedikitpun selagi melambaikan tangan.


Tentu dia bukan hantu atau semacamnya.


"Bagaimana bisa? Aku yakin tubuhnya sudah meledak."


"Aku bisa menghidupkan orang mati jika roh atau jiwanya masih berada di sini."


"Kau ini Dewa kah?"


Aku hanya membalas dengan menaikan bahuku ke atas, dari awal aku tidak berniat membunuh dewan penyihir.

__ADS_1


Setelah kota diperbaiki dengan sistemku, aku mengambil surat pembatalan dewan penyihir untuk selamanya, aku memiliki dua dari mereka di mana itu berasal dari Valesta dan Laura.


"Aku bukan dewan penyihir, maaf tak bisa membantu."


"Jangan dipikirkan. Setelah ini, apa yang akan kalian lakukan?"


Aku mengalihkan pandangan ke arah Laura.


"Sepertinya aku akan kembali ke rumahku di desa setelah itu baru memikirkannya," balasnya demikian.


"Kuharap kau tidak membuat lagi eksperimen aneh."


"Aku tidak akan lagi melakukannya."


Valesta menambahkan.


"Kami akan ke ibukota, kurasa kami lebih baik bergabung dengan kerajaan mulai sekarang."


"Begitu."


Ketiga orang itu menaiki kereta para pedagang hingga akhirnya ketiganya menghilang.


"Akhirnya hanya kita berdua sekarang."


"Kau? Bukannya aku sudah mengusirmu," teriakku pada Mamisa.


"Tapi aku memutuskan untuk terus bersamamu."


"Padahal karirmu di sini sudah bagus."


"Di sini banyak idol selain diriku kurasa meski aku tidak tinggal di sini keceriaan pasti tidak akan menghilang."


Aku mendesah pelan.


"Baiklah, tapi syaratnya... saat berada di desaku kau harus menyebarkan musikmu."

__ADS_1


"Dengan senang hati, aku akan buat idol yang lainnya nanti."


Aku hanya tersenyum ke arahnya sebagai jawaban.


__ADS_2