
Keesokan paginya ujian penerimaan masuk akademi telah dimulai, kecuali para bangsawan dan kandidat dari ketiga pelayanku semua orang wajib mengikuti tes ini.
Tes terdiri dari tulisan serta ujian fisik meliputi sihir dan penggunaan senjata. Di bantu para prajurit kerajaan serta malaikat semuanya akan baik-baik saja.
Aku hanya datang untuk membuka akademi ini dengan sepatah kata dua kata dan sisanya akan kuserahkan pada Asteropedia Platinum sebagai pengawas.
"Kita pergi sekarang," atas ajakan Rusina aku mengangguk dan berjalan ke luar ibukota di mana sepasang kuda telah di tempatkan di sana serta seratus pasukan yang siap bertempur.
"Kami sudah menunggu Anda tuan."
"Kita akan membantu kerajaan demi-human aku meminta kalian tidak terlalu jauh dariku supaya aku bisa menghidupkan kalian saat mati."
"Tuan pasti bercanda?"
"Tidak juga."
Aku dan Rusina naik ke atas kuda dan lalu berjalan dimana peperangan sedang berlangsung, setiap prajurit yang kubawa mengenakan pelindung putih seperti pasukan suci.
Perlu tiga hari untuk sampai ke sana terlebih aku sudah mengirim surat sebelumnya jadi pasukan demi-human tidak akan terkejut saat kami tiba.
Dari atas bukit tampak kumpulan demi-human sedang bertarung dengan pasukan beramor gelap, aku melihat komandannya sedang bertarung dengan sosok pria bertubuh beruang.
Jika aku bisa menjatuhkan komandannya peperangan ini akan mudah. Aku berdiri dari kuda lalu menciptakan busur dari tanganku dengan panah api.
Saat melesatkannya, seorang yang bertarung dengan beruang itu tumbang ke tanah tanpa perlawanan, semua prajurit terlihat terkejut.
"Semuanya serang."
__ADS_1
"Aaaaah."
Pasukanku mulai menerjang ke depan begitupun aku dan Rusina, kami menebas musuh dengan pedang kami dan beberapa orang juga mampu menggunakan sihir.
Akibat dari komandan mereka yang jatuh pasukan musuh mulai terpecah belah hingga kami berhasil menjatuhkan setiap musuh dan mengikat pasukan yang menyerah, beruang itu berkata ke arahku selagi menyandarkan pedang besarnya di bahunya.
"Namaku Guarda, aku sudah mendengar dari ratu, bahwa akan ada yang membantu kami di garis depan.. terima kasih banyak."
"Bukan masalah."
"Rusina dia sudah mati," aku segera menegurnya yang terus saja menusukan pedang di tangannya pada seorang mayat.
"Dia menyentuhku, aku belum puas."
Orang ini, padahal selama ini berpenampilan tidak senonoh.
Ketika aku mengecek keadaan yang lainnya tiba-tiba saja seseorang jatuh dari langit menghempaskan kami semua ke segala arah, aku buru-buru menutupi wajahku dan melihat orang yang berdiri di sana, dia adalah iblis yang berpenampilan seperti seorang kesatria dengan tubuh tengkorak yang dilindungi baju besi serta jubah di belakang punggungnya yang berkibar tertiup angin.
"Apa-apaan ini, kukira lawan kalian hanya manusia dari kerajaan sebelah?"
"Maafkan kami belum memberitahukannya, tapi baru-baru ini pasukan kerajaan musuh telah bergabung dengan raja iblis Disolva."
Aku mendesah pelan saat kumpulan pasukan tengkorak bermunculan dari dalam tanah.
"Namaku Baro, salah satu komandan pasukan raja iblis Disolva.. mulai sekarang aku yang mengambil alih pertarungan ini."
Rasanya dunia ini sedang mempermainkanku saja, pertama kerajaan bersekutu dengan para pahlawan untuk memberikan negara pada para Oni, sekarang kerajaan bersekutu dengan raja iblis.
__ADS_1
Yang benar saja?
Aku harap bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat agar aku bisa hidup bersantai tanpa harus terlibat hal konyol ini lagi.
Baro melompat ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku sudah terbiasa dengan pertarungan ini jadi aku segera menahannya dengan pedang milikku bernama Grandbell yang memiliki kekuatan setara Excalibur.
"Pedang yang bagus."
"Aku tidak perlu mendengarnya darimu."
Aku menguatkan tanganku hingga Baro terlempar jauh dengan detungan memekakkan telinga saat dia bangkit seluruh area di sekelilingnya berhenti bergerak.
Dia mampu menghentikan waktu sepertiku, aku pura-pura terkena jebakannya hingga dia melangkah mendekat.
"Death Time, dengan kemampuan ini aku bisa menghentikan kalian hingga tak bisa bergerak sedikitpun, bagiku membunuh adalah yang mudah, karena itu matilah."
Saat dia hendak menebasku, pedangku lebih dulu menembus tubuhnya.
"Mustahil? Bagaimana bisa kau?"
"Maaf saja tapi bagiku juga membunuh hal yang mudah."
"Kau bisa menggunakan sihir ruang dan waktu."
"Hal itu bukan mengejutkan bukan, nama pedang ini adalah Grandbell yang mampu membunuh makhluk apapun termasuk Undead sepertimu, bahkan Dewa pun bisa terbunuh olehnya."
"Sebenarnya kau ini siapa? Aku harus memperingati tuan tentangmu."
__ADS_1
"Semuanya sudah terlambat."
Saat waktu kembali bergerak tubuh Baro hancur menjadi debu.