Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 121 : Festival Para Naga


__ADS_3

Setiap tahunnya ada sebuah perayaan yang diadakan para naga untuk mempererat hubungan mereka dan sekarang bersama seluruh penghuni masion kami sedang merapatkannya.


Ronald dan keluarganya juga telah kembali jadi mereka turut bergabung bersama kami.


"Ini adalah festival pertama yang akan diadakan di desa, karena itu kita harus membuatnya sangat meriah," atas pernyataanku semua orang mengangguk setuju.


Rusina mengangkat tangannya.


"Membuat kios dan pertujukan hal itu cukup biasa, kita harus membuat sesuatu yang lebih berbeda bagaimana kalau semua orang yang ikut festival harus telanjang?"


Orang ini selalu mengeluarkan ide gila dari kepalanya, syukurlah semua orang mengangkat papan tulis dengan tulisan 'Tidak' untuk menolaknya, aku pikir Selly dan Sella akan setuju kurasa mereka benar-benar sudah berubah.


"Kios dan jajanan pinggir jalan harus selalu ada, yang kita pikirkan adalah sesuatu yang bisa membuat meriah," ucap Felisa menjelaskan lalu disusul Amnestha.


"Mari tanya ke Hesna saja yang memiliki sudut pandang seekor naga?"


"Tunggu, aku juga naga apa tidak ada yang menanyaiku," Nermia memprotes.


Spesies naganya berbeda, lagipula Nermia itu tinggal di laut dan tak bisa jauh dari air, di masion ini juga dia lebih sering menghabiskan waktunya di kolam berenang.


"Jika untuk naga hal ini sudah cukup, dibanding perayaannya kami para naga lebih suka soal pertandingannya."


Di hari ketiga festival ada sebuah pertandingan bela diri dari naga untuk menentukan siapa yang paling kuat, biasanya naga paling kuat akan sangat mudah untuk mencari pendamping hidup dan memiliki kehormatan sebagai naga sesungguhnya.


Itulah yang sangat mereka nantikan.

__ADS_1


Tentu pihak luar tidak bisa mengikuti hal itu, yang menjadi masalah adalah tak hanya naga yang tinggal di sini melainkan para manusiapun juga turut bergabung, jika aku lebih mementingkan naga itu akan menyakiti sebelah pihak.


Lolia mengangkat tangannya dengan ide yang menarik.


"Mari buat kontes kecantikan di hari pertama, dengan itu akan banyak orang luar juga tertarik, selembaran pemberitahuan juga diperlukan."


Saat mendengar itu entah kenapa para istriku terlihat sangat bersemangat, mata mereka terlihat berapi.


"Kami setuju dan biarkan suami kami sebagai jurinya," jawab Felisa.


"Oi, itu sangat berbahaya.. aku tidak mungkin bisa menilai kalian," atas protesku Ronald meletakan tangannya di bahuku selagi menggeleng-gelengkan kepalanya memintaku untuk menyerah hingga aku hanya bisa menjatuhkan bahuku lemas.


Jika aku salah akan terjadi perang dunia di masion ini nantinya.


"Satu hal lagi yang akan kubahas adalah kita akan membuat warung juga beranggotakan kita semua."


"Kita semua, apa tidak terlalu banyak?" tanya Selly.


"Tidak, sejujurnya aku akan membuat warung yang belum ada di tempat manapun yang berhubungan dengan slime," mendengar slime Selly dan Sella segera berdiri.


"Mungkinkah makanan yang waktu itu?" tanya Sella yang mendapatkan anggukan dariku.


"Aku suka sekali."


Selain mereka berdua semua orang tampak kebingungan, aku bisa melihat jelas apa yang sedang mereka pikirkan seperti.

__ADS_1


Apa slime bisa diolah jadi makanan?


Tentu jawabannya bisa, hanya perlu sedikit mengolahnya makanan enak akan langsung tercipta.


Slime di alam liar memakan rerumputan karena itu bahan itu termasuk kualitas terbaik.


"Aku pikir hasil penjualannya bisa kita bagi bersama."


Lili memotong.


"Maaf tuan ini terdengar lancang, kami sudah hidup berkecukupan dengan uang yang Anda berikan, alangkah lebih baik jika uang itu kita gunakan untuk sesuatu yang lebih besar."


"Sesuatu lebih besar? Apa itu?" tanyaku kembali.


"Membuat patung Anda yang sangat besar, agar semua orang bisa melihat sosok tuan yang luar biasa."


"Aku setuju," Riel yang lebih cepat memberikan persetujuannya disusul Minerva yang mengangguk-anggukan kepalanya.


Untuk Rin dan Gabriela mereka lebih suka membuat patung mereka sendiri yang sedang menggodaku yang duduk di kursi singgasana.


"Oi."


Semua orang kecuali aku menatap ke atas dengan pandangan bersinar.


Itu malah terdengar seperti aku ini orang yang selalu eksis.

__ADS_1


__ADS_2