
Aku berdiri di tanah luas dimana seorang pria bertubuh kekar masuk ke dalam arena, dia memiliki wujud seperti Tiger karenanya namanya Black Tiger.
"Jadi kau lawanku yang pertama, kau terlihat seperti manusia biasa."
Semenjak reinkarnasiku aku memang terlihat seperti itu, padahal aku mengingat aku yang kejam di masa lalu. Aku membalas perkataan pria di depanku dengan nada ringan.
"Kau terlalu bersemangat, kalah dan menang bukannya sama saja."
Sebelum pertandingan ini dilaksanakan semua pria telah mengisi informasi bahwa dirinya belum menikah, jika ada yang berbohong mereka akan di hukum mati di depan seluruh penduduk kota, sedangkan untuk para elf hal itu tidak masalah.
Entah itu janda mereka masih bisa menjadi hadiahnya.
Black Tiger tertawa.
"Lihat di sana, ratu adalah hadiah utama dia bukannya sangat cantik."
Jika dia tahu kepribadian aslinya aku rasa dia akan berubah pikiran, tapi biarlah hal itu juga tidak perlu kukatakan.
Semua teriakan dukungan terdengar dari bangku penonton yang menyerupai bangku stadion bola ini, saat bunyi lonceng terdengar kami berdua saling baku hantam di arena.
__ADS_1
Black Tiger yang memiliki kecepatan, bergerak zig-zag untuk mengecohku, kaki yang dicipta untuk kecepatan memang sangat berguna dalam pertarungan jarak dekat. Aturan pertandingan ini melarang siapapun menggunakan sihir karena itu cuma dengan satu tendangan aku melempar Black Tiger menabrak dinding membuatku menjadi pemenangnya.
Hal ini sangat mudah.
Aku kembali ke ruang tungguku dimana Hesna sedang menunggu.
"Seperti diharapkan tuan sangat baik, tuan membiarkan dia memukul tuan beberapa kali agar dia tidak kalah dengan memalukan."
"Setiap pria selalu ingin bersikap keren kurasa aku melakukan yang tepat."
Aku duduk di kursi yang disediakan Hesna sementara Black Tiger kini keluar arena bersama Elf yang sejujurnya cukup cantik, jika di dunia lamaku ada seperti ini pria tidak mungkin akan ada yang menjomblo.
Setelah satunya kalah lalu pertandingan kedua dan seterusnya digelar hingga giliranku kembali tiba, lawan selanjutnya adalah pria biasa yang terlihat rata-rata.
Dia menyibak rambutnya sebelum melangkah maju menyerangku.
"Hiyat... hiyat..."
Suaranya cukup mengganggu.
__ADS_1
"Wataw... wataw."
Aku memukulnya sekali dan ia keluar arena, dengan ini kemenanganku yang kedua, paling tidak kuharap seseorang bisa membuatku berkeringat.
Bahkan ketika aku mengatakan itu sampai final tidak ada yang bisa melakukannya, aku bisa melihat ekspresi senang dari Aerith, dia pasti memikirkan hal aneh-aneh setelah ini.
Aku mendesah pelan saat menatap lawanku selanjutnya. Dia pria botak dengan wajah tampan.
"Aku akan mengalahkanmu, bersiaplah," katanya memunculkan sinar cerah dari giginya, karena sikapnya menyebalkan aku mengalahkannya tanpa membiarkan dia menyentuhku dengan ini aku menjadi pemenangnya, di saat panitia mengumumkan kemenanganku tiba-tiba sebuah asap mengepul di setiap penonton. Hesna yang melihatku segera masuk ke arena lalu mengawasi sekitar.
"Tuan?"
Aku segera mengalihkan pandangan ke arah Aerith, dimana seharusnya dia berada malah menghilang, para penjaga mulai kebingungan sedangkan aku meminta Hesna membawaku terbang ke langit dengan wujud naga emasnya.
Dari ketinggian itu aku bisa melihat sosok bertudung hitam sedang membawa Aerith yang tak sadarkan diri di punggungnya. Tak hanya dirinya beberapa monster raksasa berada di setiap sudut kota. Aku meminta Hesna melemparku ke arah sosok itu dan menyuruhnya mengatasi seluruh monster.
Aku mendarat baik di bawah, saat pria itu menyadari kedatanganku dia menyentuh lantai batu dan menciptakan Golem dari sana.
Dia Alchemist.
__ADS_1
Selagi terus berlari aku menghancurkan Golem tersebut dan kulihat dari kejauhan sosok itu masuk ke dalam hutan Eldior.