
Bersama Draggel dan pelayanku, kami akan mengunjungi lembah Wyvern, untuk ke sana kami harus menuruni pegunungan dan menyisir jalan bebatuan.
Aku baru tahu bahwa alat transportasi bukan hanya kereta gantung melainkan Wyvern juga, itu menjelaskan kenapa para penyerang bisa cepat sampai di kota.
Dengan skill Tamer yang kucuri aku bisa menjinakkan masing-masing satu untuk kita, namun sayangnya hal itu malah jauh dari perkiraanku.
Dikelilingi para Wyvern, kami jelas tidak bisa bergerak.
"Apa yang mereka katakan tuan?" tanya Gabriela.
"Mereka seperti berkata, apa yang kalian mau hingga datang kemari?"
"Kami datang untuk meminta bantuan," ucap Draggel dan aku melihat bahwa mereka tertawa.
Jika mengalihkan pandangan ke sisi jurang, ada lebih banyak Wyvern di sana, mereka bersarang di dindingnya selagi memberi makan anak-anaknya.
Seekor Wyvern dengan mahkota merayap mendekat ke arahku hingga aku bisa merasakan uap nafas darinya.
Rin dan Amnestha bersiap untuk menyerang namun aku menghentikannya.
Wyvern itu berkata.
"Belakangan ini ada manusia yang memperbudak kami, kami tidak akan percaya pada manusia."
Tentu saja hanya aku yang mengerti apa yang dikatakannya. Jika begini kurasa negosiasinya akan lebih mudah.
"Jangan salah paham, kami bukan teman mereka malahan mereka adalah musuh kami juga, bagaimana jika kita beraliansi saja, kalian membantu kami dan kami membantu kalian.. bukannya itu bagus?"
Wyvern itu menatapku tajam.
__ADS_1
"Kalahkan aku maka aku akan mempercayainya."
"Jika itu jalan satu-satunya, aku akan menerima tantanganmu."
Aku memberikan pedangku pada Amnestha sebelum berdiri berhadapan dengan Wyvern tersebut.
"Kalahkan dia tuan."
"Tentu," balasku singkat pada Amnestha.
Wyvern itu mengambil wujud manusia yaitu seorang wanita dengan rambut hitam, berbeda dari naga, tubuh Wyvern tidak sepenuhnya terlihat seperti manusia mereka masih mempertahankan sisik di tubuh mereka.
"Jika salah satu kita keluar dari lingkaran putih maka mereka dinyatakan kalah, tidak boleh menggunakan sihir ataupun senjata," katanya demikian.
Tentu hanya aku yang bisa mengerti ucapannya, terlebih semua Wyvern ini berbicara lewat telepati.
Aku mengangguk mengiyakan hingga duelpun di mulai.
Sang ratu mengirim sebuah tendangan yang mana kutahan dengan kedua tanganku.
"Sebagai seorang manusia kau hebat juga."
Aku mendorong kakinya hingga dia melompat menjaga jarak.
"Di tempat asalku, aku ini dianggap paling lemah karena aku orang desa."
"Berarti kau telah bekerja keras sampai saat ini, aku mengakuinya."
"Aku cukup tersanjung."
__ADS_1
Kami berdua saling melempar pukulan dan tendangan, bahkan ketika hari sudah gelap kami masih melakukannya.
Ketiga pagi datang semua penonton mulai terbangun dari tidur mereka dan menemukan bahwa aku tergeletak di dalam lingkaran sedangkan Wyvern itu tergeletak di luar lingkaran.
Sudah jelas bahwa aku pemenangnya.
Ketiga pelayanku segera membantuku berdiri, sedangkan Wyvern itu kembali ke bentuk aslinya.
"Bagaimana kau bisa mengalahkannya?"
"Aku tidak ingin mengatakannya," kataku demikian.
Gabriela memotong.
"Paling juga tuan terus melecehkannya."
"Bagaikan kau tahu?" tanyaku.
Wyvern itu tampak marah lalu mengejarku.
"Tunggu, kenapa kau? Bukannya aku pemenangnya."
"Aku akan balas dendam."
"Uwaaaaah."
Draggel berkata ke arah pelayanku.
"Orang itu, benar-benar sampah bahkan dia juga melecehkan Wyvern, apa kalian yakin tidak ingin mencari tuan lain?"
__ADS_1
Rin menjawabnya dengan santai.
"Walau tuan kami seperti itu, beliau memiliki lebih banyak hal baik daripada orang lain tahu," perkataan itu sederhana akan tetapi memiliki makna yang dalam.