
Aku mendesah pelan saat wanita bernama Amnestha itu terus mengikuti kami berdua kemana saja, dia mengambil makananku kemudian menerobos masuk saat aku mandi bahkan menggodaku dengan dadanya yang melimpah.
"Boing-boing bukan?"
"Tolong jangan menggodaku saat aku makan."
Aku pikir dia sudah gila hingga melakukan ini semua. Dan sesekali aku melihatnya berkelahi dengan Gabriela di luar, semua itu terjadi selama sebulan penuh.
Satu hal yang ingin kukatakan hanyalah.
"Pergi sana."
Perkataan itu tidak bisa mencapainya hingga pada akhirnya aku menuruti apa keinginan Amnestha yaitu mengambil sebuah pedang terkutuk yang berada di wilayahnya.
Konon wilayah ini di sebut wilayah paling hijau di dunia ini akan tetapi yang kulihat sekarang hanyalah kebalikan dari perkataan itu, sepanjang jalan hanya diisi oleh rangka dari tulang berulang yang kehilangan kulit dan dagingnya, pepohonan tampak mengering terlebih kabut hitam pekat yang berbau aneh.
"Apa kau ingat siapa yang menancapkan pedangnya?"
"Kalau tidak salah dia bawahan dari Behemoth, karena dia tidak suka yang hijau dia malah melakukan ini semua."
"Mungkin dia orang yang benci sayuran," balasku ringan.
"Aku sudah mencoba menghentikannya sayangnya semuanya terlambat."
__ADS_1
Roh agung kalah apalagi aku orang desa berlevel lemah.
Saat kami berjalan semakin jauh beberapa pasang mata berwarna merah bermunculan, dari bayangannya mereka tampak seperti manusia namun berjalan lambat serta meraung-raung tidak karuan.
Aku ingin mengatakan bahwa mereka Undead.
"Kurasa wilayahmu dijadikan tempat pembuatan pasukan," kata Grabiela selagi menembak sihir cahaya.
"Pantas saja beberapa pengendara kuda membuang mayat-mayat kemari."
Sekarang masalah bertambah parah.
"Nah Amnestha tolong berdiri di depanku."
"Lakukan saja."
"Baiklah... lalu."
Aku menyentuh dadanya.
"Sekarang aku bisa mati tanpa penyesalan."
Grabiela mengirim tinjunya membuatku terbang menghantam beberapa pohon di belakangku, dia berjalan mendekat untuk mencengkeram kerahku selagi menggoyang-goyangkan badanku.
__ADS_1
"Bukan waktunya melakukan hal aneh-aneh di saat seperti ini, apa job dari orang desa berubah menjadi job mesum seiring waktu."
Para zombie mulai bermunculan, dari tanah yang mereka pijak akar-akar mulai merambat keluar lalu melilit tubuh mereka hingga hancur.
Amnestha membetulkan sulur yang melilit tubuhnya.
"Barusan bikin kaget saja, mari lanjutkan perjalanan kita."
"Kau bertingkah seolah hal barusan bukan apa-apa," kata Grabiela.
"Aku tidak keberatan, jadi tidak perlu dipermasalahkan."
"Dasar murahan."
Aku kembali berjalan mengikuti keduanya, kukeluarkan dua pisau dari pinggangku untuk bersiaga dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Satu unded muncul tepat di depanku secara mendadak yang mana kusayat bagian lehernya hingga kepalanya jatuh ke bawah lalu kutendang ke dalam semak-semak. Dibanding para undead ancaman sesungguhnya baru saja dimulai.
Di depan kami seekor Carberus tipe undead berdiri selagi menghalangi pedang yang berada di belakangnya, pedang itu bernama pedang Grandbell yang membuat wilayah ini seperti ini.
Hanya seorang yang berasal dari job lemah saja yang bisa mencabutnya dan saat dicabut pedang itu akan menilaimu apakah kau pantas atau tidak sebagai penggunanya. Jika tidak pantas pedang itu akan menelanmu dalam kegelapan kemudian tubuhmu hancur lebur seperti orang yang menancapkannya di sana.
Carberus memiliki tiga kepala yang masih-masing dari mereka meneteskan air liur serta gigi yang lebih tajam dari rahang hewan apapun.
__ADS_1
Karena Carberus ini tipe Undead maka air liur yang menetes dari mulutnya adalah racun.