
Di salah satu kota aku duduk di teras selagi memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang, aku mengenakan jubah usang dengan tudung menutupi kepalaku jadi semua orang tidak memperhatikan.
Tak lama kemudian seorang yang berpenampilan sama sepertiku muncul dan berbisik ke arahku, tentu dia adalah Bellatrix.
"Kau sepertinya diikuti," kataku.
"Benarkah?"
Saat aku melihat ke dalam sebuah gang, tampak seorang berlari menjauh.
"Kejar dia."
"Baik."
Aku dan Bellatrix menerobos pejalan kaki lalu menyelinap di dalam gang-gang sempit, sementara orang yang kami kejar, melompat dari dinding ke dinding dengan lihainya, dia melompat menggunakan pijakan tong sampah kemudian kedua tangannya menangkap pagar kayu dan bersalto ke depan.
"Kejar terus Bel, aku akan ambil jalan lain."
"Sudah kubilang jangan panggil aku Bel."
Aku kembali keluar gang dan berlari melewati jalan utama, jika aku mengambil rute ini maka aku akan tepat menemukannya dalam hitungan sepuluh.
Aku melewati orang besar.
Sembilan.
Melewati dua orang anak dan ibunya.
Delapan.
Melewati penjual balon.
Tujuh.
Melewati wanita bahenol.
Enam.
Melewati kereta kuda
Lima.
Melewati tukang kredit.
Empat.
__ADS_1
Melewati tukang cacingmen.
Tiga.
Melewati ojek payung.
Dua.
Melewati tukang sate.
Dan satu.
Sekakmat.
Orang yang kami kejar menabrakku dengan keras dari depan hingga terjatuh.
"Ada apa Kazuya?" tanya Bellatrix.
"Barusan terasa lembut."
"Apa mungkin dia wanita?"
Ketika Bellatrix melepaskan tudungnya, ternyata memang benar itu wanita, dia memiliki rambut pirang sanggul dengan postur dada besar serta pinggul sempit.
"Jadi kenapa kau memata-matai kami?"
"Dia melarikan diri, apa sebaiknya kita mencarinya?"
"Sepertinya tidak usah, aku yakin dia bukan berada di pihak kerajaan."
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya balik Bellatrix dan aku menunjukkan emblem yang kutemukan tepat saat wanita itu terjatuh.
Bentuknya merupakan kepala tengkorak dengan pedang menembus di bagian samping.
"Kemungkinan besar dia dari kelompok yang membenci kerajaan ini atau kelompok bandit."
"Ah begitu."
Kriutt..
Perut Bellatrix berbunyi keras.
"Kau lapar?"
"Aku ingin makan sesuatu," katanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku baru melewati tukang sate, kita bisa memesan beberapa."
"Tukang sate, apaan itu?"
Saat aku menunjukan penjualnya, Bellatrix mengerenyitkan alisnya.
Penjual itu mengenakan baju garis-garis dengan kumis melingkar panjang.
"Te-satte... Abang beli sate taiye."
"Emangnya ini enak?" tanya Bellatrix.
"Boabo jelas enak neng... kalau saya bohong sumpahi neng tersambar petir."
"Bukannya harusnya kau sendiri?"
"Tidak, tidak, saye nggak mau kena petir taiye, bagaimana kalau tiba-tiba saye jadi manusia petir... bisa berabe, yang jualan siapa coba? Bisa pusing dunia persatean."
Orang ini pasti pelawak.
Paling tidak, dia tidak mengatakan dunia pensantettan.
Aku segera memotong.
"Kami beli semuanya."
"Semuanya den?"
Aku mengeluarkan sekantung uang berisi koin emas lalu memberikannya.
"Ambil saja kembaliannya."
"Banyaknya bebe, jika begini saye perlu bantuan."
Tukang sate membuat siulan dan dari kerumunan pejalan kaki muncul orang yang berpenampilan sama, jumlahnya sekitar lima orang yang mana langsung berjajar dengan kipas di tangannya.
"Siap bertugas 86."
Mereka masih saja sempat-sempatnya melawak.
Aku dan Bellatrix hanya duduk menunggu sementara tukang sate mati-matian mengipas-ngipas.
Saking kuatnya kipasannya itu malah mirip seperti rasenggan.
"Silahkan."
__ADS_1
"Selamat makan," teriak Bellatrix senang.
Aku hanya sanggup makan 50 tusuk dan sisanya dimakan oleh Bellatrix, untuk hiburannya aku hanya melihat para wanita yang berusaha menutupi roknya agar tidak terangkat.