Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 172 : Kedua Dewi Ini


__ADS_3

Ini adalah kota yang sangat ramai yang dipenuhi orang-orang yang beraktivitas seperti biasanya, dari kejauhan kami bertiga menatap sebuah bangunan panti asuhan.


Bagi Elona ini hal yang berat meski begitu aku telah memaksanya pergi sejauh ini jadi dia tidak memiliki pilihan selain terus maju.


Dengan perasaan gelisah kami dipertemukan kepada putri Elona yang masih berumur 8 tahun, dia terlihat seperti Elona dalam versi kecil.


Dari sini kami hanya akan menyerahkan semuanya pada Elona, dia menangis lalu terduduk di lantai dan berkata.


"Ibumu sangat tidak berguna dan jahat, bahkan tidak pantas disebut seorang ibu bagimu, meski begitu aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang pernah aku perbuat dan aku datang untuk menjemputmu pulang Falena mari hidup bersama lagi, aku janji aku akan menjadi ibu yang kau banggakan," Elona berkata itu selagi menundukkan kepalanya, bahkan para suster tampak khawatir.


Meski begitu kekhawatiran itu tidak perlu kami rasakan. Falena berjalan dengan langkah kecilnya lalu memeluk ibunya.


"Aku sudah menunggu lama agar ibu mengatakan itu, bukannya ibu selalu datang untuk melihatku."


Keheningan terasa di antara keduanya, hanya tangisan yang mirip sebuah teriakan itu yang menggema di ruangan yang sepi ini.


Falena dan Asteropedia berjalan bergandengan di depan sementara aku dan Elona mengikuti dari belakang.


"Maaf sudah menunjukkan hal memalukan tadi."


"Jangan khawatir, aku ini tipe pria pengertian."


Elona tertawa kecil.


"Lalu... Terima kasih banyak."

__ADS_1


Elona tina-tiba saja mencium pipiku.


"Ini hanya ucapan terima kasih, aku sangat bahagia sekarang."


"Syukurlah."


Seorang wanita penjaga bar yang tersesat kini telah menemukan jalannya untuk kembali, sebuah judul yang kupikirkan saat menatap langit cerah tanpa awan di atas kepalaku.


Setelah mengunjungi makam suaminya kami kembali ke bar Elona, Falena tampak bahagia dan dia sesekali melakukan hal sama seperti ibunya.


"Untuk merayakannya, semua orang bisa makan gratis untuk semua pengunjung, aku yang bayar."


"Hoh."


Ini hanyalah sedikit kebaikan yang bisa kulakukan untuk semua orang.


Ini benar-benar melelahkan.


Sekarang aku bisa mengerti pekerjaan bapak rumah tangga sangat berat. Aku tanpa sengaja tidur di sofa dan menemukan diriku berada di alam mimpi bersama dua Dewi yaitu Dewi Hecate dan Dewi Amnesia.


Mereka jelas tidak pernah berubah.


Sudah lama sejak terakhir aku datang kemari


Dewi Hecate duduk di pangkuanku selagi memakan cemilan dan Dewi Amnesia yang selalu fokus dalam gamenya kini menatapku serius.

__ADS_1


"Aku belakangan ini membeli game Vrmmorpg yang terkenal di dunia manusia, aku perlu bantuan untuk menyelesaikan gamenya."


"Bukannya kau bisa melakukannya sendiri."


"Tidak bisa, di antara dua stage menuju akhir pemain diharuskan membentuk party."


"Sebagai pemain solo itu hal yang paling menyebalkan, aku sempat bermain game seperti itu dulu."


"Kau mengerti, karena itulah bantu aku, aku tidak bisa tenang sebelum menyelesaikannya."


Dia terlihat seperti pecandu game berat.


Apa dunia yang dikelolanya akan baik-baik saja, aku berfikir untuk tidak menanyakannya, sayangnya Dewi Hecate lebih dulu membaca pikiranku.


"Dunia Amnesia terlalu damai hingga dia memiliki banyak waktu luang, bahkan aku berfikir seluruh dunianya diisi semua pahlawan."


"Dunia macam apa itu? Dan juga jangan membaca pikiranku seenaknya."


"Aku hanya menjawab pertanyaanmu saja... Humph," kata Dewi Hecate mengembungkan pipinya lalu Dewi Amnesia bertanya kembali.


"Bagaimana?"


"Baiklah, aku akan membantumu sebisaku."


"Itu bagus, Hecate juga ikut."

__ADS_1


"Apa boleh buat... akan kutunjukan kehebatan dariku."


Dia malah lebih bersemangat dari kami semua, untuk Dewi yang memiliki tubuh kecil dia terlalu imut.


__ADS_2