
Ketika aku menawarkan persyaratan yang kubuat, mau tidak mau Orihime harus menyetujuinya hingga kami pun saling berjabat tangan.
"Kurasa itu lebih baik," kata Haruna pelan sampai tiba-tiba saja tanah mulai bergoyang dan jalan yang kami lalui sebelumnya tertutup seutuhnya.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di atas kami.
Orihime melompat ke tubuhku, sungguh di sayangkan dia benar-benar rata, tidak, mungkin ada sedikit tonjolan, melihat ekspresiku, dia langsung menarik pipiku.
"Karena inilah aku lebih menyukai wanita dibandingkan pria."
Kelima samurai wanita pun turut memegangi tubuhku dan dalam sekejap kami berpindah tempat ke atas permukaan tanah.
Bisa kulihat gerombolan hewan aneh menyerang penduduk, hewan itu memiliki satu mata dengan tubuh mirip seperti serigala hanya saja ukurannya lebih besar serta seluruhnya berwarna merah tanpa bulu.
Tak hanya kumpulan makhluk itu, kulihat satu orang melayang di atas mereka selagi menembakan bola api.
"Kami akan mengurus hewan itu."
Kelima samurai melangkah maju.
"Apa pria di atas itu orang suruhan para pria?'
"Sudah jelas bukan, apa bagimu dia mirip manusia? Dia memiliki tanduk di kepalanya, sudah pasti dia iblis."
"Bukannya kau memilikinya juga."
Orihime segera memegangi tanduknya.
"Aku berbeda, aku manusia."
Sudah jelas dia juga berasal dari ras iblis, ini yang dinamakan kulit lupa dengan kacangnya, tunggu, apa terbalik? Terserahlah.
Aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh lagi tentang asalnya, lalu melayang terbang mendekat ke arah pria tersebut.
Menyadari kedatanganku, pria itu berbalik selagi menembakan api tanpa menunggu, aku mengulurkan tanganku lalu menghisap api tersebut begitu saja.
__ADS_1
Ekpresinya sesaat tampak terkejut namun dia kembali seperti sedia kala.
"Siapa kau?"
"Bukan siapa-siapa, lebih penting dari itu, kenapa kau menghancurkan desa ini?'
"Karena ini adalah perintah."
Dia menebakan bola api secara beruntun ke arahku, seperti sebelumnya aku dengan baik menghisapnya ke dalam tanganku.
"Mungkinkah kau berasal dari dunia bawah?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Jadi tebakanku benar, celah yang menghubungkan dunia bawah dan dunia ini sudah terbuka seutuhnya."
"Mungkinkah kau yang menyerang keempat iblis yang datang kemari di masa lalu."
Dia hendak melarikan diri namun aku segera menutup jalannya.
"Sialan... aku tidak tahu ada orang kuat di tempat terpencil seperti ini."
Dia menerjang ke arahku selagi mengirim pukulan maupun tendangan, bagiku semuanya terlihat begitu lambat. Aku berhasil menangkis tendangan miliknya dengan santai.
Aku juga memiliki waktu untuk menguap.
Walau aku mengintrogasinya iblis ini tidak akan mengatakan apapun, oleh karena itu, aku menusukkan tanganku ke dadanya lalu tubuhnya terbakar habis.
Perkerjaan di sini sudah selesai dan tinggal mengurus yang ada di bawahku, aku menciptakan bola api raksasa kemudian memecahkannya menjadi beberapa bola kecil yang mana kulesatkan mirip sebuah meteor jatuh.
Tubuh monster itu, satu persatu tertimpa meteor dan mati.
Setelah selesai baru aku menurunkan hujan untik memadamkan api tersebut, sebelum akhirnya mendarat dengan baik di tanah.
Kelima samurai wanita tampak terduduk kelelahan sementara Orihime hanya melongo menatapku.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa memiliki kekuatan seperti itu?"
"Mungkin karena aku sering menggepre banyak wanita."
"Jika itu alasannya, aku sudah kuat sepertimu sejak lama."
Aku tidak ingin mengatakan soal cincinku pada orang-orang di negeri ini.
Orihime mulai memperhatikan sekitarnya tampak sedih.
"Banyak korban yang berjatuhan."
"Tidak, tidak ada siapapun yang mati."
"Kau ini buta, walau menyakitkan kau harus menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi."
"Kenapa perkataanmu begitu galau?"
Aku mengarahkan tanganku ke langit untuk menciptakan satu lingkaran sihir raksasa yang menyelimuti seluruh desa.
"Bukannya ini pengendalian roh tingkat atas?"
"Kau salah paham, ini bukan pengendalian roh melainkan sihir untuk membangkitkan orang yang sudah mati, jika mati beberapa menit masih belum terlambat." bersamaan perkataanku, orang-orang yang sebelumnya mati berhasil dihidupkan kembali, tentu aku juga memperbaiki tubuh mereka hingga tidak terluka sedikitpun.
Keheningan terasa diantara kami berdua.
".....APA?" teriaknya.
Untuk orang bertubuh kecil, suaranya sangat nyaring.
"Ayam... ayam, jangan mengagetkanku."
"Kagetnya telat oi, apa kau sedang mempermainkanku hah... kau pasti bukan manusia, kau pasti ubur-ubur."
"Ubur-ubur pala lu... Apa aku mirip seperti mereka?"
__ADS_1