
"Kita telah berada di sini, hanya tinggal melewati gunung di depan, kita akan sampai di desa."
"Aku mengerti."
Di barisan kereta paling depan Isabel dengan senang mengajarkan Fate yang baru mengetahui wilayah kerajaan Weisvia, ada beberapa wilayah yang tidak boleh dimasuki manusia khususnya karena jumlah monster yang banyak dan Isabel menegaskan hal tersebut berulang kali dengan melingkari tempatnya dengan spidol.
Dalam melakukan perjalanan kita dituntut untuk menghindari berbagai kemungkinan berbahaya, dari pergerakan tanah longsor, tempat berbahaya yang dijadikan markas bandit ataupun habitat hewan buas.
Dengan hanya melihat peta, Isabel memiliki kemampuan tersebut, tentu terkadang sesekali hal seperti prediksi selalu meleset dari yang dibayangkan, kendati demikian jumlahnya tidaklah banyak.
Isabel berkata ke arah kusir saat dihadapkan dengan dua jalan bercabang.
"Kita ambil ke kanan."
"Baik Nona."
Fate bertanya.
"Apa ke kanan jalan yang benar? Aku bahkan tidak melihat penanda apapun."
"Aku yakin jalan ini yang benar karena melihat kondisi jalanan, pertama rumput di sekitar sini tampak sering dilewati oleh beberapa kereta serta beberapa dahan pohonnya tampak sengaja dipotong."
"Jadi begitu, aku harus mencatatnya di dalam bukuku."
__ADS_1
Dalam waktu singkat mereka sampai di desa yang dituju, sama seperti para pelayan lainnya penduduk mengantri di depan kereta mereka saat bahwa makanan dibagikan.
Satu kereta sudah lebih dari cukup untuk memenuhi stok penduduk selama tiga hari. Karena sebentar lagi gelap gulita mereka memutuskan untuk menginap di sini, bukan tinggal di dalam rumah melainkan tidur di tenda sementara yang mereka buat.
Untuk makanan sendiri masing-masing dari mereka bisa mengambil sedikit dari kereta yang mereka bawa, atau langsung berburu sesuatu di alam bebas seperti yang dilakukan Isabel dengan daging kelinci yang dia dapatkan.
"Silahkan."
"Terima kasih."
Di dekat api unggun masing-masing membuat makanan mereka sendiri.
"Bagaimana?"
"Rasanya enak, ini yang namanya saus dan kecap itu."
"Aku juga sebenarnya pelayan yang masih baru dipekerjakan tuan Kazuya, jadi jangan sungkan untuk bertanya."
"Begitu, padahal aku sudah mengenal tuan Kazuya sangat lama tapi baru bisa menjadi pelayannya sekarang."
"Kenapa bisa?'
"Karena aku harus membuat negaraku makmur dulu sebelum bisa mengundurkan diri."
__ADS_1
Air teh menyembur dari mulut Isabel.
"Mu-mungkinkah kau seorang ratu sebelumnya?"
"Benar, aku lebih memilih bersama tuan Kazuya dan yang lainnya karena kurasa itu lebih menyenangkan dibanding hanya terkunci di istana, lalu bagaimana dengan Isabel?"
"Hmm.. kurasa aku juga memiliki pemikiran yang sama, saat tuan Kazuya mengajakku aku rasanya sangat senang, mulai sekarang mari berjuang bersama-sama."
Keduanya sama-sama tertawa kecil.
Di tempat lainnya Amnestha dan Arisa telah tiba di pinggiran danau yang luas, tujuan mereka adalah sebuah desa unik yang didirikan di tengah danau.
"Kita sudah tidak bisa mendekat lagi," kata Arisa menjelaskan situasinya.
"Aku bisa membuat jembatan dengan tanamanku dari sini ke sana, hanya saja mungkin penduduk desanya akan marah... bisakah Arisa terbang ke sana dan meminta beberapa orang membawa perahu kemari... jika aku meminta dari ras naga mereka mungkin akan takut."
"Mereka takut?"
"Kata tuan penduduk di sini memiliki trauma pada monster, hora... naga seperti monster bukan?"
"Yah, mereka akan marah jika mendengarnya," balas Arisa sebelum menciptakan sayap kelelawar di punggungnya.
Karena sosoknya merupakan gadis mungil yang imut walau ada sayap di punggungnya semua penduduk tidak merasa takut malah berlomba-lomba memberikan sesuatu padanya selagi mengajaknya mampir ke rumah.
__ADS_1
Sekarang Arisa yang lebih takut dengan orang-orang ini.
Sekitar sepuluh perahu menjemput mereka selagi membawa bahan makanan sementara yang lainnya menunggu di kereta selama dua jam sebelum kembali melanjutkan perjalanan.