Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 334 : Pertarungan Awal


__ADS_3

Aku menarik pedangku lalu mengikuti pergerakan di belakang Minerva, dia menyerang lebih dulu sementara aku menyerang setelahnya.


Pedang maupun cakarnya bisa memantulkan serangan kami berdua, iblis itu membuka mulutnya tepat di wajah Minerva tepat saat dia berhasil menangkapnya.


Dari mulut tersebut menciptakan bola hitam yang siap ditembakkan, dengan sihir perpindahan aku maupun Minerva berpindah tempat.


Aku menggantikan posisinya sementara Minerva tepat berada di belakang iblis tersebut, saat bola hitam ditembakan aku membatalkan sihirnya dengan skillku.


Selanjutnya kepala iblis itu terpenggal oleh tebasan Minerva dan tubuhnya terduduk di lantai.


"Dia adalah putra pertama dari bangsawan Duke, sungguh menyedihkan dia berubah jadi iblis."


Walau aku menghidupkannya kembali jiwanya telah melekat dengan iblis, karena itu aku tidak bisa berbuat banyak. Satu orang kesatria menerobos masuk lalu secara tergesa-gesa dia menjelaskan situasi di luar.


"Komandan Minerva, sekitar ribuan Zombie terlihat 1 km dari kota dan hendak datang kemari, apa yang harus kami lakukan?'


"Tempatkan semua kesatria di depan kota, aku akan menyusul ke sana."


"Baik."


Aku mendesah pelan.


"Sepertinya orang yang kutakutkan telah memulai pergerakannya."


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Aku sendiri yang menghadapinya, kau tolong urus zombie-nya."


"Aku mengerti."


Aku hanya melihat punggung Minerva semakin menjauh, sekarang sudah waktunya menghadapinya secara langsung.


Kuaktifkan skill pencarian, setelah menemukannya kugunakan teleportasi hingga sampailah aku berada di depan sebuah menara yang seluruhnya dibangun dengan tengkorak manusia.

__ADS_1


Mereka pasti orang-orang yang dibunuh sejak lama mungkin saat eraku dimulai, aku masuk ke dalam menara lalu menaiki tangga spiral yang terlihat sangat tinggi. Tentu aku tidak mendakinya melainkan terbang ke atas.


Sejauh ini tidak ada sesuatu yang muncul seperti di rumah hantu pada umumnya bahkan sampai puncak.


Aku menggunakan skill penilai dan menemukan bahwa menara ini bernama menara kematian yang bisa membangkitkan seluruh mayat hidup seluas satu benua.


Dengan kata lain bahkan di desaku juga ada zombie yang sedang menyerang sekarang.


Di puncak itu ada sebuah singgasana yang diduduki oleh Malfeed dengan sombong.


"Selamat datang di istanaku."


"Istana tengkorak, kurasa hanya kaulah yang mau membuatnya."


"Aku anggap itu pujian."


Malfeed turun dari tahta kemudian menarik sebuah pedang yang sebelumnya dia tusukan di kepala tengkorak.


"Dengan kekuatanku sekarang, aku akan mudah mengalahkanmu."


"Akan kubalas perbuatanmu di masa lalu Beaufort Reymond."


"Akulah yang akan menyelesaikan semuanya."


Kami berdua menerjang dengan kecepatan tinggi, setiap benturan menghasilkan suara yang memakkan telinga.


Prang.


"Kekuatanmu telah meningkat pesat tapi sayangnya kau harus lebih dari itu untuk mengalahkanku."


Aku menendang perut Malfeed hingga tubuhnya terhempas keluar menara, aku pun mengikutinya dengan sihir terbangku.


"Cih... bagaimana kau memiliki kekuatan sebesar itu?"

__ADS_1


"Dengan latihan."


Aku kembali melesat ke arahnya mengayunkan pedang beberapa kali seolah menari-nari di depan wajahnya.


Trang... Trang... Sling.


Pedang kami menyisir bilah masing-masing menciptakan percikan ke udara hingga ujungnya sama-sama menembus bahu kami berdua.


"Pedangku memiliki racun, sekali saja kau terkena kau mati."


"Sayang sekali tapi aku memiliki skill anti racun."


"Bagaimana bisa?"


"Bukan hanya kau saja yang bereinkarnasi, aku juga sama."


Aku mengayunkan pendangku dari atas, walau Malfeed menahannya, tubuhnya terdorong jatuh ke bawah menghasilkan ledakan besar.


Di saat material tanah berjatuhan sosok Malfeed berdiri dengan gagah, rambutnya berubah panjang mirip seperti rambut landak sementara tubuhnya kini menyerupai iblis dengan tangan raksasa bercakar serta tubuh berbulu.


Dia menarik rambut di punggungnya lalu menjadikannya senjata di kedua tangannya.


Aku muncul di depannya, sebelum bisa mengenainya dia lebih dulu mundur sekitar 10 meter.


"Wujudmu lebih tampan seperti itu, Malfeed."


Aku menarik pedang di pinggangku hingga kini aku juga sama-sama memegang pedang di kedua tangan.


Malfeed meluncur dengan kecepatan tinggi, dia menebas dan aku menahan dengan pedang Grandbell.


Tepat dia mengayunkan rambutnya yang lain aku menahannya dengan pedang biasa namun sayangnya itu hancur hingga memotong lengan kiriku dari bahu.


Aku tidak sempat untuk mengambil tanganku hingga memutuskan untuk mundur.

__ADS_1


"Benar-benar keras sekali," kataku mengerenyitkan alis saat iblis di depanku memasukan seluruh tanganku bulat-bulat ke dalam mulutnya.


__ADS_2