Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 486 : Para Hiu


__ADS_3

Bersama para pasukan kerajaan, kami hendak pergi ke kota yang sepenuhnya telah dikuasai Raja Dunia Amandeus.


Namun, dalam perjalanan kami malah harus dihadang oleh seekor hiu raksasa yang melayang di atas langit.


"Kau pasti bercanda?" ucap Ibela terkejut, bagaimanpun kami tengah berada di padang rumput yang luas, tidak ada jalan untuk memutar ataupun melarikan diri, terlebih ikan hiu yang kami lawan bukan satu melainkan ada 20 ekor.


Aku bertanya pada Ibela.


"Apa jumlahnya memang sebanyak itu?"


"Tidak, setahuku cuma ada satu... kenapa bisa? Apa mungkin mereka menggandakan jumlahnya dengan sebuah klon."


"Itu mungkin saja."


Akane di sampingku tampak sedikit khawatir akan tetapi dia terlihat menguatkan kepalan tangannya untuk membuatnya lebih baik. Ada pun yang terlihat bersemangat dan penasaran hanyalah kedua istriku dan Amaterasu.


Ibela menarik pedangnya dari atas kuda selagi mengangkatnya ke atas.


"Tidak ada jalan untuk mundur, semuanya maju dan rebut kehidupan kita kembali.... Serang!"


"Ooooooooh."


Terompet peperangan diperdengarkan dan kami semua berlari ke depan. Hiu-hiu yang sebelumnya membentuk barisan mulai menukik ke bawah.


Bersamaan angin yang berhembus di sekelilingnya aku bisa melihat perut mereka berada di atas kepalaku, orang-orang mulai melemparkan tombak maupun sihir secara langsung.

__ADS_1


Ibela juga melakukan hal sama.


Meski jumlah kami masih banyak semuanya tetap saja sia-sia. Sebagian orang dimakan dengan mudah, tubuh mereka berjatuhan dari langit bersamaan darah yang menetes di permukaan rerumputan.


"Akuma Ougi.... Kagutsuchi."


Akane memotong dua hiu sekaligus yang mengincarnya, di saat yang sama pula aku melihat Selly dan Sella menaiki satu hiu dan mencoba menjatuhkannya dengan sebuah pijakan.


Saat hiu jatuh seluruh pasukan segera mengepungnya dan mulai menghabisinya, Amaterasu melakukan hal yang mirip dengan api hitam yang dibuatnya seperti tangan untuk menarik para hiu jatuh ke bawah.


Aku saling memunggungi bersama Ibela saat seekor hiu yang berukuran lebih besar berenang memutari kami.


"Aku siap Kazuya."


Ibela dan aku berlari ke arah sebaliknya untuk keluar dari lingkaran ini. Hiu itu mengincarku sementara Ibela diserang dengan gelembung ledakan yang keluar dari mulutnya.


Jadi begitu.


Hiu ini bisa merasakan energi sihir.


Jika demikian.


Aku menyelimuti tubuhku dengan seluruh mana hingga hiu yang masih tersisa 10 ekor secara bersama-sama mengejarku yang telah berlari jauh dari kelompok.


Salah satu hiu paling besar tampak membuka rahangnya untuk mengoyak tubuhku, sayangnya kalianlah yang akan mati hari ini.

__ADS_1


Sebelumnya aku sulit menyerang mereka karena berada di atas langit tapi sekarang berbeda, mereka sendiri yang mendatangiku.


Aku memosisikan diriku dengan pedang di tanganku lalu berkata.


"Himitsu no ugoki.... Tebasan Api Hitam."


Aku mengayunkannya dengan gerakan cepat hingga setelahnya seluruh potongan daging hanya meluncur di bawah kakiku.


Aku pun terduduk lemas, aku jelas menghabiskan seluruh manaku untuk memancing mereka.


Selly dan Sella melompat ke arahku sementara Amaterasu dan Ibela mendekat.


"Seperti biasa kau sangat berperan penting, uang bonusmu akan ditambah dua kali lipat."


"Bayar saja sesuai yang dijanjikan," kataku demikian.


"Tapi... kerusakannya sangat parah, kita kehilangan banyak pasukan."


Aku bisa melihat beberapa orang menangis di depan tumpukan potongan tangan dan kaki yang tergeletak begitu saja, di antaranya tampak Akane menyarungkan kembali pedangnya selagi menghela nafas lega.


"Kita akan istirahat di sini sebentar dan menguburkan rekan-rekan kita yang telah gugur."


"Kau tidak ingin membawa mereka kembali pulang."


"Sayangnya itu mustahil, aku tidak tega menunjukkan potongan tubuh keluarga mereka begitu saja, bagi yang terluka mereka bisa kembali dan melaporkan siapa saja yang gugur... kita masih harus bergerak maju dan membuat perjuangan orang yang meninggal tidak berakhir sia-sia," ucap Ibela menguatkan tekadnya.

__ADS_1


__ADS_2