Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 416 : Kekalahan Iblis


__ADS_3

Sebelum penduduk kota menyadarinya aku akan mengalahkan mereka semua. Aku menciptakan pedang es kembali lalu melesatkan pedang tersebut pada mereka, bersamaan itu salah satu orang dari dalangnya muncul di belakangku dengan jari menunjuk ke arahku untuk menembakan laser dari sana.


Aku menggunakan skill pelindungku untuk menahannya.


"Lumayan juga, kau bisa menahan seranganku walaupun pandanganmu teralihkan namun aku Nus akan menghancurkan pelindungmu."


Aku membiarkannya terus menyerangku sementara aku fokus dengan para iblis yang mendekati kota. Setiap pedang es menusuk mereka tanpa suara.


"Apa-apaan kau ini? Aku tidak bisa menembusnya."


Aku menciptakan pedang di tanganku lalu melesat ke arahnya hingga berada di belakangnya.


Bertepatan itu.


"Guakh."


Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.


"Tinggal satu orang lagi."


Aku mengalihkan pandanganku ke arah iblis yang melayang jauh, sepertinya dia hendak melarikan diri hingga aku memunculkan busur di tanganku untuk melesatkan panah ke arahnya.


Sebelum panah itu mengenai tubuhnya, kami berdua berpindah tempat yang mana membuatku terkena seranganku sendiri, aku jatuh ke tanah dengan bunyi hentakkan keras sementara iblis yang kulawan terbang di atasku.


"Bagaimana rasanya menyerang dirimu sendiri haha, manusia tidak akan mungkin bisa mengalahkan iblis seperti kami."


Perkataan iblis memang selalu sombong.


Dari dalam kepulan asap itu aku meluncur terbang dengan pedang di tanganku, iblis tersebut menahannya dengan tangan kosong kemudian menghancurkannya dengan mudah.

__ADS_1


Aku menciptakan pedang di tangan lain yang mampu memotong sebelah tangannya hingga terjatuh ke tanah.


Bersamaan itu kulesatkan kedua kakiku menginjaknya.


Dan Bam.


Sebuah retakan terdengar bersamaan kehancuran luar biasa, iblis yang kuinjak menyeringai.


"Jadi kaulah yang mengalahkan raja dunia bawah... kau juga abadi."


"Aku sebenarnya akan membiarkan kalian hidup di dunia ini asal tidak membuat keonaran, sayangnya kalian lebih memilih untuk menghancurkan dunia ini."


"Kami iblis dan akan selalu berfikir begitu."


Aku menciptakan tombak di tanganku


"Kau hanya sudah dibutakan dengan kesombongan, namamu?"


"Aku akan mengingat namamu."


Aku meluncurkan tombak dari tanganku dan itu menembus tubuhnya hingga tak bernyawa lagi. Kurasa sudah selesai aku juga sudah tidak bisa merasakan keberadaan iblis lainnya.


Beberapa hari setelah para iblis itu dikalahkan aku menerima banyak surat ucapan terima kasih ke kediamanku padahal aku sudah merahasiakan indentitasku namun mereka masih bisa mengetahui tentangku.


Felisa yang duduk bersamaku tersenyum senang dan berkata dengan nada seperti pada Opera hanya saja sedikit berlebihan.


"Sayangku kini telah terkenal sebagai raja luar biasa, tidak memerintah di atas singgasananya melainkan turun untuk menyelamatkan penduduknya."


"Bukannya kau terlihat sangat berbakat dalam melakukan itu."

__ADS_1


"Aku memang terlahir sebagai ratu multi talenta."


Aku tersenyum pahit selagi menyeruput tehku dalam diam.


Ini adalah hari yang cukup santai di mana sebagian orang di masion telah pergi ke ladang anggur, untuk Felisa dia harus pergi ke ibukota untuk mengurus beberapa urusan kerajaan.


"Kurasa sudah waktunya aku pergi juga."


"Mau aku antar sampai gerbang."


"Aku akan mengandalkan suamiku untuk menggendongku ke sana."


"Itu memalukan jadi berjalanlah secara normal."


"Tidak seru."


Aku hanya tertawa ragu, terlalu mengumbar kemesraan di depan publik itu bukan sesuatu yang baik.


"Tapi kurasa kalau berpegang tangan tidak masalah."


Felisa mengangguk mengiyakan lalu kami berdua berjalan bersama ke alun-alun desa, setelah mengantar Felisa aku juga akan pergi ke kebun anggur untuk membantu.


"Kalau begitu, sampai nanti."


"Aah, jangan terlalu memaksa diri."


Felisa mencium pipiku sebelum berbalik dengan wajah memerah.


"Aku tahu."

__ADS_1


Aku hanya melihat punggungnya sampai dia menghilang, aku meregangkan tanganku selagi bergumam.


Pekerjaan selanjutnya telah menunggu.


__ADS_2