
Aku muncul di sebuah kota bernama pelabuhan Eternal, tempat ini berada jauh dari benuaku tinggal dan merupakan salah satu dari pemerintahan dewan penyihir.
Yang memimpin wilayah ini bernama Hornes Logness seperti yang diduga, dia adalah salah satu Sage.
Di antara orang-orang yang berlalu lalang aku terus memperhatikan sekitarku yang telah terisi dengan keributan. Ini belum siang hari tapi udara di sini sangat panas.
Selain ada orang yang berdebat, ada juga yang mendinginkan kaki mereka dengan memasukannya ke dalam kotak es selagi mengipasi dirinya dengan selembaran buku bergambar wanita sexy, salah satunya sedang menjaga warung yang sedang kudatangi.
"Tolong cumi gorengnya."
"Hai... dua koin tembaga."
Aku memberikan uang yang dia minta.
"Aku belum pernah melihatmu, apa kau pelancong."
"Aku hanya kebetulan lewat sini."
"Begitukah, kau pasti bingung dengan keadaan kota ini."
"Sedikit, kenapa orang-orang itu berdebat?"
"Itu karena mereka tidak bisa mendapatkan es."
"Maksudmu mereka hanya memperdebatkan hal itu."
"Apa maksudmu hanya? Cuaca di sini cukup ekstrim bahkan ketika malam hari, itu masih terasa panas."
"Heh, kalian bisa meminta dewan sihir membantu bukan?"
Pria yang bicara denganku tertawa.
"Lupakan saja, semua dewan sihir hanya memperdulikan dirinya sendiri... mereka hanya bergerak saat sebuah kasus penting yang bisa menaikan popularitas mereka muncul ke permukaan."
__ADS_1
"Ternyata mereka pilih-pilih soal pekerjaan.... aku sedikit penasaran siapa orang yang dipegang olehmu?" tanyaku selagi memakan cumi goreng yang kupegang.
"Kau tidak tahu... dia ini seorang Idol, namanya Mamisa, dia cukup terkenal belakangan ini."
"Ada yang seperti itu juga."
Bagiku dia terlihat seperti model dewasa.
Aku tidak ingin menanyakan lebih dari itu dan pergi meninggalkan warung menuju dermaga. Lagi-lagi di sini juga ada yang sedang berdebat.
Aku berjalan tanpa memperdulikannya hingga kedua orang itu berteriak ke arahku.
"Oi, kalau ada yang berkelahi lerai dong, kau ini tidak berperasaan."
"Yah, kalian terlihat akrab."
"Hah?"
"Hah?"
"Kau ternyata pintar juga bocah... kami biasanya mengambil es di Gandaria, tapi di sana ada monster hingga kami tidak bisa melintas.. kulihat kau seperti petualang, apa kau bisa melakukan sesuatu?"
"Lupakan saja, aku ini lemah, aku ini cuma traveler biasa.... memang apa yang kau harapkan dari penyendiri sepertiku?"
"Itu membuat kami kecewa."
Gandaria adalah wilayah dingin jauh dari sini.
"Lupakan soal es, jadi kenapa tempat ini bisa sepanas ini?"
"Ini terjadi 10 tahun yang lalu saat dewan sihir dibentuk... aku tidak tahu apa yang terjadi namun sepertinya Sage Hornes melakukan sesuatu pada wilayahnya."
"Oi, jangan katakan itu.. mereka bisa menangkapmu jika mendengarnya."
__ADS_1
Aku menatap ke atas langit dan ada semacam pelapis mirip selubung kaca di sana.
"Apa itu?"
"Apa ada sesuatu?"
"Apa yang ada di langit itu?"
"Entahlah tapi kami bisa melihatnya jelas saat hujan."
"Jangan bilang bahwa hujan tidak menembus ke pelabuhan ini?"
"Itu benar sekali... kami bisa merasakan hujan saat berada di luar kota."
"Menarik sekali."
Aku mengarahkan satu tanganku ke atas langit bersamaan itu, sebuah lingkaran sihir berlapis muncul lalu menembakan sebuah tombak es dengan kecepatan kosmik.
Prang.
Selubung mirip cermin itu pecah dan berjatuhan ke bawah, akan berbahaya jika aku membiarkan benda seperti itu berjatuhan. karena itu, aku melenyapkan semuanya dengan memindahkannya ke tengah laut.
"Apa itu?"
"Selama ini kalian semua hidup seperti di bawah sebuah kaca pembesar, pantas saja terasa panas."
"Jika begini kami tidak perlu es lagi, mari minum di kedai."
"Oke, kau mau ikut... kami yang traktir sebagai ucapan terima kasih."
"Tidak perlu, ada urusan yang harus kuselesaikan."
"Begitu."
__ADS_1
Aku hanya melihat kepergian keduanya dari kejauhan. Kurasa pemilik sihirnya akan tahu sihirnya hancur.
Lagipula sihir ini digunakan untuk mengawasi seluruh wilayahnya.