
Di sinilah kami berada, di sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah perpustakaan raksasa, karena Asteropedia sibuk memperjual belikan novelnya ke semua orang, jadi yang menunggu di tempat ini adalah muridnya bernama Beresford, dia wanita judes yang memiliki rambut sebahu berwarna ungu selaras dengan jubah yang dipakainya.
Dia memiliki kekuatan mata jahat yang dia buat sendiri di mana membuat sekelilingnya melayang, seperti apa yang dia lakukan padaku sekarang.
"Kenapa kau terlihat sangat marah padaku?"
"Kenapa katamu? Guruku kini malah terobsesi dengan hal aneh."
"Tidak ada yang aneh soal itu."
"Kini aku dan guruku tidak bisa berduaan lagi seperti dulu di tempat ini."
Jadi masalahnya itu.
"Harusnya kami bisa berduaan 24 jam, sekarang malah berkurang jadi 12 jam."
Orang ini saraf, obsesinyalah yang lebih menakutkan.
"Apa boleh buat, saat itu aku perlu bantuannya untuk mencari kandidat pemimpin dari kerajaan lain, bisakah kau memaafkanku?"
"Tidak ada maaf untukmu, kecuali kalau kau menjilat sepatuku."
Sekarang dia menjadi orang sadis, di luar dugaan Cleo dan Olien mengapitnya dari sisi berlawanan.
"Bagaimana kalau kami saja."
Keduanya menjilat pipi Beresford hingga dia memerah.
"Jangan lakukan itu, aku belum siap."
Sekarang orang sarafnya jadi tiga orang.
Aku mendarat baik dengan kedua kakiku kemudian mencari segala sesuatu informasi tentang tanaman langka.
Aku menemukan sesuatu yang menarik, di mana menampilkan tanaman bernama Magdroba.
Tanaman ini berbentuk seperti wanita, buah maupun daunnya bisa dijadikan obat herbal yang sangat berkhasiat.
"Kita pilih ini saja," kata Olien yang mendapatkan persetujuan Cleo.
"Kalau kalian sudah menemukannya cepat pergi dari sini."
Aku hanya menghela nafas panjang lalu berkata.
"Kalau begitu kita akan mencari tanaman ini saja."
Meninggalkan menara pengetahuan kami bertiga menginjakan kaki di tanah asing, tanaman yang kami cari termasuk tanaman monster. Mereka hidup jauh dari pemukiman manusia dan cenderung hidup sendiri di dalam hutan tak tertembus siapapun.
Mereka hidup seperti tanaman lainnya di mana mereka menyerap air dari dalam tanah dan membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis.
__ADS_1
Karena tidak berbahaya kurasa mereka bisa ditanam di desaku juga. Aku membuka jalan untuk kedua pendeta yang ada di belakangku.
Suasana yang sangat asri cukup membuat keduanya gelisah.
"Suara apa itu?" tanya Olien.
"Itu hanya suara hewan."
(Aku tidak berfikir itu suara hewan) tulis Cleo.
"Suaranya terdengar seperti suara orang."
"Duit... Duit.. Duit.."
Cleo dan Olien menantapku dengan pandangan bermasalah.
"Itu suaramu," teriak Olien.
"Aku cuma bercanda."
Kami terus berjalan hingga kini terdengar sebuah suara nyanyian.
"Itu tidak lucu?"
"Sekarang jelas bukan aku, itu terdengar seperti suara wanita."
Kami buru-buru mengeceknya dan menemukan di bawah cahaya sebatang pohon berbentuk wanita sedang menyanyi, beberapa hewan kecil berkumpul di sekelilingnya lalu berhamburan saat mengetahui kedatangan kami.
Bagiku dia seperti manusia dengan rambut berwarna hijau, yang membedakannya hanyalah kakinya merupakan akar.
Di tubuhnya terdapat daun-daun yang tumbuh.
"Tunggu, kenapa ada manusia di sini? Jangan bilang kalian mengincar dadaku."
"Untuk apa kami lakukan itu?" tanya Olien.
"Soalnya ini memiliki cairan manis di dalamnya."
"Aku akan mencobanya."
Cleo dan Olien menghantamku dengan palu suci setelah aku mencobanya sedikit.
"Aku benci manusia."
"Rasanya mirip seperti madu."
"Karena itulah tanaman seperti kalian hanya tumbuh di hutan lebat seperti ini," potong Olien.
"Benar sekali, tapi kurasa hanya ada beberapa saja yang masih hidup."
__ADS_1
(Apa terjadi sesuatu) tulis Cleo.
"Aku tidak bisa membaca."
"Maksud Cleo, apa terjadi sesuatu?" kataku demikian.
"Kami tinggal di dalam hutan lebat karena itu kami harus berebut cadangan air dengan tanaman lain, terkadang kami juga tidak bisa mendapatkan cahaya cukup karena tertutup pohon yang jauh lebih besar sampai layu dan mati."
Ini hanya masalah yang biasa dihadapi tanaman.
Cleo menuliskan sesuatu di papannya.
(Membawanya ke desa bukan ide bagus, coba bayangkan berapa pria akan melakukan hal tidak terpuji pada pohon ini)
(Dia hanya pohon mesum)
"Sayangnya itu benar."
"Apanya yang benar?"
Magdroba tampak kebingungan.
Aku memunculkan jendela menuku, apa aku bisa membuat dimensi yang lain untuk menaruh mereka tanpa sepengetahuan orang lain.
Ternyata jawabannya bisa.
Aku mengulurkan tanganku dan berkata.
"Sistem Administrator.... kabut dimensi."
Sebuah awan putih muncul di depanku, aku meminta Cleo dan Olien masuk ke dalamnya.
Tapi sebelum itu aku membuat tanda kunci di belakang tangan mereka agar hanya mereka yang bisa melakukannya.
"Apa tidak apa-apa?"
"Lakukan saja."
Ketika mereka kembali dari dalam sana, ekpresinya tampak puas.
"Di dalamnya ada lahan tanah luas, ada matahari dan angin juga."
(Apa itu?)
"Dimensi buatan, meski begitu keadaan di dalamnya sama seperti yang ada di luar, dan hanya kalian berdua yang bisa masuk ke dalam."
"Dengan ini kita bisa merawat mereka dengan baik," kata Olien senang yang mendapatkan anggukan Cleo sebelum keduanya menatapku dengan mata bermasalah.
"Bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Tentu aku juga bisa masuk ke sana, aku ingin merasakan cairan barusan lagi sesekali."
"Dasar mesum."