
Selagi memikirkan apa yang akan kubuat aku memunculkan semua menu bar di depanku, pertama dungeon akan kubuat berbentuk sebuah kepala tengkorak dengan mulut menganga, jumlah lantainya akan kusamakan dengan dungeon biasanya yaitu 100 lantai.
Persiapan pertama sudah siap lalu tinggal memeriksa dalamnya.
Di lantai satu aku membuat monster dengan koin tembaga dengan ini saat mereka menghancurkan monsternya mereka akan berubah menjadi bentuk asalnya, untuk bos dan monster tangguh aku buat menggunakan koin perak dan emas.
Agar monster tidak habis-habis aku memasukan sangat banyak uang ke dalam Dungeon ini.
Sebagai sentuhan akhir aku memberikan kemampuan khusus, siapapun yang mati akan hidup kembali dan dipaksa keluar dari dungeon. Dengan ini aku hanya perlu membuat laporan dan memberikannya pada akademi.
Kuharap generasi sekarang bisa jauh lebih kuat, aku menggumamkan hal itu selagi memunggungi dungeon yang telah kubuat lalu berjalan pergi.
***
Sebuah bel berbunyi tatkala Len memasuki akademi di pusat desa, ini pertama kalinya dia memasuki tempat ini, jantungnya berdegup kencang namun bukan karena gugup melainkan bersemangat.
Sebelum bisa masuk ke akademi ada beberapa tes yang dilakukan untuk siapapun yang mendaftar di sini tentu tidak ada yang namanya gagal di akademi ini hanya saja dengan mencari tahu masing-masing dari kemampuan setiap siswa akan membantu akademi memilah di mana siswa itu di tempatkan.
Misal jika di dalam satu kelas diisi oleh lulusan yang mahir dalam segala hal, pihak akademi tidak perlu repot terus mengajarinya berbanding terbalik dengan lulusan yang tidak mahir mereka akan memperlakukan pembelajaran khusus agar kelas tersebut bisa mengimbangi kelas yang sudah mahir.
Kelas sendiri memiliki tiga tingkatan yaitu kelas awal yaitu kelas yang di isi oleh siswa 5-10 tahun
Kelas menengah 11-15 tahun dan.
Kelas atas 16 sampai seterusnya.
__ADS_1
Tes pertama adalah tes tulisan yang mengutamakan kecerdasan. Len duduk seperti para siswa lainnya umurnya yang masih muda mengharuskannya berada di tes kelas awal.
"Ini sangat sulit... jika ibu membeli apel 20 buah, kemudian apel itu di berikan pada anak kecil satu, ibu hamil dua dan kepala desa sisanya, berapa apel yang dibawa ibu?" gumam Len.
"Jangan berisik."
"Maaf."
Selama 15 menit Len diberikan pertanyaan yang hampir serupa sebelum akhirnya mereka dipindahkan ke lapangan untuk menjalani tes bertarung.
Len berdiri selagi memperhatikan seorang yang sedang melawan salah satu pengajar, diam-diam Len mengingat nama gadis itu.
Kalau tidak salah dia bernama Falena.
Saat dia mengingatnya, gilirannya sudah tiba.
Dia adalah gadis elf yang belum lama tinggal di sini. Rambut pirangnya dipotong sebahu serta dia selalu memamerkan belahan dadanya.
"Namaku Rara, kudengar keahlianmu sangat hebat... coba tunjukkan semuanya padaku."
"Baik."
Saat Rara berkeliling pusat desa ia sudah pernah melihat Kazuya melatih Len dan ia tahu seberapa kuat gadis di depannya.
Setelah mempersiapkan dirinya Len menghentakan kakinya untuk melesat maju, dengan sedikit lompatan dia mengayunkan pedang dari atas ke bawah hingga Rara menepisnya ke samping membuat Len mundur ke belakang.
__ADS_1
"Menarik, sekarang giliranku menyerang."
Rara meletakan tangan kirinya di belakang sementara tangan lain menyerang Len.
Trang... Trang... Trang..
Ini adalah seni berpedang yang dipelajarinya dulu saat mengintip pelatihan para bangsawan di tempat asalnya.
Bunyi dentuman terus terdengar saat kedua pedang itu bertubrukan. Para calon murid mulai saling berbicara satu sama lain.
"Hebat."
"Bukannya dia gadis yang selalu mencoba mengalahkan slime dengan tongkat?"
"Benar itu dia, tapi keahliannya jauh lebih hebat saat menggunakan pedang asli."
"Aku jadi bersemangat untuk masuk ke dalam akademi."
Setelah beberapa saat pedang Rara terlempar ke udara lalu menancap baik di tanah.
"Pemenangnya Len."
"Uwaahh.."
Semua orang berteriak kagum.
__ADS_1
"Sesuai yang diharapkan," ucap Rara tersenyum tipis sebelum memanggil calon selanjutnya.