
Ini adalah sebuah pegunungan terjal yang semuanya dihiasi oleh bebatuan tinggi, aku membantu Momoko dan Mary untuk terus mendaki.
Dan sesekali aku juga mendorong pantat mereka untuk naik ke atas batu.Yang jelas aku cukup menikmatinya tapi bukan hal ini alasanku membawa mereka kemari, melainkan untuk bertemu sekumpulan serigala yang tubuhnya mencapai tinggi satu meter, mereka disebut sebagai Wolfbeast yang banyak dihindari keberadaannya.
Meski begitu mereka memiliki kekuatan yang luar biasa untuk berpergian jauh, serta terorganisir satu sama lain seperti apa mereka tunjukkan.
Dalam sekejap mereka bisa menemukan kami lalu mengepung dari segala arah, mereka semua memiliki bulu putih bersih seolah seperti sebuah tumpukan salju.
"Kalian berdua jangan bergerak."
"Kami mengerti."
Aku berjalan maju selagi mengangkat kedua tanganku begitu juga pemimpin kawanan ini.
Kami saling menatap kemudian serigala itu membungkuk rendah padaku lalu diikuti yang lainnya hingga kedua orang yang sebelumnya diam langsung terkejut.
Aku mengelus kepala mereka.
"Bagaimana bisa?" tanya Momoko.
"Ini hal biasa, aku bisa langsung menjinakkan semuanya dengan sebuah kepercayaan."
"Yah, itu bukan biasa lagi."
__ADS_1
Aku mengelus kepala serigala itu, lalu berkata.
"Apa kalian mau pindah ke desaku, kami perlu kalian untuk membantu pembangunan desaku."
Serigala itu mengangguk kemudian disusul lainnya, mungkin ada sekitar lebih dari 20 ekor termasuk anak-anak mereka.
"Sekarang kalian berdua coba menaikinya."
"Baik."
Momoko memilih Wolfbeast yang berukuran besar, begitu pula Momoko.
"Mereka sangat luar biasa, bulunya sangat halus," ucap Momoko lalu disusul Mary.
"Mereka juga sangat kuat dan imut."
"Mulai sekarang kalianlah yang bertanggung jawab pada mereka."
"Serahkan pada kami."
Aku hanya melihat kepergian keduanya dari kejauhan yang mana di temani para kumpulan serigala putih.
Ada tempat kosong di sisi desa mereka bisa menggunakannya sebagai markas. Tepat saat aku melangkahkan kakiku tiba-tiba saja segerombolan orang-orang asing mengelilingiku.
__ADS_1
Mereka mengenakan pakaian yang sama, selagi menggunakan tongkat sihir. Semua orang yang kukenal juga turut menonton di belakang bersama para penduduk desa.
Di antara orang yang mengepungku salah satu wanita berkacamata mengenakan rok ketat dan seragam mendekat ke arahku, ia mengibaskan rambut panjangnya ke belakang lalu membuka buku di tangannya selagi berkata.
"Namaku Valesta Nourin dari pemimpin pasukan dewan penyihir... Beaufort Reymond atau Haru Kazuya, kau ditahan karena kasus kejahatan seperti penghancuran beberapa negara di masa lalu yang dibarengin pembunuhan masal, penghancuran Dungeon hingga membuat kerugian banyak pihak, pembantaian elf, pembunuhan terhadap seluruh pahlawan dan juga pelecehan terhadap banyak wanita.. menyerahlah dan biarkan kami menangkapmu, semua orang mewaspadaimu sebagai pembawa bencana."
Aku menutupi wajahku dengan tanganku selagi menyeringai, aku juga merubah suaraku sedikit lebih berat.
"Sepertinya aku sudah ketahuan rupanya, benar sekali, itu adalah aku.. sejak awal aku bukan pahlawan, aku mulai terganggu dengan sebutan itu."
Aku bisa melihat semua orang yang kukenal sedang menahan tawanya, sementara para prajurit dari dewan sihir terlihat seperti ikan mati.
Di antaranya ada Bellatrix, syukurlah dia baik-baik saja dan cepat kembali ke desa.
Aku mengulurkan tanganku pada Valesta yang memborgolku tanpa ragu.
"Nah Valesta, jika kau tidak kuat memborgolku aku bisa membunuhmu bahkan menghancurkan seluruh dewan penyihir."
Dia mencengkeram kerahku lalu menarik wajahnya mendekat dengan wajahku.
"Jangan bermimpi, dewan penyihir terdiri dari 8 orang yang dikenal sebagai Sage tertinggi, bahkan jika kau berencana melawan satu persatu dari kami, itu tetap mustahil."
"Menurutmu begitu... tapi yang jelas, semuanya akan lebih menarik."
__ADS_1
"Dasar iblis, CEPAT BAWA DIA."
"Baik."