Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 132 : Para Kelinci Dari Hutan Lavender


__ADS_3

Aku memilih gaun putih berenda untuk Olien yang berambut pirang, sementara gaun hitam berenda untuk Cleo, kini keduanya lebih terlihat seperti gadis pada umumnya.


Aku juga memberikan aksesoris pita untuk mereka.


"Sekarang kalian sudah imut."


(Apa itu artinya aku akan dinikahi)


(Aku juga akan menikah gadis suatu hari nanti)


"Kau jangan ikut-ikutan seperti adikmu."


Ini membuatku lelah jadi kuputuskan untuk segera berangkat, menggunakan kereta kuda sebagai transportasi, kami akan pergi ke enam titik yang dituliskan di surat itu.


Ada tujuh iblis dari masing-masing neraka yang berhasil keluar dari sana, kami baru mengalahkan satu jadi tinggal enam lagi, kecuali dipanggil hal itu mustahil bisa dilakukan.


Apa ini ulah Alexius? Aku sempat memikirkannya akan tetapi dia tidak mungkin melakukan ini, dengan kekuatannya yang baru dia hanya akan muncul di depanku lalu bertarung melawanku.


Setelah aku kalah dia baru akan menghancurkan seluruh dunia ini dan menyebut dirinya sebagai dewa di dunia baru.


Semua ras akan tunduk padanya dan mulai menentang keberadaan Dewi.


Itulah yang dia inginkan.


Sesuatu hal yang bisa membuatnya di puja-puja dan disembah, dari awal itu hanyalah alasan konyol.


Kami tiba di hutan Lavender yang beraroma harum. Bunga ini setinggi puluhan meter dan cukup untuk membunuh satu nyamuk raksasa. Maksudku tanaman ini memiliki mulut dan termasuk jenis tanaman karnivora yang hidup di daerah sini.


Sungguh berbeda dari apa yang kuketahui, sebelum memasukinya seekor kelinci yang bisa berbicara berkata padaku.


"Selamat datang di hutan Lavender, namaku ##%~"

__ADS_1


"Namanya kena sensor," kata Olien senang, dia selalu ceria.


Kelinci melanjutkan.


"Jika kau ingin masuk ke dalam hutan kalian harus mendapatkan pemandu, kalau mau kalian bisa menyewanya di sini," aku mengalihkan pandanganku dan kulihat beberapa peri kecil berterbangan di sana.


"Kurasa aku akan menyewanya."


"Semuanya dua koin emas."


Aku memberikan uang yang dimintanya lalu kembali melanjutkan perjalanan bersama peri bernama Tingkerbel.


"Heh, kalian mau melawan iblis.. luar biasa, aku sangat kagum, di depan silahkan ambil kiri."


"Baik."


Jelas sekali jalannya sangat bercabang jika bukan karena peri aku tidak akan tahu bisa melewatinya atau tidak.


"Apa nona Tingkerbel selalu menjadi pemandu?" tanya Olien.


(Uang sangat berharga) tulis Cleo.


"Walaupun kalian bisa hidup tanpa uang?"


"Sebenarnya uang ini bukan untuk kami melainkan untuk orang yang memiliki hutan ini?"


"Kau pasti bercanda? Tidak ada siapapun yang memiliki hutan kecuali negara itu sendiri."


"Tapi begitulah yang dikatakan pemiliknya, jika kami tidak menghasilkan uang maka rumah kami akan digusur.


(Orang jahat sudah muncul)

__ADS_1


"Benar, dia orang jahat Cleo."


"Aku ingin menemui pemilik hutan ini bisa kau tunjukkan padaku?"


"Tapi."


"Jangan khawatir, aku cuma ingin bernegosiasi."


(Orang suci ini kuat)


"Orang suci?"


"Sudah kubilang jangan memanggilku begitu."


Pada akhirnya berkat Tingkerbel kami tiba di sebuah rumah di pinggir hutan Lavender, bangunannya tampak megah dengan halaman luas, lebih dari itu ada sosok wanita bertubuh gelap sedang berjemur di sana.


Aku mendekat padanya hingga dia menengadah ke arahku.


"Apa kau ingin pinjam uang, pergilah?"


"Aku hanya ingin bertanya kenapa kau memaafkan para peri untuk menjadi pemandu?"


"Kenapa? Tentu saja ini kewajiban mereka, mereka tinggal di kebunku karena itu sudah kewajiban mereka bekerja denganku."


"Bahkan kau tidak memberikan mereka upah?"


"Membiarkan mereka tinggal di kebunku sudah bagus."


Orang ini.


"Tingkerbel, bagaimana jika kalian para peri pindah saja.. aku akan menjamin kalian mendapatkan tempat baru yang lebih baik dibanding tinggal di sini."

__ADS_1


"Owh itu tidak akan kubiarkan."


Saat aku sadari kami terkepung oleh para kelinci besar yang berpenampilan seperti manusia, mereka berdiri dengan dua kaki serta mengenakan pakaian seperti kelinci yang kami temui saat memasuki hutan ini.


__ADS_2