
Ada sebuah pintu yang bisa kami gunakan untuk masuk ke dalam menara, aku masuk lebih dulu kemudian disusul Akane yang jatuh menimpa kepalaku.
"Kau pasti sengaja menggodaku dengan dadamu."
"Mana mungkin, ini hanya kebetulan."
Aku kembali bangun setelah terjatuh di lantai, walau di dalam laut kurasa ada sihir yang melindungi agar tetap kering.
"Biasanya tahanan akan di tempatkan di bagian atas tapi kurasa di sini terbalik."
"Kurasa begitu, jika turun mungkin akan semakin gelap.. kita harus membawa obor atau semacamnya."
"Kurasa tidak perlu, coba kau letakkan tanganmu di dinding menara ini."
"Aku mengerti."
Akane melakukan apa yang kuminta, saat tangan putihnya menyentuh dinding ukiran yang melapisi setiap sudut bercahaya terang dan itu menjadi penerangan kami.
"Ayo pergi dan pastikan selalu bersiaga dengan pedang, kita tidak tahu jebakan apa yang ditaruh di tempat ini."
"Kupikir kau tidak bisa diandalkan ternyata aku salah."
"Berisik, tetap fokus."
"Aku sedang memujimu tahu."
Kami menuruni satu lantai ke bawah sejauh ini kami tidak menemui kesulitan apapun, memang benar ada beberapa batu yang tiba-tiba bergerak tapi kami menghancurkannya dengan mudah.
"Di belakangmu Kazuya."
Aku menusukkan senjataku dan itu membunuh seekor serangga yang terbang.
"Gawat."
"Ada apa?"
"Ini kumbang penghisap darah.. mereka hidup bergerombol, sistem reproduksi mereka sangat cepat bahkan jika mereka terkurung mereka bisa memakan sejenisnya."
__ADS_1
"Serangga yang mengerikan."
"Pokoknya cepat lari."
Aku membiarkan Akane berlari di depan.
"Kau sengaja di belakang untuk melihat pantatku kan."
"Berhentilah berimajinasi hal aneh tentangku, pokoknya terus berlari dan jangan menoleh ke belakang."
Aku berbalik lalu mengarahkan ujung pedangku ke arah ratusan serangga yang mengejar kami.
"Hell Fire."
Api membakar mereka semua.
"Sial, jumlahnya terlalu banyak."
Di dunia ini aku dipaksa secara terus menerus bertarung, aku tidak yakin memiliki energi sihir lagi yang tersisa.
"Kazuya, di sana."
Kami membuka sebuah gerbang yang terhubung ke lantai berikutnya untuk sekarang kami bisa menghindari serangga yang mengejar kami. Akane meletakkan tangannya kembali di dinding dan cahaya mulai tercipta.
Ruangan selanjutnya yang kami kunjungi adalah ruangan yang dipenuhi patung monster menyerupai Minotaurus yang masing-masing dari mereka membawa kapak besar.
"Aku sudah kehabisan sihir."
"Jumlahnya terlalu banyak, aku akan kerepotan."
Semua patung di menara ini dibuat sebagai penjaga yang mana secara otomatis akan bergerak maupun menyerang saat seseorang mendekatinya.
"Untuk sekarang bertahanlah selama dua menit aku akan mengisi sihirku dulu."
"Hanya dua menit."
"Aah."
__ADS_1
Akane menarik pedangnya lalu menerjang selagi menebas apapun yang menghampirinya, dengan sihir pemulihan itu cukup membantu mengisi mana di dalam tubuhku.
Tapi mengerikan sekali orang yang membuat menara ini, berapa lama dia membuat tempat serumit ini dengan keamanan yang sangat menyulitkan.
"Analisis."
Menara ini telah ada semenjak 1000 tahun, dan dibuat oleh penduduk yang disebut suku Atlantis. Suku Atlantis dikatakan hilang sejak lama dari peradaban dan keberadaannya tidak bisa ditemukan di mana pun.
Hanya seseorang yang memiliki sihir suci murni yang bisa mematikan sistem keamanannya.
Jadi begitu.
Skill Analisis memang cukup membantu.
Dua menit berlalu dan Akane sudah kelelahan, dia berlutut di sampingku selagi mengatur nafasnya yang naik turun.
"Sekarang giliranmu, aku bisa mati jika terus menerus bertarung seperti ini."
"Kau mulai terbiasa sekarang, aku tidak akan menyebutmu amatir atau wanita berdada besar yang sulit bergerak."
"Kau mengejekku."
Aku tersenyum masam lalu berdiri di depannya, kuangkat pedangku ke atas seraya berkata.
"Himitsu no ugoki... Tebasan Takdir."
Kemudian kutancapkan ke lantai sebelum akhirnya duduk bersandar di samping Akane yang bengong.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku menebas mereka," tepat saat aku mengatakannya semua tubuh patung itu berjatuhan dan hancur.
"Luar biasa sekali."
"Jika kau sanggup mengunakannya, pedangmu lebih kuat dariku."
"Benarkah?"
__ADS_1
Akane menatapku dengan pandangan bersinar, aku bisa melihat kembang api disorot matanya.