Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 162 : Kedua Siswa Akademi


__ADS_3

Di dalam ruangan yang yang terasa hangat Arthur dan Clara disibukkan dengan buku-buku yang menumpuk di dekat mereka, semua ini adalah buku yang telah dibaca oleh Clara selama seminggu.


Arthur yang mulai bosan memutuskan berjalan ke dekat jendela dan melihat titik putih telah berjatuhan menutupi perkarangan akademi.


Ketika keheningan terasa di antara mereka berdua sosok siswa dari kelas menerobos masuk, tentu itu juga mengganggu pengunjung perpustakaan lainnya.


"Dengar ini... kota suci telah diserang oleh penjahat," katanya selagi menunjukkan koran di tangannya.


Semua orang cukup terkejut soal itu terlebih orang yang telah menyelamatkan kota tersebut adalah orang yang sama yang telah membuat akademi ini serta membuat kompetisi bodoh soal pewaris tahta kerajaan.


Tapi dibanding itu hal yang membuat mereka bersemangat adalah pedang yang ditancapkan di tengah kota itu. Tidak akan ada orang yang tidak tahu soal pedang Excalibur karena itu mereka bersemangat termasuk Arthur sendiri.


"Di sini katanya siapapun yang bisa mencabutnya mereka bisa memilikinya."


"Luar biasa, aku akan pergi ke kota suci untuk mendapatkannya."


"Aku juga."


"Kita harus menunggu sampai liburan."


Clara menutup bukunya yang ke-100 lalu meletakkannya bersama tumpukan lainnya sebelum berjalan ke arah Arthur dan menarik lengan bajunya.


"Ada apa Clara, kau ingin aku mengantarmu ke toilet lagi?" tanya Arthur.


"Bukan itu, apa kau menginginkan pedangnya juga?"


"Aku memang menginginkannya tapi aku mempunyai urusan lain, aku ingin mengunjungi perbatasan kerajaan untuk berpetualang ke dungeon."

__ADS_1


"Dungeon milik guild pedang Weisvia."


"Um... Kudengar petualang bernama Zeper dan rekannya telah mencapai lantai 100 dan membuka jalan petualang lain untuk mencapai lantai tersebut, bahkan jika kita berdua aku yakin masih bisa menempuh sampai lantai 100."


"Sepertinya menyenangkan sekali, tapi apa mereka akan mengijinkan kita masuk."


"Asal kita membagi hasil penemuan kita pada pengelola dungeon kita akan diijinkan masuk."


"Kalau begini aku juga akan ikut."


Tanpa terduga kedua siswa menguping di belakang mereka.


"Jangan lupakan aku."


"Aku juga," suara itu berasal dari Pireta dan Luis, sejak berada di akademi mereka adalah satu grup.


Luis menambahkan.


"Kalau begitu kita berempat akan pergi nanti," Arthur mengulurkan tangannya begitu juga rekannya yang lain dan berkata.


"Mari bertambah kuat bersama."


Di hari-hari terakhir, semua orang mulai mempersiapkan barang yang akan mereka bawa pulang ke rumah mereka selama liburan, bagaimanapun kebanyakan siswa di akademi ini berasal jauh dari ibukota.


Di antara para siswa, Arthur dan Clara memutuskan untuk tidak pergi ke desa lagipula mereka tidak memiliki tempat pulang karena kedua orang tua mereka telah meninggal sejak lama.


Di pasar loak Arthur mulai memilah-milah pedang yang akan dibelinya, sedangkan Clara mencari tanaman obat yang bisa dia gunakan, dia juga memerlukan tempat untuk meracik obatnya sendiri.

__ADS_1


Walau udara dingin orang-orang masing dituntut untuk hidup dengan berjualan serta mencari uang dengan apa yang mereka kerjakan.


Para petualang juga tidak pernah berhenti berkerja di saat seperti ini.


"Berapa ini?"


"Satu koin emas."


"Kau pasti bercanda, ini toko barang bekas bukan pandai besi, kenapa harganya mahal?"


"Itu barang bagus, kau bisa melihatnya bukan?"


"Meski begitu bisakah kau menjualnya lebih murah lagi."


"Baik, baik, delapan koin perak."


Meski sudah turun itu bukan harga yang bisa dibeli Arthur kendati demikian Clara langsung mengulurkan kantong uang pada si penjual.


"Aku beli."


"Clara?" panggil Arthur.


"Jangan khawatir, aku punya banyak uang dari tanaman obat yang kujual sendiri.


"Aku mencintaimu."


"Menjauhlah dariku," kata Clara mengembungkan pipinya selagi mendorong wajah Arthur.

__ADS_1


"Di saat seperti ini kau sangat imut."


"Berisik."


__ADS_2