
Di langit yang telah kembali indah dua sosok melayang di sana selagi mengirim pukulan maupun tendangan.
Diablo dengan sosok iblis yang dinamakan Demon Hell dan Amaterasu dengan sosok seperti biasanya.
Diablo menciptakan debu hitam di sekeliling Amaterasu, saat Amaterasu menutupi hidungnya debu itu meledak dahsyat.
Kepulan asap putih menyembur dari pakaiannya.
Jika debu terhisap maka ledakan akan terjadi di dalam tubuhnya, sebuah kekuatan yang dari awal dikhususkan untuk membunuh.
Diablo hendak menggunakan sihir yang sama akan tetap teleportasi Amaterasu membuatnya terkejut, Amaterasu meninju bagian dada di susul perut dan selanjutnya wajah.
Gerakannya sangat cepat hingga sulit untuk dilihat dengan mata telanjang, kendati demikian Diablo masih bertahan dengan semua luka di tubuhnya.
Di masa lalu Diablo menyamar menjadi penduduk biasa dan membantu para Arch Priest untuk menangkap Amaterasu.
Saat itu Amaterasu tak bisa melakukan apapun karena masih terpukul dengan kedua saudarinya, akan tetapi sekarang berbeda terlebih dia sekilas melihat saudarinya tersenyum selagi melambai ke arahnya.
"Thunder Arrow."
"Wall."
Serangan seperti apapun bisa diblokir baik oleh Amaterasu, Diablo yang selalu bersikap santai mulai kehilangan kendalinya, dia mengacak-acak rambutnya hingga potongan rambut itu berjatuhan.
"Bagaimana bisa kekuatanku dihalau, aku adalah sosok kuat melebihi dirimu."
"Jangan konyol kau tidak bisa mengalahkanku."
"Apa katamu? Jika begitu akan kumakan semuanya."
Diablo mengambil seluruh obat di dalam sakunya lalu menelannya sekaligus.
"Dengan ini aku tak terkalahkan."
Perubahan Diablo semakin terlihat luar biasa, tapi itu hanya di luarnya saja.
__ADS_1
Amaterasu maupun Diablo saling meninju, hingga kedua pukulan itu menciptakan petir ke segala arah.
"Aku tidak terkalahkan."
Diablo muncul di samping Amaterasu, menendang tubuhnya hingga dia menukik jatuh ke bawah.
Bersamaan itu Diablo menciptakan bola raksasa yang menghujani tubuh Amaterasu dalam ledakan, yang tersisa dari sana hanya kawah raksasa paling dalam.
Dengan gerakan kuat, Diablo menginjak perut Amaterasu hingga dia kesakitan.
"Bagaimana rasanya?"
Amaterasu tertawa.
"Kau hanya orang bodoh, memakan obat sebanyak itu hanya akan menghancurkan tubuhmu."
"Apa?"
Tepat saat Diablo kebingungan seluruh tubuhnya mulai merasakan efek yang dibicarakan Amaterasu, urat-urat ototnya terlihat memerah layaknya bara api.
Retakan mulai terlihat juga dari wajahnya.
Tanpa menggubris kata-kata tersebut Amaterasu mengarahkan tangannya ke arah Diablo hingga dalam sekejap Diablo muncul di atas langit kemudian meledak karena ulahnya sendiri.
Amaterasu tersenyum tipis.
"Kurasa pertarungan mereka sudah selesai, kini hanya satu lagi yang harus mereka kalahkan."
Amaterasu, Selly dan Sella, dan juga Encore di masa lalu nama mereka lebih dikenal sebagai ratu iblis maupun raja iblis.
Ken berjalan selagi memapah dirinya dengan tongkat.
"Kau sudah mati?"
"Aku masih hidup."
__ADS_1
"Apa kau ingin melihat koleksi buku pornoku?"
"Kau menawarkan hal seperti itu pada seorang gadis?"
"Aku hanya punya itu di sihir penyimpananku."
"Lain kali isilah dengan hal yang lebih bermanfaat seperti makanan atau minuman."
Ken tertawa kecil.
"Sepertinya begitu, aku sudah tidak memerlukannya sekarang."
Ken mengeluarkan seluruh koleksinya lalu membakarnya tanpa ragu.
"Sekarang sedikit lebih berguna untuk menghangatkan diri."
"Kau membakarnya?"
"Ini hanya penyamaran, ada seorang gadis yang menyukaiku, dia selalu mengutarakan perasaannya padaku dengan tulus, aku ingin membuatnya membenciku.
"Begitukah, kau pria baik rupanya... kau tidak ingin dia terluka jika kau misalnya tidak kembali dari medan perang."
"Aah, selama ini aku hanya memperhatikannya dari kejauhan saja tapi saat penyerangan ini dilakukan dia menemuiku setelah beberapa tahun berlalu, apa kau tahu apa yang dia katakan padaku?"
Amaterasu hanya melirik wajah Ken tanpa ekspresi hingga dia melanjutkan.
"Setelah peperangan ini selesai, kembalilah pulang dan mari menikah... bahkan setelah aku berusaha menjauhkannya dia tetap saja menungguku."
"Bukannya itu bagus, dia sudah menyadari niatmu dari awal karena kau mencintainya juga."
"Sepertinya begitu, aku akan memeriksa keadaan yang lainnya."
Saat Ken hendak pergi Amaterasu memangilnya hingga langkahnya berhenti sejenak.
"Selamat."
__ADS_1
"Masih terlalu awal tapi terima kasih."
Keduanya hanya tersenyum satu sama lain.