Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 81 : Di Taman


__ADS_3

Jauh di ujung pulau ada sebuah jembatan yang terhubung dengan pulau lain, aku bersama Gabriela akan mencoba menyeberanginya dengan cara berjalan di atasnya.


Setiap aku melangkahkan kakiku jembatan akan ikut tergoyang tertiup angin.


"Kenapa kita harus melakukan ini tuan?" tanya Gabriela memegangi tali.


"Bukannya ini menyenangkan, ada jembatan artinya harus dilewati. Jangan bilang ini pertama kalinya seseorang berjalan di atasnya."


"Ras malaikat mempunyai sayap kami tidak perlu melewati jembatan untuk berpindah tempat dari pulau satu ke pulau lainnya."


"Kalau begitu kenapa kalian membuat jembatannya?"


"Bukan kami yang membuatnya melainkan manusia, dulu ada manusia yang tinggal di sini dan membuat jembatan ini supaya dia bisa berpindah semaunya."


"Manusia?'


"Karena sudah lama jembatannya sudah tidak kokoh lagi."


"Jangan bilang kalian menyandera manusia."


"Kami ini malaikat," teriak Gabriel hingga akhirnya dia menyerah dan memunculkan sayang di punggungnya untuk terbang.


Ada sebuah lingkaran di atas kepalanya yang bersinar terang.


Selama pembicaraan ini angin terdengar sangat berisik.


"Aku akan menunggu tuan di seberang," katanya terbang menjauh aku akan menyusulnya nanti, walau butuh waktu lama Gabriela tampak berdiri menyambutku sementara aku langsung membaringkan tubuhku di rumput.


"Barusan menyenangkan, bisakah kau menjelaskan siapa orang yang pernah ada di sini itu?"

__ADS_1


"Namanya kalau tidak salah Garius, dia mengatakan bahwa dirinya seorang penemu?"


"Penemu, apa yang dia buat?" aku menjadi sedikit penasaran.


"Kalau tidak salah alat untuk manusia bisa terbang."


"Bukannya itu mustahil?"


"Tidak, dia bisa membuatnya."


Setelah Gabriela menggambar benda itu di atas tanah aku akhirnya tahu, itu hanyalah sebuah balon udara raksasa dengan bentuk menyerupai cerutu atau sering disebut pesawat udara.


"Jadi begitu, di mana aku bisa melihat benda seperti ini?"


"Entahlah, mungkin di belahan dunia lain tuan."


Jawabannya sama sekali tidak membantu.


Kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan manusia.


"Tuan?"


Aku menerima sesuatu dari Gabriela.


"Ini?"


"Hanya daging gurita yang dicampur dengan saus, sebentar lagi akan ada pertunjukan, kita bisa bersantai di sini sebentar," bertepatan saat aku duduk di kursi, tiba-tiba saja area kosong yang berada di tengah taman ini dipenuhi orang-orang berpakaian aneh, mereka terlihat sedang memainkan Opera secara langsung.


"Ini hari libur, karena itulah akan ada acara ini."

__ADS_1


"Begitu."


Aku menusuk kaki gurita dengan lidi kemudian memasukannya ke dalam mulutku.


"Owh, ini kenyal.. aku membayangkan Gabriel dililit tentakel sekarang."


"Jangan memikirkan hal aneh."


Pagi berikutnya para iblis mulai berdatangan untuk menyerang pusat kediaman para malaikat, aku yang sedang tidur nyenyak harus menerima kepalaku benjol akibat terjatuh dari tempat tidur.


Aku melihat sekeliling dan menemukan Gabriel sudah tidak ada di sini, dia pasti memutuskan untuk bertarung sendirian tanpa membangunkanku.


Aku keluar lewat jendela dan menemukan para malaikat sedang bertarung dengan musuh mereka, salah satu malaikat wanita tampak menangis selagi memeluk kekasihnya.


"Jangan mati, aku tidak ingin kehilanganmu."


"Kau baik-baik saja?"


"Kekasihku."


"Tenanglah, ini masih belum terlambat," aku mengarahkan tanganku lalu sebuah sinar menyelimuti tubuhnya.


Dalam sekejap pria itu hidup kembali.


"Syukurlah."


"Bukannya aku sudah mati."


"Selamat datang kembali."

__ADS_1


Selagi jiwanya masih ada aku bisa menghidupkan seseorang sebanyak yang kumau.


__ADS_2