
Di lantai yang dingin di kastil yang sudah ditinggalkan sosok wanita berambut merah berkulit gelap itu kembali berdiri, kepala yang terpelintir itu kembali dia sesuai pada tempatnya selagi menghela nafas panjang.
Tanduk di keningnya masih menempel dan itu yang dia syukuri.
"Orang itu ternyata hebat juga, apa kau juga berfikir demikian Minerva," wanita itu mengarahkan pandangan ke arah kegelapan dimana dari sana sosok wanita lain muncul dengan seragam militer.
"Kau saja yang terlalu ceroboh Helin."
Helin yang menjadi lawan bicaranya tertawa sebelum berjalan pergi.
"Aku tidak tahu, tapi rasanya kita tidak akan mungkin bisa mengalahkannya."
"Apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
"Sudah jelas menyerah, aku lebih suka kembali ke dalam tanah dan hidup seperti dulu dibanding melakukan semua ini."
"Helin?"
"Kuperingatkan satu hal, jangan pernah bertarung jika kau tidak.bisa memenangkannya."
Helin masuk ke dalam kegelapan kemudian menghilang menggunakan sihir teleportasi miliknya, dia muncul di sebuah gua kecil dimana gua ini menghubungkan rumah para Oni, semenjak mereka tinggal di sini para Oni tidak pernah mengalami kesulitan atau merasa diganggu siapapun, mereka semua hidup dengan damai.
Hal yang salah di sini adalah kedatangan pahlawan itu, Alexius.
Dia merayu petinggi dari para Oni dan mengatakan akan memberikan kebebasan pada para Oni hingga mereka bisa kembali tinggal di permukaan tanah. Bagi seseorang yang terus berada di dalam tanah itu adalah sebuah impian yang luar biasa dibanding impian apapun.
Kendati demikian Helin selalu ragu dengan pilihan tersebut, awalnya para Oni telah berbuat jahat pada manusia hingga mereka diasingkan ke dalam tanah jika mereka melakukan ini lagi hanya ada kematian yang menjadi ganjaran atas kejahatan ini.
Padahal walau keadaan seperti ini, para Oni masih bisa hidup damai. Menyerah atas pemikirannya Helin melanjutkan langkahnya dengan perasaan senang dia ingin bertemu seluruh keluarganya di sini namun apa yang menantinya hanyalah sebuah neraka tanpa dasar... atau lebih dari itu.
Seluruhnya telah dibantai habis entah itu wanita, anak-anak ataupun orang tua mereka sudah mati.
__ADS_1
Sosok yang melakukannya berdiri di sana dengan wajah senang, selagi mengangkat petinggi Oni lalu melemparkannya ke tanah tanpa ampun.
"Masih ada yang hidup rupanya?"
Dialah sang pahlawan dari masa lalu.
Alexius yang kehilangan satu tangannya tampak sudah memiliki penggantinya.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Aku perlu jasad mereka sebagai ritualku, dengan kekuatan ini aku tidak akan bisa dikalahkan lagi."
"Sialan kau."
Helin mengeluarkan pedang dari tangannya kemudian melesat maju selagi menebas dengan membabi buta, kemarahannya telah membuat seluruh pikirannya menghilang.
Kecuali harus membunuh orang di depannya tidak ada lagi yang ingin dia lakukan.
"Kau sangat berbahaya, lebih baik kau mati juga."
Alexius menciptakan tombak api raksasa dari tangannya, dia melemparkannya ke arah Helin sebelum tubuhnya kembali sedia kala dan sebelum mengenainya itu lebih dulu dipatahkan oleh dua orang yang melindunginya.
Mereka adalah Minerva dan Haki.
"Apa-apaan ini semua Alexius?" Haki menggeram sangat marah.
"Dari awal aku hanya ingin memanfaatkan kalian semua, aku perlu pengorbanan dari makhluk kuat agar bisa memakai kekuatan ini."
"Dasar kau."
Haki menerjang ke depan sebelum Minerva mampu menghentikannya, hanya dengan sekali ayunan tangan, tubuh Haki langsung terpotong-potong bagaikan sebuah daging cincang.
__ADS_1
Ketika Minerva dan Helin mengamati hal itu baik-baik, terdapat benang-benang mirip jaring laba-laba di sekitar Alexius.
"Bagaimana bisa kau mempercayai orang sepertimu?"
"Minerva, Haki," kata Helin.
"Kita lebih baik pergi dari sini."
"Memangnya aku akan membiarkan kalian pergi."
"Helin cepat gunakan sihir teleportasimu."
"Terlambat."
"Matilah."
Darah menyembur di mulut Helin saat sebuah tangan menembus tubuhnya demi melindungi Minerva.
"Helin?"
"Bahkan jika dirimu abadi, kau tetap saja akan mati dengan kekuatanku."
Helin berkata ke arah Minerva.
"Pergilah."
"Tapi."
"Pergilah, paling tidak kau harus hidup."
Air mata jatuh dari wajah Minerva bersamaan saat dirinya menghilang, sementara Helin hancur menjadi abu.
__ADS_1
"Biarlah, yang penting aku bisa membunuh para Oni ini dan mengambil seluruh kekuatan mereka... Sekarang aku tak terkalahkan haha," kata Alexius puas.