
"Yah tidak ada yang lebih menyenangkan mandi bersama seperti ini," kataku demikian, sementara keempat siswa ini hanya diam tak mengatakan apapun.
Aku melanjutkan
"Sebentar lagi kalian harus kembali ke Akademi, aku pikir kalian tidak akan sempat keluar dari Dungeon ini dengan hanya berjalan kaki, setelah mandi aku akan mengantar kalian."
"Kurasa kami akan menerima tawaran tersebut, lagipula aku sudah lelah harus berjalan lagi untuk keluar dari sini," suara itu datang dari Clara yang mendapatkan anggukan semua orang.
Sepertinya mereka datang kemari hanya ingin menghabiskan waktu liburan saja, sejujurnya aku sudah tahu bahwa mereka tidak memiliki tempat untuk pulang.
Selesai mandi aku memindahkan mereka keluar dungeon tepatnya ke bagian pintu masuk untuk membagi hasil kristal yang mereka kumpulkan sebelum akhirnya membawa mereka ke tempat yang tidak mereka sangka.
"Di mana ini?" tanya Luis.
"Ini adalah kediamanku, kalian masuklah lagipula kalian memiliki tiga hari lagi sebelum kembali bersekolah, kalian bisa tinggal di sini sampai itu tiba."
Mereka semua mengangguk setuju, mereka pandai menyembunyikan perasaan mereka.
"Apa boleh buat."
"Apa boleh buat."
Apa kata-kata itu yang kalian bisa katakan, ketika kami masuk tumpukan bonekalah yang menyambut kami.
Dari tumpukan itu para penghuni masion keluar, tentu Rin, Amnestha dan Gabriela yang lebih dulu bereaksi kepada orang yang kubawa.
"Kami tanpa sengaja bertemu di jalan jadi aku menawarkan mereka untuk tinggal di sini beberapa hari."
"Kami mengerti, karena mereka akan tinggal di sini, sebaiknya kalian membantu kami juga sekarang," kata Felisa.
Keempat orang itu berbisik ke dekatku, Clara yang menjadi perwakilan.
"Kami sepertinya pernah melihat nona itu."
"Dia itu ratu dari kerajaan Weisvia dan juga istriku."
"Heh."
__ADS_1
Lagi-lagi mereka malah terkejut, bukannya hal biasa jika memiliki lebih dari satu istri.
"Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian, jadi tunggulah di sini" kataku izin pergi.
"Guru, aku ingin belajar banyak hal darimu."
"Kalian tidak memerlukannya."
Mereka semua kebanyakan mengatakan hal demikian saat aku menaiki tangga, Rin yang kejam terkadang bisa lembut juga.
Saat malam hari tiba aku duduk selagi menikmati teh di ruang tamu, karena di luar sedang bersalju aku tidak bisa keluar malam ini untuk menyaksikan bulan purnama, ketika aku melihat ke jendela sosok Arthur dan Clara muncul dan berdiri di depanku.
"Kalian berdua, duduklah, apa ada sesuatu yang ingin kalian berdua katakan?"
Keduanya duduk seperti yang aku minta lalu menjelaskan.
"Sebenarnya kami sudah memikirkan banyak hal tapi kurasa kami memutuskan untuk tidak menjadi raja," kata Arthur menahan tangannya terlipat di lututnya.
"Clara sendiri?"
"Aku juga."
"Kenapa anda tertawa?" Clara lah yang bertanya.
"Sebenarnya sebelum kalian berdua, Pireta juga mengatakan hal sama."
Keduanya membelalakkan matanya karena terkejut.
"Sepertinya seluruh kandidat yang dipilih pelayanku tidak ada yang mau menjadi raja, ini juga berlaku pada Luis. Bagi mereka hidup seperti raja sangat merepotkan, yah... sejujurnya aku juga berfikiran sama, tapi boleh aku tahu alasan kalian?"
Arthur lah yang menjawab pertanyaannya.
"Sejujurnya saat melawan monster di dungeon kami berdua teringat akan kematian orang tua kami, saat itu kami tidak bisa melakukan apapun tapi sekarang kami sudah lebih kuat... Karenanya, aku ingin menjadi petualang dan menyelamatkan siapapun yang membutuhkan pertolongan kami hingga mereka tidak perlu mengalami hal menyakitkan seperti kami lalui."
"Aku juga bersependapat, rasanya jika kami tinggal di istana kami akan kehilangan hal yang berarti bagi kami."
"Tapi dengan menjadi raja kalian bisa melindungi banyak orang."
__ADS_1
Arthur menggelengkan kepalanya.
"Ada batasan yang membuat kami berdua tidak bisa melakukannya dengan bebas."
Aku bisa mengerti soal itu.
"Jika itu kemauan kalian aku tidak akan menghentikannya, akan tetapi kalian harus menyelesaikan pendidikan kalian di akademi, untuk masa depan kalian bisa memutuskan nanti."
"Terima kasih banyak, aku sedikit bersalah dengan guru."
"Jangan khawatir, Rin pasti bangga dengan pilihan yang kalian ambil... Aku juga tidak pernah menyesal membawa kalian ke dalam akademi."
"Sekali lagi terima kasih."
Keduanya berdiri lalu pamit meninggalkan ruangan, Rin, Amnestha dan Gabriela yang bersembunyi sejak tadi duduk di depanku.
"Sepertinya kami gagal melakukan tugas kami," kata Rin mendahului keduanya.
"Mana mungkin, kalian sudah memilih orang-orang yang hebat.. Aku yakin dengan keberadaan mereka berempat, akan banyak nyawa yang bisa terselamatkan di masa depan nanti, aku memang sedikit merasa kecewa tapi ini adalah keputusan mereka. Yang jelas, kalian berhasil menemukan orang-orang yang akan merubah dunia ini menjadi lebih baik, bukan hanya satu kerajaan melainkan dunia."
Gabriela mendesah pelan.
"Sepertinya tuan terlalu memandang mereka tinggi."
"Begitukah haha aku yakin, Arthur, Clara, Pireta dan Luis akan menjadi party petualang yang hebat... Kuharap aku bisa mendengar seluruh petualang mereka nanti. Ngomong-ngomong soal hadiah yang kujanjikan aku memutuskan untuk memberikan kalian bertiga hadiah kemenangan."
Saat aku mengatakan itu ketiganya menatapku dengan mata berbinar.
"Aku ingin membeli banyak pakaian."
"Aku juga."
"Sepertinya aku juga."
"Bilang saja kalian ingin dapat uang kan?" teriakku demikian.
Aku memberikan jumlah uang yang sangat banyak pada mereka bertiga. Bahkan uang yang kuberikan untuk gaji mereka terbilang sudah besar tapi mereka masih saja menginginkan uang lebih.
__ADS_1