
Aku berdiri di depan semua orang yang telah siap menenteng senjata mereka, lawanku adalah diriku sendiri dari dunia lain dan sekarang kami akan menyerang ke tempat persembunyiannya.
Tepat saat aku berpidato sebuah cahaya muncul di atas langit, cahaya itu membuat semua orang tertidur bahkan pelayanku juga.
Ini bukan sesuatu yang bisa ditangani mereka semua, aku melirik ke arah langit di mana sosok yang bertanggung jawab terbang di atas langit.
Dia membuang topeng di wajahnya menampilkan wajah yang mirip denganku.
"Tak perlu repot-repot datang, aku sendiri yang menemuimu."
Aku mendecapkan lidahku lalu melesat menuju arahnya dengan kecepatan tinggi, sebelum dia berhasil menahan pukulanku, aku sudah mengenai perutnya hingga dia terlempar puluhan meter dengan posisi tubuh berputar-putar menghancurkan apapun yang dia lewati.
Gunung-gunung hancur sampai dia berseluncur di air danau kemudian mengambang di sana.
Aku menghilang dan muncul di depannya selagi berjalan di air.
"Kau benar-benar tak menahan diri."
"Bahkan dengan pukulan seperti itu, kau masih bisa hidup."
"Tepat sekali."
Diriku yang lain bangkit lalu mengarahkan tangannya ke arahku.
"Ultimate Burster."
Dia menembakan laser raksasa berkekuatan luar biasa meski begitu aku berhasil menahannya dengan mudah.
Tepat saat aku melakukannya sebuah tangan bermunculan dari dalam laut lalu menangkap seluruh kakiku.
__ADS_1
Mereka adalah diriku yang lain.
"Apa kau menyukai klon, aku membuat diriku semakin banyak."
Aku menggunakan sihir petir untuk menghancurkan mereka, tentu aku juga terkena kendati demikian tidak begitu parah.
Diriku yang lain bertepuk tangan dengan senang.
"Sesuai yang diharapkan dari diriku yang lain, sekarang bagaimana ini... Area Field, zona api."
Air danau yang sebelumnya berwarna biru kini digantikan dengan lava yang membara, dari dalam sana golem-golem raksasa bermunculan.
"Serang dia."
Aku berusaha menghindari mereka hingga satu Golem menangkapku.
"Area Field... Zona ledakan."
Aku melindungiku dengan sihir, kemudian berkata.
"Arena Field Zona Penghakiman."
Rantai-rantai menyeruak dari lava mengincar diriku yang lain yang melompat ke sana kemari.
"Serangan seperti ini tidak akan mempan padaku."
Aku meluncur ke arahnya kemudian mengirim tinjuku demi memukul wajahnya, tidak seperti sebelum-sebelumnya seranganku berhasil ditahan olehnya.
"Apa tujuanmu yang sebenarnya?'
__ADS_1
"Tujuan apa maksudmu."
Dia melemparkanku ke atas kemudian menendang wajahku hingga aku terbang ke belakang sejauh beberapa meter.
Dengan rasa sakit yang menjalar dari tubuhku sebuah tombak besi menembusku dari segala arah.
"Guakh."
"Area Field... Zona Penghakiman."
Sebuah rantai mengikatku dari segala arah, kemampuan diriku yang lain adalah meniru kemampuan orang lain.
Ketika aku tidak berkutik diriku yang lain memotong kedua tanganku. Aku segera menghilangkan rasa sakitnya dengan skill milikku.
"Aku bisa meniru siapapun tapi sayangnya hanya sistem dunia ini yang tidak bisa kutiru, dengan mengambil kekuatanmu semuanya sudah terlambat... dengan sistem ini aku akan membuka gerbang neraka dan juga mengambil kekuatan dari Dewi Nimpa untuk menjadi dewa sesungguhnya."
Tepat di belakangku wanita dalam kristal maupun gerbangnya muncul secara bersamaan.
"Apa kau tahu rasanya dihina menjadi seorang yang lemah, saat di dunia itu aku diciptakan dengan meniru kekuatanmu yang lemah... ketika itu aku memutuskan satu hal, aku akan menjadi orang yang kuat dan membunuh siapapun yang menghalangiku haha semua orang akan mengakuiku seutuhnya.
"Tidak, seseorang bukan hanya diakui karena mereka memiliki kekuatan saja... tapi seseorang diakui karena dia memang pantas mendapatkannya."
"Diam kau, tahu apa kau? Aku selalu diejek dan diejek... sekarang matilah."
Bilah pedang diayunkan dari atas saat hampir mengenai leherku, seseorang membunuh diriku yang lain dengan mengerikan.
Kepalanya terpenggal seperti apa yang dilakukannya pada boneka miliknya hingga aku terdiam membatu.
"Yo, kau sepertinya butuh bantuan."
__ADS_1
"Dolla, kenapa ini?"
Dia tersenyum tipis.