
Akane terjatuh di atas sebuah potongan kue raksasa, ia memegangi kepalanya selagi mengingat apa yang telah terjadi padanya.
Pertama dia terhisap ke dalam buku dan sekarang muncul di sebuah wilayah yang seluruhnya terbuat dari kue, permen serta apapun yang manis di dalamnya.
Jika ada dunia yang disukai anak-anak maka tempat ini termasuk salah satunya.
Akane menarik pedangnya tatkala seorang turun dari langit dengan anggunnya.
Dia berkata selagi membentangkan tangannya dengan lembar-lembar kertas mengelilingi tubuhnya.
"Selamat datang di duniaku, biar aku beritahu kita berada di dalam sebuah buku."
"Jadi benar, keluarkan aku dari sini dan serahkan dirimu kepada kerajaan."
"Kutolak, lagipula kerajaan yang kau katakan barusan hanya akan menjadi wilayah tuan Encore."
Granis menjentikkan jarinya dan sekitar puluhan orang-orangan terbuat dari permen, kue maupun krim terbentuk untuk menyerang Akane.
"Mengandalkan hal seperti ini hanya membuang-buang waktu."
Akane mengibaskan pedangnya di udara menciptakan api hitam yang membakar sekelilingnya, Granis menjatuhkan bahunya lemas selagi menggelengkan kepalanya
"Aku sudah memberikan kematian indah untukmu, tapi sepertinya kau lebih ingin mendapatkan penderitaan yang memuaskan, apa boleh buat aku akan melayanimu."
Granis melesat maju dengan tubuh melayang, setiap kertas di sekitarnya melipat dirinya menjadi piringan yang mana meluncur untuk melukai tubuh Akane.
__ADS_1
Beberapa dari senjata itu bisa dipentalkan ke samping sementara kertas yang lainnya membentuk dirinya menjadi pedang di tangan Granis.
Akane menahan pedang tersebut, di saat yang sama beberapa kertas sudah menempel di setiap kakinya.
"Ini disebut seni melipat kertas, tapi bagiku seni itu adalah ledakan."
DOAAAR!
Kedua kaki Akane meledak tubuhnya segera terjatuh ke bawah sebelum akhirnya wajahnya ditendang oleh Granis ke samping.
"Di dunia ini aku adalah yang terkuat, aku bisa mengendalikan semua kertas dan menyiksamu selama yang kuinginkan."
"Bodoh, kertas tetaplah kertas jika terbakar semuanya berakhir."
Api hitam menyebar dari sekeliling tubuh Akane bersamaan dengan matanya yang berwarna gelap.
Keduanya saling mengayunkan pedangnya yang mana saling melukai satu sama lain, dibanding Granis, Akane yang lebih banyak menerima damage.
Kakinya bahkan sangat sakit untuk digerakkan terlebih tubuhnya diterbangkan menabrak dinding permen sebelum masuk ke dalam kolam susu.
"Tubuhku lengket."
"Sekarang matilah."
Setiap kertas kembali membentuk dirinya menjadi sebuah suriken yang meluncur ke arah Akane.
__ADS_1
"Akuma Ougi.... Kagutsuchi."
Tebasan miliknya menghancurkan seluruh suriken hingga berkeping-keping.
"Pedang terkutuk kah, menarik sekali."
"Dengan pedang ini akan kukalahkan kau."
"Menurutmu kau bisa melakukannya, dibanding mengandalkan senjata akan kutunjukan kutukan yang sebenarnya."
Granis mengeluarkan sebuah obat di dalam pakaiannya yang lalu ia telan dalam mulutnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Akane.
"Ini hanya obat yang diberikan tuan Encore pada kami semua," bertepatan itu, seluruh tubuh Granis menghitam, kuku di tangannya mulai memanjang seiring kemunculan tanduk serta sayap dipungungnya.
Wajahnya perlahan sedikit berubah menjadi sosok iblis dengan mata berwarna merah terang.
"Inilah kekuatan kutukan sesungguhnya, tranformasi iblis."
Akane mengigit ujung bibirnya sebelum melesat maju, dia melompat ke udara untuk menyerang Granis sayangnya jangkauan serangannya tidak bisa mencapai musuhnya sama sekali.
"Percuma, bahkan dengan kutukan tingkat keduamu kau tidak akan bisa melakukan apapun, sekarang terimalah kematianmu haha."
Granis mengangkat tangannya demi menciptakan bola hitam di sana, perlahan bola itu mulai membesar sampai berdiameter 50 meter.
__ADS_1
Dia melemparkannya tepat menghantam tubuh Granis hingga ledakan tercipta.