
Di dalam ruangan pertemuan itu, aku duduk bersama Fate, Rin serta Arisa, masing-masing kami ditemani teh dah beberapa kue yang cukup manis.
"Aku akan menjadikan kerajaan ini menjadi negara republik, dengan itu sampai pemilihannya selesai, aku akan tetap di sini bersama Arisa... mungkin sekitar tiga bulan."
Itu memang wajar, pengalihan pemerintah tidak bisa dilakukan secara cepat serta terburu-buru.
"Sampai saat itu, Rin nanti akan menjemput kalian berdua."
"Aku mengerti."
Aku menyeruput tehku dalam diam lalu beralih ke arah Arisa.
"Bukannya kau terlihat sangat imut."
"Muu... jangan mengatakan itu, aku jadi malu."
"Aku ingin menanyakan keberadaan Katharina, apa kau tahu di mana dia?"
"Katharina selalu berpindah-pindah bersama rombongannya terakhir kali dia berada jauh dari negeri awan."
"Apa para vampir tidak diterima baik oleh yang lainnya?" tanyaku kembali.
"Benar, terutama manusia, mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal demi mencegah penyerangan."
Rin mendesah pelan.
"Sama seperti desaku dulu."
"Kenapa Kazuya menanyakannya?"
"Aku ingin membawa mereka untuk tinggal di desaku," mendengar itu, Rin segera berdiri.
"Aku tahu tuan sangat baik, tapi aku menolaknya.. aku tidak ingin reputasi tuan menjadi buruk, mungkin para pendeta dari kota suci akan menangkap tuan dan tuan bisa saja dituduh sebagai penjahat."
"Tenanglah Rin."
Menyadari apa yang telah Rin lakukan, dia menghela nafas panjang lalu duduk kembali.
__ADS_1
"Maaf soal barusan."
Dia terlalu memikirkanku.
"Tak apa, aku bisa mengerti perasaan Rin... tapi jika hal buruk terjadi aku siap bertanggung jawab nanti dan menjelaskan semua keadaannya pada para Arch Priest atau penduduk kerajaan."
Fate memotong setelah diam untuk memikirkan sesuatu dalam kepalanya.
"Jika mereka sebelumnya ada di perbatasan, aku yakin tempat tujuan mereka adalah di pulau tengah laut, hanya tempat itu saja yang bisa mereka tinggali, lagipula di sana jauh dari siapapun."
"Apa tempat itu layak dihuni?"
"Aku tidak bisa mengatakan layak... karena vampir hanya bisa meminum darah, jika hewan di sana mati mereka juga jelas akan mati."
Selain darah manusia, mereka bisa meminum darah hewan walupun bagi mereka rasanya tidak enak.
"Mungkinkah kalian berdua selama ini hanya meminum darah hewan."
"Tentu saja, aku mungkin hanya akan meminum darah Kazuya."
"Aku juga."
"Aku jelas menolak, aku tidak akan memberikan darahku pada kalian."
"Kenapa begitu? Padahal kami sudah menunggu sangat lama, benarkan Arisa?"
"Benar sekali."
"Aku akan mencari jalan yang lebih baik untuk kalian, seperti membiarkan orang-orang mendonorkan darahnya dengan ditukar uang."
"Itu juga bisa dilakukan tuan," ucap setuju Rin.
Kami memutuskan untuk tinggal semalam di sini, bagaimanapun Fate membuat semacam pesta penyambutan untuk kami dan jika menolak itu kurang sopan.
Aku dan Fate berdiri di beranda Istana selagi melihat pemandangan pegunungan selagi meminum jus di tangan kami.
"Kau sudah memiliki kehidupan yang menyenangkan, apa kau yakin membuang semua ini hanya untuk tinggal bersama kami."
__ADS_1
"Aku sudah tinggal lama di sini, kurasa sudah cukup aku memperbaiki kerajaan ini, sekarang sudah waktunya memberikannya ke generasi selanjutnya."
Fate bahkan memutuskan untuk tidak menikah hanya demi menungguku untuk menjemputnya.
Jika dia punya keluarga, aku jelas tidak akan membawanya.
Dia melanjutkan.
"Jika aku tidak bertemu denganmu, hal ini tidak akan terjadi, saat kerajaan jatuh aku tadinya sudah memutuskan untuk tidak menjadi putri ataupun seorang ratu, namun... setelah melihat penderitaan orang-orang aku memutuskan untuk memperbaiki semuanya, ini hanya demi Ayah dan Ibuku yang sudah berjuang keras membangun kerajaan ini, sekarang aku sudah melakukannya, bukannya waktunya aku juga mengambil kebahagiaanku sendiri... aku ingin melayanimu dan tinggal bersama kalian, Rin, Amnestha serta Gabriela, saat bersama dengan kalian hal itu sangat menyenangkan."
Aku hanya tersenyum saat Fate berdiri di depanku, tinggi kami hanya berbeda sedikit.
"Jabatan, uang dan ketenaran tidak selalu memberikan kebahagiaan pada pemiliknya... boleh kita berciuman?"
"Aku sudah menikah."
"Anggap saja ini ciuman terima kasih karena sudah datang menemuiku."
Sebelum aku menjawabnya dia lebih dulu melakukannya.
Rin dan Arisa hanya memperhatikan dari kejauhan selagi bersembunyi.
"Apa kau tidak ingin menghentikan mereka?"
"Cuma ciuman, kami semua terkadang melakukannya."
"Benarkah, apa tidak ada yang keberatan?"
"Tidak ada, lagipula istri tuan juga sudah tahu bahwa tuan itu sangat populer di kalangan wanita... bahkan tidak ada yang melarangnya menikah lagi, hanya saja tuan merasa sudah cukup memiliki sembilan istri."
"Mereka sangat baik, memang sulit bagi satu wanita untuk memonopoli Kazuya sendirian."
"Bisa dibilang sembilan orang itu sangat beruntung, walau kita dekat dengan tuan kita tidak akan bisa memiliki anak darinya."
"Apa kau merasa sedih?"
"Segini juga sudah cukup bagi kami."
__ADS_1
"Aku juga mungkin akan merasa seperti itu, aku juga akan memangilnya tuan saat resmi menjadi pelayannya."