
Meninggalkan para pelayanku di penginapan, aku mulai mengumpulkan informasi dari sekitar sini, selain dungeon aku juga tertarik dengan apa yang terjadi pada wilayah ini khususnya yang sekarang dilakukan orang-orang.
Seorang manusia dengan wajah iblis diikat dengan tali pada tiang kemudian dibakar hidup-hidup di depan semua orang, aku bertanya pada orang yang menonton dengan antusias.
"Apa yang penduduk ini lakukan?"
"Pria itu adalah orang yang mengikat kontrak dengan iblis, kami memberinya hukuman."
Ketika aku bertanya apa yang dia lakukan? Penduduk itu menggelengkan kepala.
"Entahlah, aku hanya datang untuk menonton saja."
Aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih kemudian melanjutkan perjalananku kembali, sebelum seorang kesatria memanggilku dari belakang bersama rombongannya.
"Kau di sana, kau pendatang?"
"Ah iya."
"Kuperingatkan jika kau mengikat kontrak dengan iblis, kami tak segan untuk membunuhmu."
"Aku hanya pelancong biasa, lalu apa yang dilakukan para pengikat kontrak itu?"
Lagi-lagi mereka juga tidak tahu, membunuh seseorang tanpa alasan jelas adalah hal bodoh yang dilakukan umat manusia.
Berbeda dari sebelumnya aku mengutarakan pertanyaan lebih jauh hingga mendapatkan jawabannya setelah memberikan sekantong pelicin berupa uang pada salah satunya.
__ADS_1
Setelah mendengarkannya aku diam di sebuah gang untuk memikirkannya.
Dua tahun yang lalu terjadi wabah bencana alam yang melibatkan sebagian desa terkena dampaknya, mereka menuntut bantuan pada pihak raja kendati demikian bantuan itu tidak pernah datang hingga sekitar 10.000 orang tewas karena kelaparan maupun dimakan hewan buas.
Sebagian orang yang masih hidup mulai menyatukan diri mereka untuk menghancurkan kerajaan ini dengan cara mengikat kontrak dengan iblis dari dunia bawah, hasilnya sampai sekarang perang masih berlanjut.
Untuk membuktikan eksistensi dari kerajaan, tawanan perang dikirim ke berbagai kota di wilayah ini lalu dihukum secara dibakar untuk mempertontonkan hal itu kepada orang-orang yang bersembunyi di kota.
Sungguh sesuatu hal yang tidak manusiawi, orang-orang yang menjual jiwa mereka pada iblis demi keadilan yang mereka inginkan atau orang-orang dari kerajaan yang menutupi dosa mereka dengan melimpahkan kesalahan pada musuh mereka, manakah dari keduanya yang benar? Atau mungkin keduanya memang salah?
Aku tidak tahu.
Hal yang kuketahui hanyalah kerajaan ini akan hancur sebentar lagi dan sampai saat itu tiba aku ingin meninggalkan kerajaan ini secepatnya. Ketika aku keluar dari gang pandanganku menangkap sesuatu yang menarik .
Dia memiliki rambut pirang dan terlihat berumur sekitar 15 tahunan.
"Apa yang kalian lakukan, dia hanya manusia biasa... kenapa dari kalian tidak ada yang menyelamatkannya."
"Dia itu iblis, dia pantas mendapatkannya."
"Lalu apa yang mereka lakukan pada kita?"
Semua orang terdiam.
Para kesatria yang mendengarkan mulai bergerak menerobos kerumunan, di saat yang sama aku berlari kemudian melompat di depan pemuda itu lalu membawanya menjauh.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
"Para kesatria sedang mengejarmu, ikut denganku."
Aku menyeretnya ke dalam sebuah bar di mana di dalamnya dipenuhi para pengunjung yang semuanya pria berotot, kami berdua bersembunyi di bawah meja bartender.
"Maaf nona aku menumpang di sini sebentar."
Para kesatria masuk ke dalam bar kemudian melihat sekitar sebelum akhirnya memutuskan keluar kembali.
"Cari mereka di sana."
"Baik."
Aku maupun pemuda itu keluar dari meja.
"Kau cukup berani saat mencoba melawan mereka."
"Aku hanya ingin menegakkan keadilan."
"Siapa namamu?"
"Theo."
Kurasa kerajaan ini masih memiliki harapan.
__ADS_1