
Di ruangan luas dimana menjadi ruanganku semua istriku tampak tidur terlelap dengan wajah bayinya, demi mereka aku membuat sebuah tempat tidur yang bisa dimasuki kami semua bahkan ada tempat kosong untuk Ristal juga.
Setiap harinya mereka akan bergiliran pindah posisi dan itu cukup membuatku pusing, tak lama kemudian pintu kamarku terbuka dan kulihat sosok Rusina bersandar di sana dengan sembilan ekor di belakangnya.
"Apa kau sudah puas melakukan itu dengan semua istrimu, sekarang ikutlah denganku kita punya masalah."
Ini pertama kalinya Rusina bersikap serius, matanya juga berwarna merah terang.
Apa aku melakukan kesalahan? Mungkinkah aku akan dibunuh olehnya?
Ketika pikiranku dipenuhi hal negatif, Rusina menunjukkan sosok yang sulit kupercayai. Dia tampak terbaring di sofa dengan wajah tidurnya.
"Dia?"
"Aku hendak pergi ke kamar mandi, tapi aku malah bertemu dengannya di sini... apa aku harus membunuhnya?"
"Tenang Rusina dia mungkin tidak berniat bertarung."
"Dia ini raja iblis, sudah berapa orang telah mereka bunuh."
Aku mengelus ke sembilan ekor Rusina hingga ia memerah.
"Kyaaa... curang, kenapa kau memainkan ekorku sekarang."
Rusina selalu pergi berpetualang jadi dia sudah banyak melihat apa saja perbuatan raja iblis sebelumnya, jadi wajar dia sangat marah dengan sosok tersebut.
Aku berjongkok di dekat wanita itu, sosok cantik dengan tanduk melengkung di atas kepalanya, jika berbicara penampilannya dia mengenakan kimono berwarna merah yang sewarna dengan rambut sebahunya. Saat aku mencoba membangunkannya kepalanya menghantam wajahku.
__ADS_1
"Uwaahh, sakit.,"
"Maafkan aku.. aku seharusnya tidak datang kemari."
Rusina melingkarkan tangannya di leher raja iblis itu dengan deretan cakar tajam di setiap jarinya.
"Apa tujuanmu datang kemari?"
"Namaku Queen, aku datang kemari untuk mengajukan perdamaian."
"Perdamaian? Kau pasti bercanda, setelah melakukan banyak hal pada semua orang kau datang untuk keselamatan hidupmu."
"Kau salah paham, aku tidak pernah melukai siapapun."
Aku hanya memperhatikan obrolan mereka berdua.
"Aku tidak mungkin mempercayainya."
"Bagaimana menurutmu Kazuya?"
"Kita beri kesempatan dulu, kalau dia berniat menghancurkan tempat ini dia sudah melakukannya sejak tadi, bukan memilih tidur di sini."
"Jika kau mengatakan itu."
Saat pagi datang kami semua sarapan bersama, semuanya sempat terkejut saat ada raja iblis di masion ini, tapi setelah itu mereka berubah jadi akrab.
"Selly tolong dagingnya."
__ADS_1
"Baik."
Aku benar-benar sangat kagum dengan mereka semua.
Setelah selesai, aku, Rusina dan Queen pergi ke tempat yang ditunjukkannya.
Itu adalah sebuah pemukiman desa yang sekelilingnya terapit pegunungan tinggi, dari atas tebing itu aku bisa melihat berbagai ras iblis melakukan aktivitas seperti manusia biasa.
Ada pria yang baru selesai memancing, ada anak-anak yang saling berlarian dan ada juga para ibu yang terlihat mengambil air di sumur.
"Aku tidak tahu ada tempat seperti ini?" bahkan Rusina juga tidak pernah mengetahuinya.
Kami diajak Queen untuk berjalan mengelilingi desanya, berbagai ras iblis hanya terdiam saat melihat kami melintas.
"Mereka semua takut pada manusia jadi jangan salah paham"
Jadi begitu.
Iblis menyerang manusia dan manusia menyerang iblis hal itu sudah terjadi sejak dulu.
"Aku sama sekali tidak pernah memperluas wilayahku bahkan menyerang manusia, aku berusaha membawa mereka semua untuk hidup damai di sini."
Aku terdiam selagi memikirkannya.
"Apa ada yang salah?"
"Tidak, aku memang penasaran sejak lama... aku sering melawan raja iblis tapi setiap pertarungan mereka tidak pernah memiliki sebuah negara atau rakyat yang mereka lindungi."
__ADS_1
Jawaban Queen sangatlah mengejutkan.
"Itu karena mereka tidak peduli."